POJOKSATU.id — Upselling merupakan strategi sederhana yang mampu memberikan dorongan signifikan terhadap peningkatan omzet bagi pelaku UMKM makanan.
Cara kerja teknik ini sebenarnya sangat ringan, pemilik usaha hanya perlu menawarkan produk dengan nilai sedikit lebih tinggi.
Namun, tetap relevan dengan pesanan pelanggan dan memberi manfaat tambahan.
Dengan begitu, pembeli merasa memperoleh keuntungan lebih, sementara pemilik usaha mendapatkan pemasukan yang lebih besar dari transaksi yang sama.
Dalam praktiknya, upselling dapat diterapkan di berbagai jenis bisnis kuliner.
Mulai dari usaha rumahan, kedai kecil, hingga penjualan makanan secara online.
Misalnya, menawarkan porsi lebih besar sering menjadi cara paling ampuh karena pelanggan biasanya tidak keberatan mengeluarkan sedikit tambahan biaya untuk mendapatkan porsi jumbo, super, atau ekstra lauk.
Selain itu, paket hemat atau bundling menu juga menjadi strategi klasik yang hampir selalu berhasil, terutama ketika harga paket lebih menguntungkan dibandingkan pembelian satuan.
Pilihan topping tambahan pun dapat meningkatkan nilai transaksi.
Topping seperti keju, telur, sambal, jelly, atau saus premium bukan hanya menambah nilai jual, tetapi juga membuat pengalaman makan lebih personal bagi pelanggan.
Hal yang tidak kalah efektif adalah penambahan label seperti “Best Seller” atau “Paling Laris” pada menu tertentu.
Sentuhan visual sederhana ini sering kali membuat pelanggan lebih yakin memilih menu tersebut karena dianggap lebih aman dan enak.
Teknik upselling yang paling mudah dilakukan adalah menawarkan minuman pendamping, terutama di warung makan cepat saji.
Penawaran es teh atau minuman lain dengan harga tambahan kecil biasanya diterima tanpa banyak pertimbangan.
Selain itu, situasi jam sibuk juga bisa dimanfaatkan karena saat antrean ramai, pelanggan cenderung lebih cepat mengambil keputusan sehingga penawaran tambahan lauk atau topping promo menjadi lebih efektif.
Foto menu yang menarik dan menggugah selera juga mampu mendorong pelanggan untuk memilih varian yang lebih mahal.
Foto yang rapi, cerah, dan menampilkan porsi lebih lengkap secara tidak langsung mengarahkan pelanggan untuk memilih menu dengan nilai lebih tinggi.
Bagi bisnis makanan, menghadirkan versi premium lewat tambahan bahan seperti mozzarella, smoked beef, atau saus mentai pun dapat membuat pelanggan naik kelas pesanan karena selisih biaya produksi relatif kecil tetapi nilai jualnya meningkat.
Teknik lain yang sering digunakan adalah strategi decoy effect, yakni menyediakan tiga pilihan ukuran atau porsi.
Teknik ini merupakan opsi tengah dirancang sebagai pilihan paling masuk akal.
Baca Juga: PPPK Belum Setahun Kerja Tetap Kantongi Gaji ke-13, Ini Syarat Resmi dan Rumus Pembayarannya
Pelanggan pun cenderung memilihnya secara natural. Mengatur navigasi menu juga berpengaruh besar.
Menu yang diletakkan di bagian atas atau sisi kanan biasanya lebih cepat terbaca sehingga meningkatkan peluang dipilih.
Tidak hanya itu, memberikan gratisan kecil seperti sambal, kerupuk, atau topping sederhana ketika pelanggan melakukan upgrade menu juga terbukti efektif.
Pelanggan merasa mendapat bonus, sementara nilai jual tetap meningkat. Penjelasan logis mengenai manfaat tambahan.
Misalnya rasa lebih gurih atau paket lebih hemat juga membuat upselling terasa natural dan tidak memaksa.
Begitu pula dengan promo berbatas waktu yang menciptakan urgensi sehingga pelanggan terdorong memanfaatkan kesempatan.
Yang paling penting, upselling harus tetap relevan dengan pesanan pelanggan.
Baca Juga: Soal Bandara IMIP Luhut Bilang Saya Cuma Izin Domestik! Ya Terus Internasionalnya Darimana, Pak?
Jika seseorang membeli kopi, misalnya, tawarkan pastry atau camilan sebagai pendamping, bukan menu yang tidak berkaitan.
Dengan menerapkan berbagai teknik sederhana namun strategis ini, UMKM makanan dapat meningkatkan omzet harian secara konsisten tanpa harus menambah modal besar.***




