POJOKSATU.id — Selama ini banyak orang mengenal IQ atau Intelligence Quotient sebagai tolok ukur kecerdasan seseorang, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan berpikir logis, analitis, dan intelektual.
Namun, selain IQ, terdapat aspek lain yang tidak kalah penting dalam menentukan kualitas seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari, yakni EQ atau Emotional Quotient.
EQ merujuk pada kemampuan seseorang dalam mengenali, memahami, mengelola, serta merespons emosi, baik emosi yang muncul dalam dirinya sendiri maupun perasaan orang lain.
Baca Juga: Football City Battle Resmi Dimulai: Arena Baru Fans Bola Indonesia Adu Gengsi Antar Kota
Seseorang dengan kecerdasan emosional yang baik umumnya lebih mudah menjalin hubungan sosial, menyelesaikan konflik secara sehat, hingga mampu menghadapi tekanan hidup dengan lebih tenang.
Di sisi lain, individu dengan tingkat EQ yang rendah sering menghadapi tantangan dalam mengendalikan emosi maupun memahami kondisi emosional orang di sekitarnya.
Tanpa disadari, kondisi tersebut dapat berdampak pada relasi sosial, performa pekerjaan, hingga kesejahteraan mental seseorang.
Baca Juga: Begini Pemutakhiran Data DTSEN Kemensos dalam Penyaluran Bansos 2026!
Lalu, bagaimana cara mengenali seseorang yang memiliki EQ rendah? Ada sejumlah tanda yang cukup umum terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satunya adalah kesulitan mengontrol emosi. Orang dengan kecerdasan emosional rendah biasanya lebih mudah terpancing perasaan negatif.
Mereka cenderung cepat marah, mudah tersinggung, atau memberikan reaksi berlebihan terhadap persoalan yang sebenarnya tergolong sepele.
Dalam kondisi tertentu, emosi yang tidak stabil ini juga dapat membuat seseorang bertindak secara impulsif dan berujung pada penyesalan.
Baca Juga: Telkom University Buka Lowongan Dosen Batch 2 Tahun 2026, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
Selain itu, rendahnya EQ juga sering ditandai dengan kurangnya empati terhadap orang lain.
Empati sendiri merupakan kemampuan memahami serta merasakan apa yang sedang dialami orang lain secara emosional.
Ketika seseorang memiliki EQ rendah, mereka umumnya kesulitan menangkap atau memahami perasaan orang di sekitarnya.
Akibatnya, respons yang diberikan terkadang terasa kurang tepat, terutama saat orang lain sedang menghadapi masalah, kesedihan, atau tekanan emosional.
Baca Juga: Farhan Klaim Pengamanan Persib vs Persija Berjalan Sukses, 10 Insiden Tertangani
Ciri lainnya adalah sulit menerima kritik.
Tidak sedikit orang yang merasa tidak nyaman saat mendapat masukan, tetapi bagi individu dengan EQ rendah, kritik sering kali dianggap sebagai bentuk serangan pribadi.
Bukannya menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi, mereka justru cenderung defensif, mencari pembelaan, bahkan menyalahkan pihak lain atas situasi yang terjadi.
Orang dengan EQ rendah juga biasanya mengalami kesulitan untuk mengakui kesalahan.
Meminta maaf atau menerima bahwa dirinya keliru menjadi hal yang tidak mudah dilakukan.
Baca Juga: Dua Dekade Mengabdi untuk NKRI, Kisah Serka Imang dari Medan Konflik Aceh ke Teritorial Karawang
Mereka lebih sering mencari alasan pembenar atau melempar tanggung jawab kepada situasi maupun orang lain.
Padahal, kemampuan mengakui kesalahan menjadi salah satu indikator penting dalam kedewasaan emosional.
Kemampuan membaca situasi sosial pun sering kali menjadi tantangan tersendiri.
Baca Juga: DPRD Kota Bandung Soroti Kebocoran Parkir hingga BUMD Merugi, Erick: Harus Ada Gebraka
Bahasa tubuh, ekspresi wajah, hingga nada bicara umumnya menjadi petunjuk penting dalam memahami kondisi emosional seseorang.
Namun, individu dengan EQ rendah kerap kesulitan menangkap sinyal-sinyal tersebut sehingga respons yang diberikan terkadang tidak sesuai dengan suasana yang sedang berlangsung.
Tidak hanya itu, perilaku impulsif juga menjadi salah satu karakteristik yang cukup sering muncul.
Mereka cenderung berbicara atau bertindak tanpa mempertimbangkan dampaknya terlebih dahulu.
Keputusan sering kali diambil berdasarkan emosi sesaat, yang pada akhirnya dapat memicu konflik atau penyesalan.
Dalam hubungan sosial, kondisi ini juga dapat menimbulkan berbagai persoalan.
Ketidakmampuan memahami emosi orang lain membuat hubungan dengan teman, pasangan, keluarga, atau rekan kerja menjadi lebih rentan mengalami konflik dan kesalahpahaman.
Saat menghadapi tekanan, seseorang dengan EQ rendah juga cenderung kesulitan mengelola stres.
Baca Juga: Solar Langka, Ratusan Kapal Nelayan di Kejawanan Cirebon Tak Bisa Melaut
Mereka lebih mudah panik atau merasa kewalahan ketika menghadapi situasi yang menekan.
Bahkan, tidak jarang stres tersebut dilampiaskan dalam bentuk kemarahan atau perilaku negatif lainnya.
Kurangnya kemampuan mendengarkan juga menjadi salah satu tanda yang cukup sering ditemukan.
Orang dengan kecerdasan emosional rendah biasanya lebih fokus menyampaikan pendapatnya sendiri dibanding mencoba memahami sudut pandang orang lain.
Akibatnya, mereka cenderung sering memotong pembicaraan atau tidak benar-benar menyimak lawan bicara.
Di samping itu, mengenali emosi diri sendiri juga bisa menjadi tantangan besar.
Sebagian orang mungkin merasa marah, kecewa, atau sedih tanpa memahami secara jelas apa penyebab utama dari emosi tersebut.
Ketidakmampuan mengenali sumber emosi ini akhirnya membuat seseorang lebih sulit mengendalikan perasaannya.
Meski demikian, memiliki beberapa ciri di atas bukan berarti seseorang secara otomatis memiliki EQ rendah.
Baca Juga: Perubahan Signifikan Jumlah Penerima Manfaat Bansos Kemensos pada Periode Triwulan Kedua Tahun 2026
Kecerdasan emosional bukan sesuatu yang bersifat tetap, melainkan kemampuan yang dapat terus diasah seiring waktu.
Melalui latihan, refleksi diri, serta pengalaman hidup, seseorang tetap dapat meningkatkan kemampuan emosionalnya.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk meningkatkan EQ antara lain belajar menjadi pendengar yang lebih baik, melatih empati terhadap orang lain, mengenali emosi diri sendiri, serta membiasakan diri mengelola stres dengan cara yang lebih sehat.***




