POJOKSATU.id — Banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merasa bisnis yang dijalankan sudah berada di jalur yang benar.
Produk terjual, pembeli datang silih berganti, dan aktivitas usaha terlihat cukup ramai.
Namun, ketika keuangan dicek lebih dalam, uang justru cepat habis dan usaha sulit berkembang.
Kondisi ini sering kali dipicu oleh kesalahan dalam menghitung dan mengelola modal usaha.
Baca Juga: LOWONGAN KERJA UNNES Pegawai Non ASN 2026, Ini Syarat dan Jadwal Pendaftarannya
Kesalahan perhitungan modal kerap dianggap hal sepele.
Padahal, dampaknya bisa sangat besar bagi kelangsungan usaha.
Mulai dari arus kas yang tidak stabil, munculnya keuntungan semu, hingga risiko usaha berhenti di tengah jalan.
Ada beberapa kesalahan umum dalam perhitungan modal UMKM yang masih sering terjadi, berikut cara menghindarinya.
Kesalahan pertama yang paling sering dilakukan adalah mencampur uang usaha dengan uang pribadi.
Ketika kedua jenis uang ini tidak dipisahkan, pelaku UMKM akan kesulitan mengetahui berapa modal yang benar-benar digunakan untuk usaha dan berapa keuntungan yang sebenarnya diperoleh.
Akibatnya, kondisi keuangan usaha menjadi tidak jelas.
Untuk menghindari hal ini, pelaku UMKM perlu memisahkan keuangan usaha dan pribadi, baik melalui rekening terpisah maupun pencatatan khusus.
Memberi gaji untuk diri sendiri juga bisa membantu menjaga keuangan tetap terkontrol.
Baca Juga: Televisi Kian Ditinggalkan, Ini Alasan Generasi Muda Beralih ke Platform Digital
Kesalahan berikutnya adalah mengabaikan biaya-biaya kecil dalam perhitungan modal.
Pengeluaran seperti plastik kemasan, listrik, gas, air, pulsa internet, hingga ongkos kirim sering kali tidak dianggap penting karena nilainya terlihat kecil.
Padahal, jika dijumlahkan secara rutin, biaya-biaya ini bisa menggerus keuntungan usaha secara perlahan.
Oleh karena itu, seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan operasional usaha sebaiknya dicatat tanpa terkecuali.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Beroperasi 166 Lokasi di 34 Provinsi, Terbanyak di Jawa Timur Kampung Asal Mensos
Kesalahan lain yang juga kerap terjadi adalah menganggap omzet sebagai keuntungan.
Banyak pelaku UMKM merasa sudah untung besar hanya karena penjualan tinggi.
Padahal, omzet hanyalah total pendapatan kotor sebelum dikurangi berbagai biaya produksi dan operasional.
Agar tidak salah perhitungan, pelaku usaha perlu memahami bahwa keuntungan baru bisa diketahui setelah seluruh biaya dikurangi dari omzet penjualan.
Baca Juga: Rencana Eksekusi Rumah Darmo Diwarnai Ancaman Perlawanan, Ormas Madas Siap Kerahkan 500 Anggota/ non
Selain itu, tidak sedikit UMKM yang belum memperhitungkan penyusutan alat usaha.
Peralatan seperti kompor, mesin produksi, laptop, atau etalase sering dianggap bukan bagian dari modal jangka panjang.
Akibatnya, ketika alat tersebut rusak atau harus diganti, keuangan usaha menjadi terguncang.
Untuk mencegah hal ini, pelaku UMKM perlu menghitung penyusutan alat secara bertahap dan menyisihkan dana pengganti dari keuntungan usaha.
Baca Juga: Sering Batuk dan Flu Saat Musim Hujan? Coba Jamu dan Obat Herbal Ini
Kesalahan lainnya adalah mengandalkan perkiraan tanpa didukung catatan keuangan yang jelas.
Masih banyak UMKM yang hanya mengandalkan ingatan atau perkiraan kasar dalam menghitung modal dan keuntungan.
Kebiasaan ini berisiko menimbulkan kesalahan besar dalam pengambilan keputusan.
Solusinya, pelaku usaha perlu membiasakan diri mencatat pemasukan dan pengeluaran setiap hari, baik secara manual maupun menggunakan aplikasi keuangan sederhana.
Tidak menyediakan modal cadangan juga menjadi kesalahan yang sering luput dari perhatian.
Seluruh modal langsung diputar tanpa menyisakan dana darurat.
Ketika penjualan menurun atau muncul kebutuhan mendadak, usaha pun langsung tersendat.
Idealnya, sebagian keuntungan disisihkan sebagai modal cadangan agar usaha tetap bertahan dalam kondisi tak terduga.
Baca Juga: Dugaan Pelecehan Penumpang Anak oleh Driver Taksi Online, Kasus RA Resmi Masuk Penyelidikan Polisi
Kesalahan terakhir yang cukup sering terjadi adalah menetapkan harga jual terlalu murah.
Banyak UMKM pemula menentukan harga hanya agar produk cepat laku, tanpa menghitung modal dan biaya secara menyeluruh.
Akibatnya, usaha memang berjalan, tetapi sulit berkembang.
Untuk menghindari hal ini, pelaku UMKM perlu menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) secara akurat dan menetapkan margin keuntungan yang wajar.
Baca Juga: Waspada Child Grooming! Modus, Dampak, dan Cara Menyelamatkan Anak dari Kejahatan Tersembunyi
Pada akhirnya, kesalahan dalam menghitung modal bukan semata-mata soal angka, melainkan soal kebiasaan dan kedisiplinan dalam mengelola keuangan.
UMKM yang ingin bertahan dan naik kelas perlu memahami struktur modal sejak awal agar usaha dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.***




