POJOKSATU.id - Setiap kali memasuki Tahun Baru Islam, banyak umat Muslim mengaitkan bulan Muharram dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. 

Namun, tidak sedikit yang bertanya-tanya mengapa bulan pertama dalam kalender Hijriah adalah Muharram, padahal hijrah Rasulullah SAW terjadi pada bulan Rabiul Awal.

Pertanyaan tersebut ternyata memiliki jawaban yang menarik dalam sejarah Islam. 

Kalender Hijriah yang digunakan umat Islam saat ini tidak langsung ditetapkan pada masa Rasulullah SAW, melainkan baru diformalkan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA.

Baca Juga: Ini Keutamaan Bulan Muharram, Amalan Sunnah, dan Makna Tahun Baru Islam

Penanggalan Hijriah Baru Ditetapkan pada Masa Umar bin Khattab

Sebelum Islam berkembang menjadi peradaban besar, masyarakat Arab sebenarnya sudah mengenal nama-nama bulan seperti Muharram, Safar, Rabiul Awal, hingga Dzulhijjah. Namun mereka belum memiliki sistem penanggalan tahunan yang baku.

Dalam kitab Durusut Tarikh Al-Islami dijelaskan bahwa bangsa Arab Jahiliyah sering mengganti patokan tahun berdasarkan peristiwa besar yang dianggap penting.

Pernah suatu masa mereka menggunakan hitungan tahun berdasarkan wafatnya Amr bin Luhay, tokoh Bani Khuza'ah yang dikenal membawa praktik kemusyrikan ke Makkah. 

Baca Juga: Daftar SMA dan SMK Swasta Gratis di Jawa Barat 2026, Lengkap Jumlah Kuota Siswa Penerima Program Pemprov Jabar

Pada masa lain mereka menggunakan kematian Hisyam bin Mughirah sebagai acuan. Kemudian muncul pula perhitungan berdasarkan Tahun Gajah, yaitu tahun ketika pasukan Abrahah menyerang Ka'bah.

Situasi tersebut membuat penanggalan menjadi tidak konsisten.

Ketika wilayah Islam semakin luas pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, kebutuhan akan sistem administrasi yang lebih rapi semakin mendesak.

Surat Abu Musa Al-Asy'ari yang Mengubah Sejarah

Menurut riwayat yang dikutip Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, pada tahun ke-17 Hijriah Umar bin Khattab menerima surat dari gubernurnya di Bashrah, Abu Musa Al-Asy'ari.

Baca Juga: Daftar Lengkap 47 SMP dan MTs Swasta Gratis di Depok 2026, Cek Nama Sekolah dan Alamatnya Sebelum Daftar

Abu Musa mengeluhkan banyaknya surat resmi dari pusat pemerintahan yang tidak memiliki tanggal. 

Akibatnya, para pejabat daerah kesulitan membedakan mana instruksi terbaru dan mana surat yang sudah lama.

Masalah tersebut kemudian dibahas dalam musyawarah besar yang melibatkan para sahabat senior.

Mereka sepakat bahwa umat Islam membutuhkan sistem kalender resmi yang dapat digunakan secara seragam untuk urusan pemerintahan maupun kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Daftar Lengkap SD dan MI Swasta Gratis di Kota Tangerang 2026, Cek Nama Sekolah Berdasarkan Kecamatan

Perdebatan Menentukan Awal Tahun Hijriah

Setelah sepakat membuat kalender, muncul perdebatan mengenai peristiwa apa yang layak dijadikan awal perhitungan tahun Islam.

Beberapa sahabat mengusulkan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sebagian lainnya mengusulkan tahun ketika Rasulullah SAW menerima wahyu pertama dan diangkat menjadi nabi.

Ada pula yang mengusulkan tahun wafat Rasulullah SAW.

Sementara kelompok lain mengusulkan tahun hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Baca Juga: Labpolhum Sarankan Program MBG Dievaluasi Menyeluruh, Pengawasan Perlu Diperketat

Pada akhirnya, Umar bin Khattab menerima usulan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib RA untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai titik awal kalender Islam.

Hijrah dipilih karena menjadi tonggak penting yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, sekaligus menjadi awal berdirinya masyarakat Islam yang kuat dan mandiri di Madinah.

Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang dinukil Ibnu Hajar Al-Asqalani:

"Al-hijrah farraqat bainal haqqi wal bathil."

Artinya: "Hijrah itulah yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan."

Karena itulah kalender tersebut kemudian dikenal dengan nama Kalender Hijriah.

Baca Juga: Daftar Lengkap SMP Gratis di Bekasi 2026, Cek Nama Sekolah dan Alamatnya Sebelum Daftar

Mengapa Bukan Rabiul Awal?

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa bulan pertama kalender Hijriah bukan Rabiul Awal, padahal Rasulullah SAW tiba di Madinah pada bulan tersebut.

Dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Al-Qur'an dan Hadis-hadis Shahih karya M Quraish Shihab dijelaskan bahwa sejarah hijrah sebenarnya dimulai jauh sebelum Nabi tiba di Madinah.

Kesepakatan hijrah sudah terjadi sejak Baiat Aqabah Kedua yang berlangsung pada penghujung Dzulhijjah. 

Pada peristiwa itu, para penduduk Yatsrib menyatakan kesiapan menerima Rasulullah SAW dan kaum Muslimin.

Baca Juga: Tengah Sorotan Publik, Aliansi BEM Bersatu Dukung MBG, Anggap Kebutuhan Mendasar Masyarakat

Bahkan sebagian sahabat sudah mulai berhijrah ke Madinah sebelum Rasulullah SAW berangkat.

Karena itu, para sahabat memandang bahwa hijrah dihitung sejak munculnya keputusan, tekad, dan persiapan hijrah, bukan saat perjalanan itu selesai dilakukan.

Alasan Umar Memilih Muharram

Setelah menetapkan hijrah sebagai titik awal kalender Islam, para sahabat kembali bermusyawarah mengenai bulan pertama yang akan digunakan.

Ada yang mengusulkan Ramadan. Ada pula yang mengusulkan Rabiul Awal.

Namun Umar bin Khattab memilih Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah.

Baca Juga: Aliansi BEM Bersatu Ungkap Fortuner Tiyo Ardianto Terdaftar atas Nama Siti Nuraeni, Ini Sosoknya

Menurut beliau, Muharram adalah bulan yang langsung datang setelah Dzulhijjah, yaitu bulan ketika Baiat Aqabah telah terjadi dan tekad hijrah mulai terbentuk.

Muharram menjadi bulan awal dimulainya fase persiapan menuju hijrah besar yang kemudian mengubah sejarah Islam.

Selain itu, Muharram juga bertepatan dengan waktu kepulangan kaum Muslim setelah menunaikan ibadah haji sehingga dianggap tepat untuk memulai siklus tahun yang baru.

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa ketika sebagian sahabat mengusulkan Ramadan sebagai bulan pertama, Umar berkata:

"Bal bil Muharram, fa innahu munsharafun nasi min hajjihim."

Artinya: "Tidak, tetapi dimulai dari Muharram, karena bulan itu merupakan waktu kembalinya manusia dari ibadah haji."

Pendapat tersebut akhirnya diterima seluruh peserta musyawarah.

Baca Juga: FORMASI Desak BK DPRD Kabupaten Cirebon Periksa Anggota Dewan yang Terlibat Pengelolaan SPPG MBG

Muharram dan Makna Hijrah bagi Umat Islam

Muharram bukan dipilih secara kebetulan. Pemilihannya didasarkan pada pertimbangan sejarah, administrasi, dan nilai spiritual yang sangat kuat.

Meski hijrah Nabi Muhammad SAW secara fisik berlangsung pada Rabiul Awal, proses hijrah sesungguhnya telah dimulai sejak Muharram melalui persiapan, perencanaan, dan kebulatan tekad untuk meninggalkan kehidupan lama menuju kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, setiap datangnya Muharram, umat Islam tidak hanya memperingati pergantian tahun, tetapi juga diajak menghidupkan kembali semangat hijrah dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Bahlil Siapkan Kompor Listrik Generasi Baru, Impor LPG Rp130 Triliun Jadi Sorotan

Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan menuju ketaatan, meninggalkan keburukan, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Semangat inilah yang diwariskan para sahabat ketika menetapkan Muharram sebagai gerbang pertama dalam perjalanan waktu umat Islam hingga hari ini. ***