POJOKSATU.id - Egrang adalah permainan tradisional yang dikenal cukup luas di Indonesia. Alat ini mulanya digunakan sebagai alas kaki untuk mengatasi dan melindungi kaki dari kotor atau licinnya tanah.
Namun siapa sangka, permainan ini sampai sekarang belum diketahui asal-usulnya.
Egrang di setiap daerah memiliki nama-nama yang berbeda. Permainan tradisional ini dikenal juga sebagai keprak, jangkungan, atau janggi.
Baca Juga: Perkembangan Mata Uang Kripto Saat Ini, Dulu Ramalannya Bahkan Mampu Mengubah Permainan
Nah, untuk Sobat yang ingin mengetahui lebih dalam tentang egrang, mari kita menjelajahi lebih dalam asal-usul dan pentingnya egrang.
Meski sejarahnya masih misteri, sebagian pendapat mengatakan permainan egrang berasal dari Lampung.
Egrang sendiri dalam bahasa Lampung berartikan terompah pancung yang terbuat dari bambu.
Asal-usul egrang pasti sulit untuk ditelusuri, namun nyatanya permainan tradisional ini sudah ada berabad-abad di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: Ganjar Muda Padjajaran Hidupkan Kembali Budaya Permainan Bola Api di Garut
Egrang juga diyakini berasal dari masyarakat Jawa dan Sunda.
Permainan egrang ini tidak hanya dibuat dari bambu, ada juga yang menggunakan batok kelapa ataupun kaleng bekas.
Namun, untuk Sobat yang mau membuat egrang di rumah dari bambu, bisa siapkan dua batang bambu dengan bagian bawah sekitar 50 cm diberikan pijakan.
Dalam permainan egrang, keseimbangan sangat diperlukan.
Baca Juga: Menjelajah Keindahan Alam dan Budaya yang Kaya Milik Kota Ungaran Semarang
Tanpa keseimbangan, pemain akan terjatuh. Permainan ini tergolong unik sehingga para pemain akan betah dan enggan menyudahi permainan.
Egrang bukan hanya sekadar permainan, melainkan juga memiliki syarat makna yang lebih dalam budaya Indonesia.
Permainan ini mencerminkan semangat kebersamaan, kerja sama, dan keterampilan.
Selain itu, egrang memiliki nilai pendidikan dan pengembangan karakter.
Baca Juga: Lestarikan Budaya, Ajarkan Tarian Te' Srikandi Ganjaro Renda ke Perempuan Milenial di Rote Ndao
Permainan tradisional ini mengajarkan nilai-nilai ketekunan, percaya diri, dan rasa tanggung jawab.
Di tengah arus modernisasi, egrang sudah mulai ditinggalkan.
Sebagai permainan tradisional yangmemiliki nilai dan identitas bangsa sudah sewajarnya kita harus merawat dan menghargai warisan budaya ini.***



