POJOKSATU.id, DI era digital seperti sekarang, gadget sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak.

Namun, pertanyaannya: kapan sebenarnya anak boleh mulai menggunakan ponsel? Orang tua sebaiknya memahami waktu yang tepat dan cara mengawasinya untuk meminimalisir dampak negatifnya.

Penggunaan smartphone memang memiliki sisi positif, terutama jika digunakan untuk tujuan edukasi.

Namun, penggunaan yang berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik, mental, hingga kehidupan sosial anak.

Baca Juga: KUNCI JAWABAN Latihan Pemahaman Modul 3 Pembelajaran Mendalam dan Asesmen Topik 1 PPG Guru Tertentu 2025 Tahap 2 Plus Cerita Reflektif

Penelitian menunjukkan, anak yang terlalu sering bermain gadget berisiko mengalami keterlambatan perkembangan, gangguan tidur, kecanduan, bahkan menurunnya kemampuan berinteraksi sosial.

Kapan Waktu yang Tepat Anak Menggunakan HP?

Idealnya, anak mulai mengenal dan menggunakan HP saat memasuki usia remaja, dengan pengawasan ketat dan tujuan edukatif.

Sebelum itu, gadget sebaiknya hanya digunakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah diatur.

Baca Juga: UNIK, UIBU Sambut Mahasiswa Baru dengan Nasi Pecel Mendol, Suasana Hangat Penuhi Kampus

Berikut rekomendasi durasi penggunaan gadget berdasarkan usia:

1. Bayi di bawah 2 tahun

Tidak disarankan menggunakan HP sama sekali, kecuali untuk video call dengan keluarga.

Interaksi langsung lebih penting untuk perkembangan mereka.

2. Anak usia 2–5 tahun

Batasi maksimal 1 jam per hari dengan pendampingan orang dewasa. Pilih konten edukatif yang sesuai.

3. Anak usia 6–12 tahun

Maksimal 2 jam per hari di luar waktu belajar. Pastikan keseimbangan dengan aktivitas fisik dan sosial.

4. Remaja usia 13–17 tahun

Perlu lebih banyak waktu digital untuk belajar dan berkomunikasi, namun tetap beri batasan jelas agar tidak kecanduan.

Baca Juga: Prodi Sosiologi USK Gelar Pelatihan Penulisan Buku Ajar untuk Dosen Muda

Dampak Negatif Penggunaan Gadget Berlebihan pada Anak

1. Keterlambatan Bicara dan Bahasa Anak belajar berbicara dari interaksi langsung.

Jika terlalu banyak waktu di depan layar, risiko keterlambatan bicara meningkat hingga 49% setiap tambahan 30 menit waktu layar.

2. Gangguan Konsentrasi

Kebiasaan bermain gadget terlalu lama dapat memicu ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang membuat anak sulit fokus dan mudah gelisah.

3. Kesulitan Belajar

Kurangnya interaksi langsung dengan lingkungan bisa menghambat perkembangan kognitif dan kemampuan belajar anak.

4. Kecemasan (Anxiety)

Anak yang terbiasa terus-menerus memegang gadget sering merasa gelisah atau marah ketika tidak bisa menggunakannya.

Baca Juga: Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri 2025, BUMN Tegaskan Kolaborasi Riset dan Industri, Dorong Riset Kampus Jadi Solusi

5. Depresi pada Anak

Penggunaan gadget berlebihan dapat memicu suasana hati buruk, menarik diri, bahkan depresi jangka panjang.

6. Pengaruh Buruk pada Karakter Anak

Paparan konten tidak sesuai usia bisa memengaruhi nilai moral dan membuat anak cepat dewasa sebelum waktunya.

Tips Mengontrol Penggunaan Gadget pada Anak

-Gunakan aplikasi kontrol orang tua untuk membatasi interaksi dan konten.

-Larang anak mengunduh game atau aplikasi tanpa izin.

-Pertimbangkan memberi telepon biasa, bukan smartphone, pada usia dini.

-Jadilah teladan dalam penggunaan HP.

-Tetapkan batas waktu harian.

-Monitor penggunaan ponsel anak secara rutin.

-Ketahui kata sandi perangkat mereka.

-Ambil ponsel setidaknya satu jam sebelum tidur.

-Edukasi anak tentang bahaya konten negatif.

Baca Juga: FAKTA BAHASA: Ini Daftar Kata yang Sering Salah Tulis, Kamu Sudah Benar Belum?

Menjaga keseimbangan penggunaan gadget pada anak memang bukan perkara mudah. Tapi dengan batasan yang jelas, pengawasan penuh, dan komunikasi yang hangat, teknologi bisa menjadi teman, bukan ancaman.

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

Ingat, yang terpenting bukan hanya kapan anak mulai memegang ponsel, tapi bagaimana kita membimbingnya agar tumbuh sehat, cerdas, dan siap menghadapi tantangan di dunia digital. ***