POJOKSATU.id - Seorang perempuan yang tengah haid tidak diperbolehkan berpuasa di bulan Ramadhan.
Sebagai konsekuensinya, ia wajib mengganti atau qadha puasa sebanyak hari yang ditinggalkan setelah Ramadhan usai.
Haid merupakan siklus bulanan yang dialami perempuan. Ketika darah haid telah berhenti, maka seorang muslimah diwajibkan mandi janabah atau mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar sebelum kembali melaksanakan salat, puasa, dan ibadah lainnya.
Rukun Mandi Wajib
Mandi wajib memiliki dua rukun utama, yaitu niat dan meratakan air ke seluruh tubuh.
Meski terlihat sederhana, pelaksanaannya tidak boleh sembarangan karena berkaitan dengan sah atau tidaknya ibadah setelahnya.
Baca Juga: Penerima Kartu Pekerja Jakarta (KPJ) Wajib Lakukan Pendataan Anak
Dalam kitab Sullamul Munajat karya Imam An-Nawawi Al-Bantani dijelaskan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan saat mandi wajib.
Niat Mandi Wajib
Ada tiga poin penting yang sering luput dari perhatian.
Pertama, niat harus dihadirkan dalam hati bersamaan dengan saat pertama kali mengguyurkan air ke tubuh.
Adapun melafalkan niat dengan lisan bertujuan untuk membantu memantapkan niat dalam hati.
Kedua, tidak cukup hanya meniatkan mandi secara umum. Niat harus ditegaskan bahwa mandi tersebut adalah mandi wajib.
Contohnya: nawaitul ghusla fardhan lillahi ta’ala (aku mandi fardhu karena Allah ta’ala) atau nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari lillahi ta’ala (aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar karena Allah ta’ala).
Baca Juga: Pemkot Tangsel Bakal Gelar Bazar Ramadan Serentak di 7 Kecamatan, Tekan Lonjakan Harga Sembako
Ketiga, niat harus diucapkan bersamaan dengan basuhan pertama. Jika seseorang baru ingat berniat setelah membasuh sebagian anggota badan, maka mandi tersebut tidak sah dan wajib mengulang dari awal.
Adapun lafal niat mandi wajib setelah haid adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ مِنَ الْحَيْضِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
Nawaitu ghusla liraf’il hadatsil akbari minal haidhi fardhan lillaahi ta’aalaa.
Artinya: Aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar disebabkan haid karena Allah Ta’ala.
Meratakan Air ke Seluruh Tubuh
Selain niat, rukun kedua yang tak kalah penting adalah memastikan air mengalir ke seluruh anggota badan.
Air harus mengenai seluruh permukaan tubuh tanpa terkecuali.
Baca Juga: Pengusaha Wajib Catat! THR Swasta 2026 Diprediksi Cair Paling Lambat 12 Maret
Termasuk di dalamnya sela-sela kuku, rambut dan kulit kepala, lipatan tubuh, telinga bagian dalam, hingga bagian kewanitaan yang tampak saat jongkok.
Tidak boleh ada bagian tubuh yang terhalang sehingga air tidak sampai.
Mandi wajib memang berbeda dengan mandi biasa. Ia membutuhkan kesadaran dan ketelitian agar sah secara syariat.
Setelah mandi wajib dilakukan dengan benar, seorang muslimah kembali suci dari hadas besar dan dapat menjalankan salat, puasa, serta ibadah lainnya dengan tenang dan penuh keyakinan.
Dalam setiap kewajiban, selalu ada kemudahan dan hikmah. Ketelitian dalam bersuci bukan sekadar aturan, melainkan bentuk ketaatan dan cinta kepada Allah SWT.***




