POJOKSATU.id — Donor darah merupakan salah satu aksi kemanusiaan yang memberikan manfaat besar bagi banyak orang.

Darah yang disumbangkan oleh pendonor dapat membantu pasien yang membutuhkan transfusi akibat kecelakaan, menjalani prosedur operasi, mengalami anemia, maupun menderita penyakit tertentu yang memerlukan tambahan darah.

Meski terlihat sederhana, tidak semua orang dapat langsung mendonorkan darahnya.

Baca Juga: Kemnaker Fokuskan Empat Pilar Strategis Ketenagakerjaan 2026 Hadapi Transformasi Dunia Kerja

Terdapat sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi agar proses donor berjalan aman, baik bagi pendonor maupun penerima darah.

Persyaratan ini diterapkan untuk memastikan kondisi kesehatan pendonor tetap terjaga serta kualitas darah yang disalurkan layak digunakan.

Bagi masyarakat yang berencana melakukan donor darah, memahami berbagai syarat tersebut menjadi hal penting.

Baca Juga: Sering Emosian dan Sulit Paham Perasaan Orang? Ini 10 Tanda EQ Rendah

Pasalnya, setiap calon pendonor akan menjalani pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu sebelum dinyatakan layak mendonorkan darah.

Salah satu syarat utama donor darah berkaitan dengan usia pendonor.

Pada umumnya, donor darah diperbolehkan bagi individu berusia 17 hingga 60 tahun.

Baca Juga: Apa Bedanya IQ dan EQ? Jangan Salah Paham, Ternyata Pengaruhnya Besar untuk Kesuksesan

Meski demikian, pendonor rutin yang memiliki kondisi kesehatan baik masih berkesempatan melakukan donor hingga usia 65 tahun setelah melalui pemeriksaan dan persetujuan petugas medis.

Selain usia, berat badan juga menjadi faktor yang diperhatikan. Calon pendonor biasanya diwajibkan memiliki berat badan minimal 45 kilogram.

Aturan ini bertujuan menjaga kondisi tubuh tetap stabil setelah pengambilan darah sekaligus meminimalkan risiko tubuh menjadi lemas atau mengalami pusing.

Kondisi kesehatan tubuh juga harus benar-benar prima. Seseorang yang sedang mengalami demam, flu, batuk, infeksi, atau merasa kurang sehat umumnya belum diperkenankan melakukan donor darah.

Baca Juga: Football City Battle Resmi Dimulai: Arena Baru Fans Bola Indonesia Adu Gengsi Antar Kota

Dalam situasi seperti ini, proses donor akan ditunda sementara hingga kondisi tubuh kembali pulih sepenuhnya.

Sebelum proses donor dilakukan, petugas juga akan melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan dasar.

Pemeriksaan tersebut meliputi tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, hingga kadar hemoglobin (Hb).

Langkah ini dilakukan untuk memastikan tubuh calon pendonor berada dalam kondisi yang aman untuk menjalani proses donor darah.

Baca Juga: Begini Pemutakhiran Data DTSEN Kemensos dalam Penyaluran Bansos 2026!

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar hemoglobin terlalu rendah atau tekanan darah tidak stabil maka calon pendonor biasanya diminta menunda donor sampai kondisi kesehatannya membaik.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah konsumsi obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat memengaruhi kondisi kesehatan maupun kualitas darah.

Oleh sebab itu, calon pendonor sebaiknya terbuka kepada petugas apabila sedang menjalani pengobatan tertentu agar dapat dilakukan penilaian lebih lanjut.

Baca Juga: Telkom University Buka Lowongan Dosen Batch 2 Tahun 2026, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

Donor darah juga tidak dianjurkan dilakukan terlalu sering.

Umumnya, seseorang baru diperbolehkan kembali mendonorkan darah setelah jeda sekitar 75 hari atau sekitar dua hingga tiga bulan.

Ketentuan ini dapat berbeda tergantung kondisi kesehatan masing-masing individu.

Riwayat penyakit tertentu juga menjadi pertimbangan penting dalam proses donor darah.

Beberapa kondisi medis dapat menyebabkan seseorang tidak memenuhi syarat donor, baik untuk sementara waktu maupun secara permanen.

Oleh karena itu, pemeriksaan riwayat kesehatan menjadi tahapan penting sebelum donor dilakukan.

Baca Juga: Wali Kota Bandung Turunkan 184 Petugas Periksa Hewan Kurban, PMK Jadi Sorotan

Tak kalah penting, calon pendonor disarankan menjaga kondisi tubuh sebelum datang ke lokasi donor.

Tidur yang cukup, makan terlebih dahulu, serta memperbanyak konsumsi air putih sangat dianjurkan agar tubuh tetap bugar dan tidak mudah lemas setelah donor darah selesai dilakukan.

Di sisi lain, donor darah bukan hanya memberikan manfaat bagi penerima, tetapi juga bagi pendonor itu sendiri.

Selain membantu sesama, donor darah dapat menjadi sarana pemeriksaan kesehatan dasar secara berkala karena pendonor akan dicek kondisi tubuhnya, termasuk tekanan darah dan kadar hemoglobin sebelum proses donor berlangsung.***