POJOKSATU.id — Stroke ringan atau transient ischemic attack (TIA) kerap dianggap tidak berbahaya karena gejalanya dapat mereda dalam waktu singkat.

Padahal, kondisi tersebut merupakan sinyal peringatan yang tidak boleh diabaikan karena dapat menjadi awal terjadinya stroke yang lebih serius di kemudian hari.

Selain dipengaruhi oleh faktor usia dan riwayat penyakit tertentu, risiko stroke ringan ternyata juga dapat meningkat akibat berbagai kebiasaan sehari-hari yang sering dilakukan tanpa disadari.

Baca Juga: Jepang Naikkan Sayonara Tax Jadi 3.000 Yen Mulai Juli 2026, Biaya Liburan ke Negeri Sakura Bertambah

Gaya hidup yang kurang sehat dalam jangka panjang dapat memengaruhi kondisi pembuluh darah dan meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan aliran darah menuju otak.

Salah satu kebiasaan yang diketahui dapat meningkatkan risiko stroke ringan adalah merokok.

Kandungan zat berbahaya dalam rokok dapat merusak pembuluh darah dan mempercepat penumpukan plak pada arteri.

Baca Juga: Pemutihan Pajak Kendaraan DKI Jakarta 2026 Berlaku hingga Agustus, Begini Cara Bayar Lewat Aplikasi Signal

Selain itu, kebiasaan tersebut juga meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah yang berpotensi menghambat aliran darah menuju otak.

Kurangnya aktivitas fisik juga menjadi faktor yang patut diwaspadai.

Kebiasaan jarang berolahraga dapat memicu berbagai masalah kesehatan.

Baca Juga: Pemutihan Pajak Kendaraan DKI Jakarta 2026 Berlaku hingga Agustus, Begini Cara Bayar Lewat Aplikasi Signal

Mulai dari obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, hingga diabetes.

Berbagai kondisi tersebut merupakan faktor risiko utama yang berkaitan erat dengan terjadinya stroke.

Pola makan yang tidak sehat juga berperan besar terhadap meningkatnya risiko stroke ringan.

Terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, gorengan, serta makanan yang tinggi garam dan lemak dapat menyebabkan tekanan darah dan kadar kolesterol meningkat.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, penyumbatan pembuluh darah dapat terjadi dan meningkatkan risiko gangguan aliran darah ke otak.

Baca Juga: Prospek Jurusan Statistika di Era Data, Dari Data Scientist hingga Ahli Statistik Pemerintahan

Kebiasaan sering begadang dan kurang tidur pun tidak boleh dianggap sepele.

Kurang tidur dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Selain meningkatkan tekanan darah, kebiasaan tersebut juga dapat memicu peradangan yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko stroke.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi dikenal sebagai salah satu penyebab terbesar stroke.

Baca Juga: Program Studi Sistem Informasi, Jurusan Perpaduan Teknologi dan Bisnis yang Dibutuhkan di Era Digital

Namun, banyak orang tidak menyadari bahwa tekanan darahnya sudah berada di atas batas normal karena kondisi tersebut sering kali tidak menimbulkan gejala.

Akibatnya, tekanan darah tinggi tidak terkontrol dan dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke ringan maupun stroke berat.

Di sisi lain, kadar gula darah dan kolesterol yang tidak terkontrol juga dapat merusak pembuluh darah.

Baca Juga: Jurusan Keperawatan, Pilihan Berkarier di Dunia Kesehatan yang Selalu Dibutuhkan

Penderita diabetes dan kolesterol tinggi yang tidak menjaga kondisinya dengan baik memiliki risiko lebih besar mengalami penyumbatan pembuluh darah yang mengganggu pasokan darah menuju otak.

Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan juga diketahui dapat meningkatkan tekanan darah serta memicu gangguan irama jantung.

Kedua kondisi tersebut memiliki kaitan erat dengan meningkatnya risiko stroke.

Tidak hanya itu, stres yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.

Stres berkepanjangan sering kali membuat seseorang menjalani pola hidup yang kurang sehat, seperti makan berlebihan, merokok, hingga kurang tidur.

Kombinasi berbagai kebiasaan tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke.

Baca Juga: Kolong Mobil Eks Ketua BEM UGM Ditempel Alat Pelacak, Langsung Sindir Keras Presiden Prabowo

Bagi penderita hipertensi, diabetes, maupun penyakit jantung, ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter juga dapat menjadi faktor yang memperbesar risiko stroke ringan.

Pengobatan yang tidak dijalankan secara rutin dapat membuat kondisi penyakit tidak terkendali dan memicu berbagai komplikasi yang lebih serius.

Sementara itu, stroke ringan umumnya ditandai dengan gejala yang muncul secara tiba-tiba.

Gejala tersebut antara lain wajah yang tampak mencong atau tidak simetris, salah satu lengan atau kaki yang terasa lemah atau mati rasa, bicara pelo atau sulit berbicara, penglihatan yang mendadak kabur, hingga pusing hebat yang disertai hilangnya keseimbangan.

Meski gejala stroke ringan dapat menghilang dengan sendirinya dalam waktu singkat, kondisi tersebut tetap memerlukan penanganan medis sesegera mungkin.

Pemeriksaan dan penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah terjadinya stroke yang lebih berat serta mengurangi risiko komplikasi yang dapat mengancam keselamatan penderitanya.***