POJOKSATU.id - Diet intermittent selama ini dikenal sebagai salah satu metode populer untuk menurunkan berat badan.
Namun penelitian terbaru menunjukkan manfaat pola makan ini ternyata lebih kompleks dari yang selama ini dipahami.
Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2023 menemukan bahwa intermittent diet atau intermittent energy restriction (IER) tidak hanya membantu mengurangi berat badan, tetapi juga mampu mengubah aktivitas otak dan hubungan antara otak dengan bakteri usus.
Temuan tersebut membuka pemahaman baru mengenai bagaimana pola makan dapat memengaruhi perilaku makan, pengendalian diri, hingga dorongan untuk mengonsumsi makanan tertentu.
Baca Juga: Pemko Medan Cari Solusi Kemasan Mahal Agar UMKM Naik Kelas dan Tembus Ekspor
"Di sini kami menunjukkan bahwa diet IER mengubah poros otak-usus-mikrobioma manusia," ujar peneliti dari Institut Manajemen Kesehatan Rumah Sakit Umum PLA di Beijing, Qiang Zeng.
Ia menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi pada mikrobioma usus dan aktivitas otak selama proses penurunan berat badan berlangsung secara dinamis dan saling memengaruhi satu sama lain.
"Perubahan yang diamati pada mikrobioma usus dan aktivitas di wilayah otak yang terkait dengan kecanduan selama dan setelah penurunan berat badan sangat dinamis dan saling terkait dari waktu ke waktu," katanya.
Baca Juga: Saham Strategy Ambruk 15 Persen dalam 5 Hari, Efek Jual Bitcoin dan Harga BTC Terjun Bebas
Melibatkan Peserta dengan Obesitas
Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan mempelajari 25 orang dewasa dengan obesitas di China.
Rata-rata peserta berusia 27 tahun dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) berkisar antara 28 hingga 45.
Para peneliti melakukan berbagai pemeriksaan mulai dari analisis sampel tinja, tes darah, hingga pemindaian otak menggunakan teknologi functional magnetic resonance imaging (fMRI).
Melalui metode tersebut, para ilmuwan dapat mengamati aktivitas sejumlah area otak yang berhubungan dengan nafsu makan, emosi, perhatian, proses belajar, pengendalian diri, dan sistem penghargaan.
Baca Juga: Saham Strategy Ambruk 15 Persen dalam 5 Hari, Efek Jual Bitcoin dan Harga BTC Terjun Bebas
Program Diet Selama Dua Bulan
Penelitian dimulai dengan fase puasa terkontrol tinggi selama 32 hari.
Pada tahap ini, peserta mengonsumsi makanan yang telah disusun oleh ahli gizi dengan jumlah kalori yang secara bertahap dikurangi hingga hanya sekitar seperempat dari kebutuhan energi dasar harian.
Setelah itu, peserta memasuki fase puasa terkontrol rendah selama 30 hari berikutnya.
Mereka diberikan panduan makanan tertentu dengan asupan sekitar 500 kalori per hari untuk perempuan dan 600 kalori per hari untuk laki-laki.
Baca Juga: Kabar Baik untuk Orang Tua, 103 Sekolah Swasta Gratis Siap Tampung Siswa yang Tak Lolos Negeri
Hasilnya cukup signifikan.
Rata-rata berat badan peserta turun sekitar 7,6 kilogram atau setara 7,8 persen dari berat badan awal mereka.
Tak hanya itu, sejumlah indikator kesehatan metabolik juga menunjukkan perbaikan.
Kadar glukosa darah menurun, kolesterol total membaik, dan tekanan darah peserta ikut mengalami penurunan.
Aktivitas Otak Ikut Berubah
Temuan paling menarik dari penelitian ini adalah perubahan yang terjadi pada aktivitas otak.
Para peneliti menemukan adanya penurunan aktivitas di beberapa wilayah otak yang berkaitan dengan nafsu makan serta perilaku yang berhubungan dengan kecanduan.
Perubahan tersebut memberikan gambaran bahwa diet intermittent tidak sekadar memengaruhi ukuran tubuh, tetapi juga memengaruhi cara otak mengendalikan keinginan makan.
Dengan kata lain, pola makan ini dapat membantu seseorang mengontrol dorongan untuk makan berlebihan serta meningkatkan kemampuan menahan keinginan terhadap makanan tertentu.
Bakteri Usus Berperan Penting
Selain aktivitas otak, para ilmuwan juga menemukan perubahan besar pada komposisi mikrobioma usus.
Beberapa jenis bakteri baik seperti Faecalibacterium prausnitzii, Parabacteroides distasonis, dan Bacteroides uniformis mengalami peningkatan signifikan selama program berlangsung.
Sebaliknya, jumlah bakteri E.coli mengalami penurunan.
Peneliti juga menemukan hubungan antara beberapa bakteri usus dengan area tertentu di otak yang berperan dalam pengambilan keputusan dan kemauan seseorang saat menjalani proses penurunan berat badan.
Baca Juga: Beasiswa Bojonegoro 2026 Tahap 2 Dibuka Agustus, Mahasiswa S1 dan D4 Bisa Ajukan Bantuan Pendidikan
Wilayah otak yang disebut girus frontal inferior orbital kiri diketahui memiliki kaitan dengan fungsi eksekutif, termasuk kemampuan mengendalikan diri dan mempertahankan komitmen terhadap tujuan tertentu.
Temuan ini semakin memperkuat teori bahwa kesehatan usus dan kesehatan otak memiliki hubungan yang jauh lebih erat daripada yang selama ini diperkirakan.
Potensi Baru dalam Pengobatan Obesitas
Hasil penelitian tersebut membuka peluang baru dalam pengembangan strategi penanganan obesitas di masa depan.
Dengan memahami hubungan antara pola makan, mikrobioma usus, dan aktivitas otak, para ilmuwan berharap dapat merancang metode yang lebih efektif untuk membantu seseorang mengontrol berat badan secara berkelanjutan.
Baca Juga: Buruan Daftar! Beasiswa Jateng 2026 untuk Santri dan Pengasuh Pesantren Segera Ditutup
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa masih diperlukan studi lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar untuk memastikan temuan ini dapat diterapkan secara luas.
Tubuh manusia ternyata bekerja jauh lebih rumit daripada sekadar menghitung kalori yang masuk dan keluar.
Apa yang kita makan setiap hari tidak hanya memengaruhi angka di timbangan, tetapi juga memengaruhi cara otak berpikir, merasakan, dan mengendalikan keinginan.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa menjaga pola makan sehat bukan hanya soal penampilan, melainkan juga investasi jangka panjang bagi kesehatan tubuh dan pikiran.***




