POJOKSATU.id — Laporan terbaru dari World Population Review mengungkapkan fakta menarik tentang kebiasaan atau minta membaca di berbagai negara di dunia.

Amerika Serikat tercatat sebagai negara dengan tingkat minat baca tertinggi.

Rata-rata warganya menghabiskan sekitar tujuh jam per minggu atau setara 357 jam per tahun untuk membaca buku.

Dengan waktu sebanyak itu, setiap orang di Amerika bisa menuntaskan sekitar 17 buku dalam setahun.

Di posisi berikutnya, India muncul sebagai negara dengan kebiasaan membaca yang hampir menyamai Amerika Serikat.

Baca Juga: TPG Triwulan 4 Mulai Cair, Ini Kelompok Guru yang Konfirmasi Dananya Sudah Masuk Rekening

Masyarakat India rata-rata menghabiskan 352 jam per tahun untuk membaca dan mampu menyelesaikan sekitar 16 buku setiap tahunnya.

Capaian ini terbilang luar biasa karena India menjadi satu-satunya negara non-maju di luar kawasan Eropa yang mampu menembus daftar negara dengan pembaca terbanyak di dunia.

Sementara itu, negara-negara di Eropa juga masih menunjukkan budaya membaca yang kuat dan konsisten. Britania Raya menduduki posisi ketiga dengan waktu membaca sekitar 343 jam per tahun.

Di bawahnya, ada Prancis, Italia, Belanda, hingga Swiss yang turut memperkuat tradisi membaca sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Baca Juga: Mau Dapat Dana Riset Rp10 Juta? Ini Cara Daftar Beasiswa Bina Insan Akademia 2025 dari Kemenpora

Di berbagai sudut kota Eropa, pemandangan orang membaca di taman, transportasi umum, atau kafe sudah menjadi hal yang biasa dan bahkan dianggap elegan.

Bergeser ke kawasan Asia Tenggara, Singapura menjadi negara dengan minat baca tertinggi di wilayah ini. Negeri tersebut menempati posisi ke-13 dunia dengan rata-rata waktu membaca mencapai 155 jam per tahun.

Sayangnya, posisi Indonesia masih tertinggal jauh. Negara ini berada di peringkat ke-30 dengan rata-rata waktu membaca hanya sekitar 129 jam per tahun.

Baca Juga: Sosok Pelaku Ledakan SMAN 72 Ternyata Siswa Pendiam, Motif Disebut Balas Dendam  pada Kawannya

Kondisi ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca di Indonesia masih harus banyak ditingkatkan agar bisa sejajar dengan negara-negara lain.

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia bukan tanpa sebab. Ada berbagai faktor yang membuat budaya literasi di Tanah Air belum tumbuh sekuat negara lain.

Pertama, akses terhadap buku masih terbatas. Di banyak daerah, terutama di luar kota besar, ketersediaan perpustakaan atau toko buku masih minim.

Kalaupun ada, koleksi yang tersedia sering kali sudah usang atau tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Baca Juga: Empat Film Indonesia Terbaru Tayang di Bioskop, dari Horor Mistis sampai Drama yang Bikin Baper

Kedua, harga buku yang relatif mahal juga menjadi kendala tersendiri.

Bagi sebagian besar masyarakat, membeli buku belum menjadi prioritas, apalagi ketika harus bersaing dengan kebutuhan pokok atau hiburan digital yang lebih murah dan mudah diakses.

Ketiga, kurangnya kebiasaan membaca sejak kecil. Budaya membaca idealnya ditanamkan dari usia dini, tetapi di banyak keluarga dan sekolah, anak-anak lebih diarahkan untuk menghafal materi pelajaran daripada menikmati bacaan.

Faktor lain yang tak kalah berpengaruh adalah dominasi media sosial dan konten digital.

Di era serba cepat seperti sekarang, masyarakat lebih tertarik pada konten visual dan video pendek dibanding membaca teks panjang. Akibatnya, kemampuan membaca mendalam dan kebiasaan literasi perlahan memudar.

Baca Juga: Dokter Penerbangan Gercep, Ada Workshop Pengembangan Kompetensi Penanganan Masalah Kesehatan Haji dan Umroh Angkatan 1, Total 6,75 SKP dan 3,5 JPL

Selain itu, sistem pendidikan yang masih berfokus pada nilai dan ujian juga berperan dalam rendahnya minat baca.

Pembelajaran yang seharusnya menumbuhkan rasa ingin tahu dan eksplorasi lewat membaca belum banyak diterapkan di sekolah-sekolah.

Minimnya teladan membaca dari lingkungan keluarga, guru, hingga tokoh publik turut memperparah kondisi ini.

Ketika anak-anak jarang melihat orang di sekitarnya gemar membaca, mereka pun tidak memiliki contoh untuk ditiru.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Dapat Tambahan 28 Bus Sekolah dari Kemenhub dan Kemensos: dari Rumah Sederhana Menuju Gerbang Ilmu

Kemudian, kampanye literasi yang belum masif juga membuat masyarakat tidak terbiasa mencari dan menikmati bacaan. Banyak orang bahkan tidak tahu buku-buku menarik yang sesuai dengan minat mereka.

Padatnya rutinitas harian menjadi faktor berikutnya. Waktu luang yang sempit membuat banyak orang lebih memilih hiburan instan seperti menonton televisi, bermain game, atau berselancar di media sosial ketimbang membaca buku.

Tak kalah penting, rendahnya literasi digital dan informasi juga mempengaruhi.

Banyak masyarakat memang bisa membaca, tetapi belum tentu memahami makna atau mampu menganalisis isi bacaan. Hal ini disebut sebagai rendahnya literasi fungsional.

Baca Juga: Anggota DPRD Jabar Sri Rahayu Dorong Kesiapan Penuh Pilkades e-Voting di Karawang

Terakhir, ekosistem buku di Indonesia masih belum kuat. Industri penerbitan dan distribusi buku belum merata, penulis baru kesulitan mempublikasikan karya, dan buku-buku berkualitas sering sulit ditemukan di luar kota besar.

Namun, bukan berarti semua jalan tertutup. Kini, masyarakat bisa mengakses ribuan buku secara gratis melalui Perpustakaan Nasional dan aplikasi iPusnas.

Lewat dua platform ini, siapa pun bisa membaca kapan saja dan di mana saja tanpa perlu membeli buku fisik.

Sebuah langkah kecil, tetapi penting untuk menumbuhkan kembali budaya membaca di tengah era digital yang serba cepat.***