POJOKSATU.id - Hari Raya Idul Fitri menjadi momen yang sangat dinantikan banyak keluarga di Indonesia.
Selain menjadi waktu untuk saling memaafkan, Lebaran juga identik dengan silaturahmi serta berkumpul bersama keluarga.
Karena itu, momen tahunan ini dinilai sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat hubungan antara orang tua dan anak.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur penggunaan gawai atau screen time, terutama bagi anak-anak.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengajak keluarga memanfaatkan momentum mudik dan libur Lebaran untuk memperbanyak interaksi langsung antara orang tua dan anak.
Menurutnya, momen libur panjang tersebut sebaiknya digunakan untuk mempererat komunikasi dalam keluarga yang selama ini mungkin terganggu oleh kesibukan dan penggunaan teknologi digital.
"Gunakan momen liburan dan mudik ini untuk sebanyak-banyaknya menghabiskan waktu bersama keluarga. Gadgetnya bisa dimatikan dulu atau setidaknya dikurangi," ujarnya dalam sebuah keterangan, Rabu, 11 Maret 2026.
Momentum Membangun Komunikasi Keluarga
Meutya menilai bahwa masa libur Lebaran dapat menjadi kesempatan yang baik bagi keluarga untuk membangun komunikasi yang lebih intensif.
Baca Juga: Disdik Jabar Klarifikasi Polemik Pencabutan Izin SMK IDN Bogor, Nasib 500 Siswa Jadi Sorotan
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan teknologi digital di kalangan anak-anak terus meningkat, terutama melalui gawai dan media sosial.
Karena itu, orang tua diharapkan dapat memanfaatkan momen libur untuk mengajak anak-anak lebih banyak berinteraksi secara langsung dengan anggota keluarga.
Ia juga menyinggung tentang implementasi kebijakan perlindungan anak di ruang digital yang akan mulai berlaku efektif pada 28 Maret mendatang.
Dalam kebijakan tersebut, salah satu perhatian utama pemerintah adalah membatasi paparan media sosial pada anak-anak.
"Untuk anak-anak di bawah 16 tahun, kita juga sedang menuju implementasi kebijakan yang akan efektif pada 28 Maret nanti. Sejak sekarang mungkin bisa mulai berlatih perlahan-lahan keluar dari media sosial dengan bimbingan orang tua," kata Meutya.
Baca Juga: Pelajar SMA di Cirebon Diduga Keracunan Makanan Program MBG, Keluarga Lapor Polisi
Peran Orang Tua Sangat Penting
Menurut Meutya, perubahan pola penggunaan teknologi digital tidak bisa terjadi secara instan.
Proses tersebut membutuhkan kesiapan dari keluarga, terutama peran orang tua dalam membimbing anak-anak menggunakan teknologi secara sehat.
Ia menyarankan agar orang tua memanfaatkan waktu libur Lebaran untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan anak-anak.
"Mungkin selama libur Lebaran ini adalah waktu yang baik untuk berbicara dari hati ke hati antara orang tua dan anak untuk mulai melakukan persiapan," tuturnya.
Lebih lanjut, ia berharap momentum mudik dan libur Lebaran dapat dimanfaatkan keluarga untuk memperbanyak aktivitas bersama tanpa ketergantungan pada perangkat digital.
Dengan begitu, anak-anak dapat merasakan kebersamaan keluarga secara langsung tanpa terus terhubung dengan layar gawai.
Tips Mengurangi Screen Time Anak
Selain imbauan dari pemerintah, para ahli kesehatan anak juga memberikan berbagai saran bagi orang tua yang ingin mengurangi screen time anak.
Dokter anak konsultan Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial, Ahmad Suryawan, membagikan beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua agar anak tidak terlalu bergantung pada gawai.
Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan.
1. Regulasi screen time orang tua
Menurut Ahmad Suryawan yang akrab disapa Prof Wawan, orang tua harus terlebih dahulu mengatur penggunaan gawai mereka sendiri.
Ia mengingatkan bahwa anak cenderung meniru kebiasaan orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
"Anggap begini, ini anak saya, kalau saya ingin mengurangi screen time dia, saya juga mengurangi screen time saya. Di depan anak, jangan screen time dan lakukan dengan konsisten," kata Wawan.
Baca Juga: Siapkan THR Buat Kapolres Kajari Dandim Ketua PN, Bupati Cilacap Malah Kena OTT KPK
2. Hindari screen time menjelang tidur
Orang tua juga disarankan mengurangi screen time anak menjelang waktu tidur.
Penggunaan gawai yang berlebihan dapat memengaruhi kualitas tidur anak, terutama jika dilakukan satu jam sebelum tidur.
Selain faktor konten yang menarik perhatian anak, paparan blue light dari layar gawai juga dapat mengganggu pola tidur.
Karena itu, sebaiknya orang tua menerapkan aturan penggunaan gawai di luar kamar tidur agar kamar benar-benar menjadi tempat beristirahat.
3. Biasakan makan tanpa screen time
Kebiasaan lain yang dapat diterapkan adalah makan tanpa menggunakan gawai.
Orang tua perlu mengajarkan anak untuk fokus menikmati makanan, bukan pada layar gadget.
Kegiatan makan bersama juga bisa dimanfaatkan sebagai waktu untuk mempererat hubungan keluarga.
Orang tua dapat mengajak anak menyiapkan makanan bersama atau membiarkan anak memilih menu yang disukai.
Saat makan bersama, seluruh anggota keluarga sebaiknya menyimpan gawai untuk sementara waktu.
4. Perhatikan aktivitas anak saat menggunakan gawai
Prof Wawan juga menyarankan agar orang tua tidak langsung melarang anak menggunakan gawai.
Orang tua perlu terlebih dahulu memahami aktivitas yang dilakukan anak saat menggunakan perangkat digital.
"Anak ngapain? Main game? Buka media sosial? Supaya kita tidak asal melarang, jadi tahu oh anak suka ini. Selain membatasi waktu mengakses, kenalkan anak dengan media bermain yang lain," katanya.
Dengan memahami minat anak, orang tua dapat menawarkan alternatif kegiatan lain yang lebih bermanfaat.
Misalnya bermain olahraga bersama, membantu memasak, atau melakukan aktivitas kreatif lainnya.
Baca Juga: VIRAL Jambret Bikin Emosi, Sudah Rampas HP Orang Malah Ngaku Jadi Korban
5. Berikan pujian saat anak mengikuti aturan
Memberikan pujian juga menjadi langkah penting dalam membentuk kebiasaan baru pada anak.
Ketika anak berhasil mengikuti aturan screen time, orang tua dapat memberikan pujian secara verbal.
"Tetapi ini dengan catatan, Anda sudah meregulasi screen time Anda sendiri. Taruh HP Anda. Kalau Anda beritahu anak ini itu dan sedang pegang HP, anak sulit terima," ujar Wawan.
6. Gunakan metode time out
Metode time out juga dapat diterapkan dengan memberikan batas waktu penggunaan gawai dalam sehari.
Sebagai contoh, anak dapat diberikan waktu screen time selama satu jam setiap hari.
Namun ketika waktu tersebut hampir habis, orang tua sebaiknya tidak langsung menarik gawai dari tangan anak.
Orang tua bisa mengingatkan anak terlebih dahulu, misalnya 15 menit sebelum waktu screen time berakhir.
Dengan cara ini, anak memiliki waktu untuk bersiap menghentikan aktivitasnya sehingga tidak merasa dipaksa. ***




