POJOKSATU.id — Lari maraton menjadi tantangan besar bagi banyak orang, terutama bagi pemula yang baru pertama kali mencoba menaklukkan jarak 42,195 kilometer.

Tidak sedikit yang menganggap maraton hanya soal kuat berlari padahal dibutuhkan strategi, latihan, serta kesiapan fisik dan mental yang matang.

Bagi pemula, penting untuk tidak langsung memaksakan diri menempuh jarak penuh maraton.

Baca Juga: Harga Ikan Mahal di Negeri Maritim? Ini 7 Penyebab yang Jarang Disadari

Latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari jarak pendek seperti 3 hingga 5 kilometer, kemudian meningkat ke 10 kilometer, hingga half marathon atau 21 kilometer.

Cara ini membantu tubuh beradaptasi dan mengurangi risiko cedera.

Selain itu, mengikuti program latihan yang terstruktur juga sangat dianjurkan.

Baca Juga: Integrasi Gedung Sate–Gasibu Digodok, Farhan: Jangan Abaikan Nilai Sejarah

Umumnya, persiapan maraton membutuhkan waktu antara 12 hingga 20 minggu dengan kombinasi latihan lari santai, lari jarak jauh, serta waktu istirahat yang cukup.

Istirahat menjadi bagian penting agar tubuh dapat pulih dan berkembang secara optimal.

Pemilihan sepatu lari juga tidak boleh diabaikan. Sepatu yang nyaman dan sesuai dengan bentuk kaki dapat membantu mencegah lecet maupun cedera.

Baca Juga: Kota Bandung Ungkap Fakta: 1 dari 5 Kepala Keluarga Perempuan, Diam-Diam Banyak yang Jadi Tulang Punggung

Sebaiknya, gunakan sepatu yang sudah dipakai selama latihan dan hindari menggunakan sepatu baru saat hari perlombaan.

Dari sisi nutrisi, pelari perlu memperhatikan asupan energi sebelum dan selama berlari.

Konsumsi karbohidrat sebelum latihan atau lomba dapat menjadi sumber tenaga utama.

Untuk lari dengan durasi lebih dari satu jam, tambahan energi seperti gel atau buah pisang dapat membantu menjaga stamina.

Saat berlari, pemula disarankan untuk memulai dengan tempo yang pelan.

Baca Juga: Viral Siomay Ikan Sapu-Sapu, Ini Cara Membedakannya dengan Tenggiri

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah berlari terlalu cepat di awal sehingga energi cepat habis di tengah perjalanan.

Menjaga pace yang stabil menjadi kunci agar mampu bertahan hingga garis finis.

Selain fisik, kesiapan mental juga berperan besar dalam maraton.

Pada jarak tertentu, biasanya sekitar kilometer 25 hingga 35, pelari akan merasakan kelelahan yang signifikan.

Baca Juga: DPRD Komitmen Soal Kontrak dan Kesejahteraan PPPK Paruh Waktu di Kota Cirebon

Untuk mengatasinya, pelari dapat membagi target jarak menjadi per kilometer agar tetap fokus dan termotivasi.

Tak kalah penting, pelari harus mampu mendengarkan kondisi tubuhnya.

Jika muncul rasa sakit yang tidak wajar, sebaiknya segera berhenti dan tidak memaksakan diri.

Cedera yang diabaikan dapat berdampak lebih serius dan mengganggu persiapan lomba.

Baca Juga: Dikira Pilihan Cuma Negeri, Ternyata Kampus Islam Swasta Ini Diam-Diam Jadi Incaran Banyak Siswa

Sebagai persiapan akhir, pemula disarankan melakukan simulasi lari jarak jauh atau long run hingga mendekati 30 kilometer.

Hal ini bertujuan untuk mengetahui respons tubuh serta mengatur strategi makan dan minum selama berlari.

Bagi pelari pemula, target utama dalam maraton pertama sebaiknya adalah menyelesaikan lomba dengan aman, bukan mengejar waktu.

Dengan persiapan yang matang dan strategi yang tepat, peluang untuk mencapai garis finis akan semakin besar.***