POJOKSATU.id - Memasuki pertengahan hingga akhir bulan Ramadan, seorang muslim dianjurkan untuk semakin meningkatkan kualitas sekaligus kuantitas ibadahnya.
Fase ini tidak seharusnya menjadi waktu untuk mengendurkan semangat, melainkan momentum penting untuk memaksimalkan amal sebelum bulan suci berakhir.
Hal tersebut disampaikan Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama (Kemenag) Indonesia, Dr Arsad Hidayat Lc MA.
Baca Juga: 5 Perkara yang Menghapus Pahala Puasa, Umat Islam Diminta Muhasabah di 10 Hari Kedua Ramadan
Menurut Arsad, Ramadan memiliki fase-fase spiritual yang sangat penting. Ketika memasuki pertengahan hingga akhir Ramadan, seorang muslim justru dianjurkan untuk semakin bersungguh-sungguh dalam ibadah.
"Ini menjadi dalil bahwa akhir Ramadan adalah momentum puncak spiritual yang tidak boleh disia-siakan," katanya.
Pada fase ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berbagai amalan, mulai dari qiyamul lail, tilawah Alquran, sedekah, hingga menunaikan zakat fitrah.
Baca Juga: Alasan Doa Qunut Dibaca di Pertengahan Ramadan, Buya Yahya Jelaskan Hikmahnya
Teladan Rasulullah pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadan
Arsad menjelaskan bahwa Rasulullah SAW telah memberikan teladan yang sangat kuat mengenai kesungguhan beribadah pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Dalam hadis sahih disebutkan:
Kāna Rasūlullāhi shallallahu 'Alaihi wa sallam iżā dakhalal-'asyru syadda mi'zarahū, wa aḥyā lailahū, wa ayqaẓa ahlahū
Artinya: “Rasulullah SAW apabila telah memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), beliau mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”
Arsad menjelaskan bahwa hadis ini menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW meningkatkan kesungguhan ibadah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan.
Rasulullah SAW menghidupkan malam dengan berbagai ibadah, seperti salat malam, doa, dzikir, serta munajat kepada Allah SWT.
Tidak hanya itu, beliau juga membangunkan anggota keluarganya agar turut merasakan keutamaan ibadah pada malam-malam tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadan merupakan fase puncak dari perjalanan spiritual seorang muslim selama menjalani ibadah puasa.
Lailatul Qadar, Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Salah satu momen yang paling dinanti oleh umat Islam pada akhir Ramadhan adalah malam Lailatul Qadar.
Malam ini diyakini sebagai malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Bahkan nilainya disebut lebih baik daripada seribu bulan.
Baca Juga: Mahasiswi UINSA Lolos MBKM Internasional 2026, Nadin Siap Mengajar di Sekolah Indonesia Bangkok
Keutamaan tersebut ditegaskan dalam Alquran Surah Al-Qadr:
Lailatul-qadri khairum min alfi syahr
Artinya: “Malam Kemuliaan (Lailatul Qadar) itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Arsad menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil.
Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa, ibadah, dan munajat kepada Allah SWT pada malam-malam tersebut.
Baca Juga: Remaja 17 Tahun Ditemukan Tewas di Irigasi Jayakerta Karawang
Rasulullah SAW juga mengajarkan doa khusus ketika seorang muslim berusaha meraih malam Lailatul Qadar:
Allāhumma innaka ‘afuwwun tuḥibbul-‘afwa fa‘fu ‘annī
Doa ini menegaskan bahwa inti dari pencarian malam Lailatul Qadar adalah permohonan ampun dan penghapusan dosa kepada Allah SWT.
Itikaf sebagai Momentum Mendekatkan Diri kepada Allah
Selain menghidupkan malam dengan berbagai ibadah, amalan lain yang sangat dianjurkan pada akhir Ramadhan adalah i’tikaf.
Arsad menjelaskan bahwa i’tikaf merupakan bentuk pengkhususan waktu untuk berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
"I’tikaf adalah bentuk pengkhususan waktu untuk berdiam di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak tilawah, dzikir, dan muhasabah," jelasnya.
Melalui i’tikaf, seorang muslim dapat lebih fokus memperbanyak ibadah, merenungkan perjalanan spiritualnya selama Ramadan, serta memperbaiki diri menjelang berakhirnya bulan suci.
Memperbanyak Tilawah Alquran
Amalan lain yang sangat dianjurkan pada fase akhir Ramadhan adalah memperbanyak tilawah Alquran.
Arsad menjelaskan bahwa Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Alquran. Karena itu, memperbanyak membaca, memahami, serta mentadabburi Alquran menjadi salah satu bentuk ibadah yang sangat utama.
Banyak ulama dan generasi salaf terdahulu yang meningkatkan intensitas tilawah mereka ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan.
"Para sahabat dan ulama salaf bahkan meningkatkan intensitas tilawah mereka pada sepuluh hari terakhir sebagai bentuk penyempurnaan ibadah Ramadan," paparnya.
Melalui tilawah, seorang muslim tidak hanya membaca Alquran, tetapi juga berusaha memahami pesan-pesan spiritual yang terkandung di dalamnya.
Memperbanyak Sedekah
Selain ibadah yang bersifat personal, akhir Ramadhan juga menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian sosial melalui sedekah.
Baca Juga: Gibran Tinjau Pelatihan AI dan Robotik di Ponpes Baitul Arqom, Dorong Santri Melek Teknologi
Dalam hadis riwayat Al-Bukhari disebutkan:
Kāna Rasūlullāhi shallallahu 'Alaihi wa sallam ajwadan-nāsi, wa kāna ajwadu mā yakūnu fī Ramaḍāna
Artinya: “Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan.”
Arsad menjelaskan bahwa pertengahan hingga akhir Ramadan merupakan waktu yang sangat tepat untuk memperbanyak sedekah.
Bantuan kepada fakir miskin, dukungan terhadap kegiatan dakwah, hingga membantu mereka yang membutuhkan menjadi bentuk kepedulian sosial yang sangat dianjurkan, terutama menjelang Idul Fitri.
Baca Juga: Ramai Soal Anggaran MBG, Gerindra Tegaskan Tak Pangkas Pendidikan: Karena Penerimanya Adalah Siswa
Menunaikan Zakat Fitrah
Selain sedekah, pada akhir Ramadan umat Islam juga memiliki kewajiban untuk menunaikan zakat fitrah.
Rasulullah SAW bersabda:
Faraḍa Rasūlullāhi shallallahu 'Alaihi wa sallam zakātal-fiṭri ṭuhratan liṣ-ṣā'imi minal-lagwi war-rafaṡi, wa ṭu'matan lil-masākīn
Artinya: "Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan perbuatan yang kurang pantas, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin."
Arsad menjelaskan bahwa kewajiban zakat fitrah memiliki makna yang sangat penting, tidak hanya sebagai penyempurna ibadah puasa, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat yang membutuhkan.
Baca Juga: Masjid Agung Al Karomah Martapura, Jejak Sejarah dan Ikon Religi Kalimantan Selatan
Menurutnya, zakat fitrah menegaskan bahwa akhir Ramadan bukan hanya momentum ibadah individual, tetapi juga penguatan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Dengan demikian, sedekah, tilawah Alquran, qiyamul lail, i’tikaf, serta zakat fitrah merupakan rangkaian amalan yang sangat dianjurkan pada pertengahan hingga akhir Ramadhan.
Pada fase inilah seorang muslim berupaya menyempurnakan ibadahnya, memperbanyak istighfar, serta berharap keluar dari bulan suci Ramadan dalam keadaan lebih bersih dari dosa dan memperoleh derajat takwa di sisi Allah SWT. ***




