Dalam penelitian, terungkap bahwa tumbuhan seperti pohon, tanaman kacang-kacangan, dan bunga dapat menghasilkan getaran yang halus ketika terkena angin atau sentuhan.
Baca Juga: Lestarikan Musik Tradisional, Srikandi Ganjar Gelar Pertunjukan Musik Calung di Kota Bandung
Meskipun getaran ini mungkin tidak terdengar oleh telinga manusia, teknologi seperti mikrofon dan pengeras suara dapat membantu kita mendengarkan musik yang dihasilkan oleh tumbuhan.
Memang cara tumbuhan bermain musik di sini tidak sama dengan interpretasi manusia.
Namun, fakta bahwa tumbuhan dapat merespons lingkungan mereka dengan gerakan dan suara telah menarik perhatian bagi para ilmuan danseniman.
Dengan bantuan teknologi, beberapa seniman bahkan telah menggunakan data getaran tumbuhan untuk membuat komposisi musikal yang unik.
Baca Juga: Bakal Hadir dengan Fitur Video Musik, Spotify Bakal Saingi YouTube Music?
Teknologi telah mencapai tingkat yang mengagumkan, di mana tumbuhan dapat menjadi sumber inspirasi untuk penciptaan musik.
Melalui teknik-teknik inovatif, para ilmuan dan seniman telah berhasil mengubah respons biologis tumbuhan menjadi komposisi musikal yang unik dan menakjubkan.
Kalau dulu John Lennon pernah bilang "musik untuk semua manusia", hari ini, ungkapan itu bisa kita poles dengan sedikit mengubah kata-katanya, "musik untuk semua makhluk".
Baca Juga: MPLS SMPN 14 Bandung Meriah Diiringi Musik Tradisional dan Budaya
Tercatat sejak tahun 1970-an, di Italia, ilmuan, dokter, peneliti, dan seniman telah mengembangkan perangkat yang dapat menerjemahkan impuls elektromagnetik tanaman menjadi musik.
Kemudian pada tahun 1976, Mort Garson, seorang komponis yang juga pelopor musik elektronik merilis album berjudul Mother Earth's Plantasia.
Sebuah album yang di dalamnya berisi musik khusus untuk didengarkan oleh tumbuhan. Ia menggunakan alat bernama Synthetizer Moog untuk menyusun album yang kemudian menjadi inspirasi musik elektronik dan tumbuhan.
Baca Juga: Ganjar Creasi Adakan Festival Musik Al Banjari di Kabupaten Malang
Beberapa kelompok ilmuan yang bekerja sama dengan perusahan terus mengembangkan risetnya.
Salah satunya adalah Music Of the Plants. Mereka telah berhasil menciptakan perangkat yang bisa menangkap sinyal elektromagnetik dari tumbuhan dan langsung diterjemahkan menjadi suara musik.
Cara kerja sederhananya seperti kita memasang earphone pada ponsel. Nyalakan perangkatnya, sambungkan kabel elektroda pada tumbuhan, kemudian nikmati musik yang dikeluarkan dari perangkat tersebut. Wadidaaaw.
Penyajian musik khusus untuk tumbuhan yang diciptakan para ilmuan itu nampaknya juga memengaruhi seniman-seniman di Indonesia.
Baca Juga: Santri Dukung Ganjar Gelar Festival Selawat dan Musik Islami di Kota Malang
Ada Boottlesmoker, duo seniman musik elektronik Indonesia yang banyak mengahasilkan karya dan meraih beragam penghargaan di dalam dan luar negeri.dalam dan luar negeri.
Duo seniman ini mengeksplorasi dan mengikuti riset musik tumbuhan. Mereka menciptakan instrumen dengan pola-pola musik yang bervariasi.
Ide-ide itu sudah beberapa kali mereka tuangkan ke dalam sebuah pertunjukan konser musik tumbuhan. Gokiiiil.
Selain Bootllesmoker, masih ada kelompok seniman lain seperti Gema Gulma. Dengan berbekal jurnal-jurnal dan perangkat-perangkatnya, mereka terus bereksperimen dengan tumbuhan yang bermusik.
Metode-metode para seniman itu pada dasarnya melibatkan pemasangan sensor pada tumbuhan untuk mendeteksi kondisi lingkungan sekitarnya, seperti kadar air, suhu, atau cahaya.
Baca Juga: OMG Sulteng Peduli Seni Musik dan Siap Bergerilya Jadikan Ganjar Presiden
Ketika tumbuhan merespon faktor-faktor ini, data sensor diubah menjadi sinyal elektronik. Selanjutnya, diubah menjadi nada, ritme, atau suara lain yang menciptakan musik.
Suasana musik yang dihasilkannya beragam, tergantung keadaan lingkungan di sekitar kita dan kualitas hidup tumbuhan itu sendiri.
Bisa dibayangkan, akan terdengar seperti apa ketika udara di sekitar kita tercemar? Waduh.
Meskipun tidak seperti struktur musik yang diciptakan manusia, tumbuhan juga makhluk hidup yang memiliki kepekaan.
Laiknya seniman, mereka merespon keadaan lingkungan di sekitarnya yang kemudian suasana itu bisa diterjemahkan ke dalam musik.***



