POJOKSATU.id - Salah satu syarat sah puasa Ramadhan adalah niat.
Dalam pandangan mayoritas ulama selain Malikiyyah, niat puasa wajib diperbarui setiap malam selama bulan Ramadhan.
Namun, mazhab Maliki memiliki pendapat berbeda.
Baca Juga: Perpaduan Arsitektur Budaya di Masjid Agung Banten, Jejak Sejarah yang Tetap Berdiri Kokoh
Menurut ulama Malikiyyah, niat puasa Ramadhan cukup dilakukan sekali pada malam pertama untuk mencakup satu bulan penuh, karena puasa Ramadhan dipandang sebagai satu kesatuan ibadah yang dilakukan secara terus-menerus.
Pendapat Mazhab Maliki tentang Niat Sekali untuk Sebulan
Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi, salah satu pakar fiqih mazhab Maliki, menjelaskan:
ـ (وكفت نية لما يجب تتابعه) اللخمي: أما ما تجب متابعته كرمضان وشهري الظهار وقتل النفس ومن نذر شيئا بعينه ومن نذر متابعة ما ليس بعينه فالنية في أوله لجميعه تجزئه.
“Dan cukup niat sekali untuk puasa yang wajib dilakukan secara terus-menerus. Imam al-Lakhmi mengatakan, adapun puasa yang wajib dilakukan terus-menerus seperti Ramadhan, dua bulan puasa dhihar, puasa denda pembunuhan, orang yang bernazar puasa pada hari tertentu, orang yang bernazar terus-menerus berpuasa yang tidak ditentukan harinya, maka niat di awal mencukupi untuk keseluruhannya.”
Baca Juga: 10 Film Drama Indonesia Penuh Makna, Siap Bikin Hati Bergetar dan Banjir Air Mata
Pendapat ini bisa menjadi solusi antisipasi jika seseorang lupa melafalkan niat di malam hari.
Dengan berniat di awal Ramadhan untuk satu bulan penuh, puasa tetap sah meskipun suatu hari lupa memperbarui niat.
Tetap Dianjurkan Niat Setiap Hari
Meski demikian, KH A. Idris Marzuqi dalam kitab Sabil al-Huda menegaskan bahwa membaca niat puasa sebulan penuh bukan berarti tidak perlu berniat setiap hari.
Baca Juga: Jejak Islam dan Harmoni Budaya di Kabupaten Kudus, Kota Kretek dan Kota Santri
“Untuk berjaga-jaga agar puasa tetap sah ketika suatu saat lupa niat, sebaiknya pada hari pertama bulan Ramadhan berniat taqlid (mengikut) pada Imam Malik yang memperbolehkan niat puasa Ramadhan hanya pada permulaan saja. Dan adanya cara tersebut bukan berarti membuat kita tidak perlu lagi niat di setiap harinya, tetapi cukup hanya sebagai jalan keluar ketika benar-benar lupa,” (Sabil al-Huda, hal. 51).
Karena itu, tokoh agama tetap dianjurkan mengajak masyarakat membaca niat puasa setiap malam, terutama setelah shalat tarawih.
Niat sebulan penuh hanya berfungsi sebagai langkah kehati-hatian.
Baca Juga: Jejak Islam dan Harmoni Budaya di Kabupaten Kudus, Kota Kretek dan Kota Santri
Lafal Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh
Berikut lafal niat puasa Ramadhan satu bulan penuh menurut mazhab Maliki:
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيْدًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti Imam Malik, fardhu karena Allah.”
Perbedaan dengan Puasa yang Boleh Dipisah
Mazhab Maliki membedakan antara puasa yang wajib dilakukan terus-menerus tanpa jeda dan puasa yang boleh dipisah.
Puasa Ramadhan termasuk kategori pertama, sehingga dihukumi satu kesatuan.
Berbeda dengan qadha Ramadhan, puasa saat safar, kafarat sumpah, atau fidyah, yang boleh dipisah waktunya.
Ibnu Rusydi menjelaskan:
ابن رشد: وأما ما كان من الصيام يجوز تفريقه كقضاء رمضان وصيامه في السفر وكفارة اليمين وفدية الأذى فالأظهر من الخلاف إذا نوى متابعة ذلك أن تجزئه نية واحدة يكون حكمها باقيا وإن زال عينها ما لم يقطعها بنية الفطر عامدا، وأما ما لم ينو متابعته من ذلك فلا خلاف أن عليه تجديد النية لكل يوم.
Artinya, untuk puasa yang boleh dipisah seperti qadha Ramadhan dan kafarat, jika diniatkan untuk dilakukan terus-menerus, maka satu niat bisa mencukupi menurut pendapat yang lebih kuat di kalangan Malikiyyah. Namun jika tidak diniatkan berkelanjutan, maka wajib memperbarui niat setiap malam.
Baca Juga: Heboh Dunia Medis! dr Piprim Akhirnya Mengaku Dipecat Menkes, Ungkap Alasan yang Bikin Heboh
Perbedaan pandangan ini menunjukkan keluasan khazanah fiqih Islam.
Umat diberi kemudahan tanpa mengabaikan kehati-hatian dalam beribadah.
Pada akhirnya, yang terpenting bukan sekadar lafaz, tetapi kesungguhan hati dalam menjalankan puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.***




