POJOKSATU.ID - Menunggu waktu berbuka puasa atau yang akrab disebut dengan istilah "ngabuburit" sering kali menjadi jam-jam paling kritis bagi anak-anak yang sedang belajar berpuasa.

Rasa lapar dan haus yang memuncak biasanya membuat mereka menjadi lebih rewel, tidak tenang, dan mudah merasa bosan.

Dalam situasi ini, memberikan gadget memang menjadi solusi instan yang paling menggoda bagi orang tua karena dapat membuat anak "anteng" seketika.

Namun, ketergantungan pada layar justru sering kali menjauhkan esensi Ramadan yang seharusnya menjadi momen untuk mempererat kedekatan emosional dan spiritual di dalam keluarga.

Baca Juga: Resep Sayur Asem Segar untuk Menghilangkan Enek Setelah Makan Gorengan

Untuk memutus siklus kebosanan tersebut, orang tua dapat memulai dengan melibatkan anak dalam aktivitas dapur yang menyenangkan namun tetap aman.

Memberikan peran kecil seperti menghias takjil, menata piring di meja makan, atau membantu mengocok adonan kue bukan hanya sekadar mengisi waktu.

Tetapi juga memberikan rasa bangga pada anak karena mereka merasa berkontribusi dalam persiapan berbuka.

Selain itu, menghidupkan kembali permainan papan atau board games seperti ular tangga, monopoli, atau permainan tradisional seperti congklak dapat menjadi alternatif yang sangat efektif.

Baca Juga: Tips Menyimpan Santan Peras Agar Awet Berminggu minggu di Freezer

Aktivitas fisik yang ringan dan kompetisi sehat dalam permainan ini mampu mengalihkan fokus mereka dari rasa lapar ke strategi permainan yang menyenangkan.

Sisi kreativitas anak juga bisa dieksplorasi lebih dalam melalui kegiatan kerajinan tangan di rumah.

Mengajak mereka membuat kartu ucapan Lebaran buatan sendiri, mewarnai gambar bertema Islami, atau membuat dekorasi Ramadan untuk menghias sudut rumah dapat memicu imajinasi mereka mengalir deras.

Jika energi mereka sudah mulai menurun, sesi bercerita atau storytelling tentang kisah-kisah penuh hikmah bisa menjadi pilihan yang menenangkan.

Dengan narasi yang interaktif dan penuh ekspresi, anak akan terhanyut dalam cerita sehingga waktu menjelang Maghrib terasa berlalu lebih cepat tanpa mereka sadari.

Pada akhirnya, kunci utama dalam mengatasi rasa bosan anak tanpa gadget adalah kehadiran penuh dari orang tua itu sendiri.

Meski kita sebagai orang tua juga sedang menahan lapar dan lelah, interaksi nyata seperti mengobrol, bermain bersama, atau sekadar melakukan aktivitas sederhana bersama-sama.

Hal tersebut akan meninggalkan kesan yang jauh lebih mendalam di hati anak dibandingkan menonton video di YouTube.

Dengan sedikit kreativitas dan kesabaran, waktu ngabuburit bisa bertransformasi menjadi momen edukasi dan bonding yang berkualitas, menjadikan Ramadan kali ini lebih bermakna bagi seluruh anggota keluarga.***