POJOKSATU.id - Vihara Banjar atau Brahmavihara Arama adalah bangunan alkulturasi antara kebudayaan hindu dan budha dalam bentuk bangunan yang memang sengaja mirip Candi Borobudur.
Bangunan mirip Candi Borobudur dalam bentuk mini ini sangat dikenal sebagai ikon dari Vihara Banjar atau Brahmavihara Arama.
Brahmavihara Arama juga bukan hanya tempat untuk persembahyangan dan meditasi bagi umat Buddha, hadirnya bangunan mirip Candi Borobudur menjadi daya tarik Vihara Banjar ini.
Sejak beberapa dekade lalu, bangunan mirip Candi Borobudur di Vihara Banjar ini telah menjadi tujuan wisata populer di Buleleng Bali bagi wisatawan domestik maupun internasional.
Vihara ini dinamai dengan tiga kata, yakni Brahma, Vihara, dan Arama, dan setiap kata memiliki maknanya sendiri.
"Brahma" mengandung makna keagungan, kehormatan, keberlanjutan, dan keagungan.
"Vihara" mencerminkan cara hidup, sementara "Arama" bermakna sebagai suatu tempat.
Jadi, ketika ketiga kata tersebut digabungkan, vihara ini menjadi sebuah tempat untuk mengembangkan diri dan membentuk perilaku hidup yang mulia dan luhur.
Tak hanya semangat akulturasi Hindu dan Budha, Brahmavihara Arama merupakan bangunan yang menggabungkan unsur-unsur arsitektur dari berbagai budaya.
Umumnya gaya bangunan menggabungkan unsur Bali dan Tibet. Di samping itu, patung-patung yang ada di tempat tersebut mengadopsi gaya Thailand.
Vihara ini terletak di di dataran tinggi atau perbukitan Banjar Dinas Tangeb, Banjar Tegeha, Kec. Banjar Buleleng, Kabupaten Buleleng Bali, sekitar 300 meter di atas permukaan laut.
Pembangunan tempat meditasi umat Budha yang mirip Candi Borobudur ini digagas oleh Ida Ketut Jelantik, sastrawan yang bekerja di Kementerian Agama, dan dikembangkan oleh kelompok kebatinan di sekitar Banjar sejak 1956.
Pada tahun 1969, karena jumlah anggota kelompok bertambah, vihara dipindahkan ke wilayah Banjar Dinas Tegeha, tempat vihara saat ini.
Awalnya, vihara ini hanya memiliki lahan seluas 30 are saja dan sisanya adalah perkembunan. Tapi seiring waktu, Vihara Banjar terus berkembang.
Baca Juga: Baru Tahu, Mahamevnawa Dubai Satu-satunya Vihara di Jazirah Arab, Lokasinya Ada di Sini
Sejak diresmikan pada tahun 1971, luas area Brahmavihara Arama kini mencapai sekitar 10 hektare.
Meskipun terus berkembang, vihara ini tetap mempertahankan arsitektur Bali dalam setiap ornamen bangunannya.
Mulai dari gapura pintu masuk, Dharmasala atau tempat pemujaan utama, stupa, hingga pagoda avalokitesvara, semua mempertahankan ciri khas Budha.
Bahkan, stupa di ujung barat vihara memiliki keunikan dengan peninggalan barang pribadi Dalai Lama XIV, pemimpin tertinggi Budha Tibet, yang pernah mengunjungi Brahmavihara Arama pada tahun 1982.
Selain tempat ibadah dan meditasi, Brahmavihara Arama juga menyediakan tempat tinggal bagi umat yang ingin mengikuti program meditasi, yang banyak diikuti peserta dari dalam dan luar negeri.
Brahmavihara Arama ditetapkan sebagai objek wisata spiritual oleh Pemkab Buleleng pada tahun 1973.
Vihara ini kini menerima rata-rata 200-400 kunjungan wisatawan setiap harinya, yang jumlahnya meningkat saat libur atau Imlek.
Ini karena kecantikan bangunan ini tidak hanya terletak pada keunikan arsitekturnya, melainkan juga pada pesona alam yang mengitarinya.
Disanalah, indahnya akulturasi dua agama Budha dan Hindu, serta gaya arsitektur lokal Bali, Tibet dan Thailand saling melengkapi dan saling menyempurnakan.***




