POJOKSATU.id - Self harm adalah isu mental yang serius dan kompleks. Banyak orang masih meremehkannya sebagai drama remaja, padahal ini bisa menjadi bentuk pelampiasan emosi yang dalam.

Memahami tanda-tanda self-harm dan bagaimana mendekati seseorang dengan aman sangat penting untuk memberikan dukungan yang benar dan efektif.

Self harm adalah perilaku menyakiti diri sendiri sebagai cara menangani tekanan emosional yang sulit dikelola.

Baca Juga: Empat Jurusan Teknik Paling Dicari 2025, dari Sipil hingga Perminyakan, Masa Depan Ada di Tangan Insinyur

Ini bisa berupa sayatan, membakar kulit, menarik rambut, atau memukul tubuh sendiri.

Ada berbagai jenis self harm yang mungkin dilakukan, dari perilaku ringan hingga yang lebih berulang.

Salah satu bentuk self harm adalah non suicidal self injury (NSSI), yaitu melukai diri tanpa niat bunuh diri.

Meskipun bukan diagnosis gangguan mental tersendiri, NSSI tetap merupakan perilaku berisiko yang memerlukan perhatian dan tindakan tepat.

Baca Juga: Dampak Jangka Panjang Jika Iuran BPJS Kesehatan Tak Naik vs Jika Dinaikkan, Perspektif Pengguna dan Rumah Sakit

Penyebab dan Faktor Pemicu Self Harm

Ada banyak faktor yang bisa menjadi pemicu perilaku self harm.

Berdasarkan penelitian di Indonesia, regulasi emosi yang lemah, pola asuh orang tua, dan hubungan pertemanan yang negatif menjadi faktor penting.

Selain itu, tekanan sosial dan beban akademik juga dapat menjadi pemicu, terutama pada remaja.

Gangguan mental seperti depresi juga sering berkaitan dengan self harm.

Depresi bisa menimbulkan perasaan putus asa yang kemudian melahirkan ide atau tindakan menyakiti diri.

Baca Juga: Jadwal Ujian Susulan TKA SMA 2025 Digelar 17–23 November, Tak Bisa Langsung oleh Siswa, Hasil TKA Tetap Diumumkan Januari 2026

Selain itu, kecemasan pun memiliki korelasi dengan perilaku self-harm pada remaja.

Tidak hanya itu, generasi Z melakukan self harm sebagai media ekspresi emosi yang sulit disampaikan.

Di sisi keluarga, pola asuh juga memberi pengaruh, di mana pola asuh tertentu bisa meningkatkan risiko self harm.

Tanda-Tanda Seseorang Mungkin Melakukan Self Harm

Untuk bisa mendekati dengan bijak, penting mengenali sinyal self harm.

Beberapa tanda fisik bisa terlihat, seperti luka sayatan, memar yang berulang, atau bekas luka lama yang tersembunyi.

Baca Juga: Breakout Setelah Pakai Produk Baru? Ini Cara Bedakan Purging vs Iritasi!

Selain perubahan fisik, perubahan perilaku dan emosi juga adalah indikator kuat.

Misalnya, seseorang bisa jadi menarik diri, sering merasa sedih, atau tiba-tiba memiliki mood yang sangat fluktuatif.

Ungkapan verbal atau tulisan juga bisa menunjukkan keinginan melukai diri.

Bila seseorang sering menulis hal-hal yang mencerminkan rasa putus asa, kelelahan emosional, atau keinginan melukai diri sendiri, ini bisa menjadi alarm.

Kesalahpahaman Umum tentang Self Harm

Salah satu kesalahpahaman paling umum adalah menganggap self harm sebagai drama atau cara mencari perhatian.

Baca Juga: Apa Itu KRIS dan Kenapa BPJS Kesehatan Mengganti Sistem Kelas Lama? Simak Penjelasan Berikut!

Padahal, banyak orang yang melukai diri sendiri melakukan itu dalam diam dan tidak pernah ingin dilihat oleh orang lain.

Self harm bukan sekadar pencarian emosi, melainkan bisa menjadi mekanisme coping yang serius.

Perlu juga diluruskan bahwa self harm tidak selalu identik dengan upaya bunuh diri.

Meskipun demikian, keduanya terkadang bisa saling terkait.

Memahami perbedaan ini krusial supaya respon dan dukungan yang diberikan lebih tepat dan empatik.

Baca Juga: Panduan Resmi: Cek Hasil dan Unduh Sertifikat Tes Kemampuan Akademik SMA 2025 dengan Mudah

Cara Mendekati Seseorang yang Diduga Melakukan Self Harm

Mendekati orang dengan self harm harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh empati.

Pertama, penting untuk membuka percakapan tanpa menghakimi.

Pendekatan netral yang menekankan perasaan, bukan tindakan, dapat membuat seseorang merasa didengar dan dihargai.

Memberikan dukungan tanpa tekanan juga sangat penting.

Alih-alih menuntut perubahan, sebaiknya tawarkan ruang aman untuk berbicara.

Teman atau saudara bisa menyatakan kesediaan mendengarkan kapanpun diperlukan.

Baca Juga: HUT Brimob ke-80: Banten Tegaskan Siaga Total Jaga Keamanan Daerah

Saat berbicara, bisa ditawarkan bantuan untuk mencari pertolongan profesional seperti psikolog atau psikiater.

Menyampaikan bahwa terapi bisa membantu mengelola emosi dan melatih skill coping bisa menjadi poin awal yang lembut dan efektif.

Hal yang Harus Dihindari saat Menghadapi Pelaku Self Harm

Ada beberapa hal sensitif yang sebaiknya dihindari.

Tidak bijak untuk menghakimi atau menyalahkan.

Kalimat seperti “kenapa galak-galak terus” atau "udah dewasa kok yakinkan diri sendiri” justru bisa memperdalam rasa bersalah atau malu.

Juga penting untuk tidak berjanji menyembunyikan self harm jika itu berarti seseorang dalam risiko serius.

Dalam beberapa situasi, keselamatan harus jadi prioritas utama, dan mungkin perlu dibicarakan bahwa batas kerahasiaan akan ditembus demi melindungi nyawa.

Baca Juga: Penyesuaian SNPMB 2026, Simak Aturan TKA di Jalur SNBP hingga Aturan Baru UTBK

Upaya Pencegahan dan Dukungan Lingkungan

Society memainkan peran penting dalam pencegahan self harm.

Sekolah dan keluarga dapat menciptakan ruang aman di mana remaja bebas mengekspresikan emosi tanpa takut dihakimi.

Dengan pendidikan kesehatan mental yang rutin, stigma bisa dikurangi dan pemahaman tentang self harm meningkat.

Membangun keterampilan coping yang sehat juga krusial.

Teknik seperti menulis jurnal, meditasi, aktivitas fisik, atau ekspresi lewat seni bisa menjadi alternatif pelampiasan emosi yang lebih aman.

Baca Juga: Persiapan Bekerja ke Luar Negeri, Bahasa Asing Masuk Kurikulum SMA-SMK 2026, Terutama Bidang Kesehatan

Dukungan psikososial, seperti konseling atau kelompok peer support, juga sangat bermanfaat.

Self-harm bukan sekadar drama, bisa jadi ini adalah sinyal emosi yang dalam dan seringkali merupakan refleksi luka batin yang perlu ditangani dengan serius.

Menyadari tanda-tandanya, memahami penyebabnya, dan memberikan dukungan yang aman adalah langkah penting untuk membantu seseorang pulih.

Masyarakat bisa berkontribusi dengan menciptakan lingkungan yang empatik dan fasilitatif.

Baca Juga: Banyak Dicari, Ini Jadwal Libur Akhir Tahun 2026 dan Jadwal UTS-PTS 2025-2026, Panduan untuk Orang Tua dan Siswa

Jika menemukan teman atau saudara yang menunjukkan sinyal self harm, membuka ruang bicara dan mengajak ke tenaga profesional bisa menjadi langkah awal yang menyelamatkan. ***