POJOKSATU.id - Malnutrisi energi protein merupakan kondisi di mana tubuh mengalami kekurangan asupan makanan yang menyediakan energi dan protein. Gejala ini biasanya muncul perlahan.
Kondisi malnutrisi energi protein ini umumnya terjadi pada anak-anak, penyebabnya karena kekurangan asupan makanan sumber energi termasuk protein.
Jenis-jenis malnutrisi energi protein yang umum terjadi pada anak-anak adalah kwashiorkor dan marasmus. Penyebabnya karena tubuh kekurangan protein ataupun kalori.
Malnutrisi energi protein juga sering disebut sebagai kurang energi protein (KEP) dan pada anak-anak sering disebut sebagai gizi buruk.
Malnutrisi energi protein dibedakan menjadi dua tipe, yaitu MEP tingkat sedang yang sering disebut sebagai kurang gizi, dan MEP tingkat parah yang sering dikenal sebagai gizi buruk.
Penyebab malnutrisi energi protein
Malnutrisi energi protein disebabkan karena kekurangan asupan makanan yang menjadi sumber energi atau kalori, termasuk protein.
Malnutrisi energi protein dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain:
1. Kwashiorkor, merupakan bentuk malnutrisi yang disebabkan oleh kekurangan asupan protein dalam periode waktu yang lama.
2. Marasmus, yaitu jenis malnutrisi energi protein yang timbul karena kurangnya asupan protein dan kalori.
3. Marasmus-kwashiorkor, merupakan bentuk malnutrisi energi protein yang berat dan merupakan kombinasi dari keduanya.
Faktor sosial memiliki potensi untuk meningkatkan risiko malnutrisi energi protein, terutama di negara-negara miskin dan berkembang.
Baca Juga: Pentingnya Omega-3 untuk Kesehatan Anak: Asupan yang Tidak Boleh Diabaikan
Fakto-faktor tersebut antara lain:
• Kekurangan pasokan pangan, misalnya pada mereka yang tinggal di lingkungan yang terisolasi
• Keterbatasan fisik atau mental yang membuat sulit untuk menyiapkan makanan
• Ketergantungan untuk memperoleh makanan dari orang lain
• Kurangnya pengetahuan tentang nutrisi dan cara memasak makanan dengan baik
• Penyalahgunaan narkoba dan kecanduan alkohol
Risiko malnutrisi energi protein juga dapat meningkat karena penyakit tertentu, seperti.
• Infeksi di saluran pencernaan yang mengakibatkan diare
• Infeksi cacing tambang yang menyerap nutrisi dari darah dan usus
• Penyakit yang mengganggu fungsi saluran pencernaan untuk mencerna atau menyerap makanan, seperti radang usus dan penyakit celiac
• Penyakit yang mengganggu metabolisme atau menurunkan nafsu makan, seperti tuberkulosis (TBC), HIV/AIDS, dan kanker
• Gangguan mental, seperti depresi dan skizofrenia
• Gangguan makan, termasuk anoreksia nervosa dan bulimia
• Demensia, yang dapat menyebabkan penderitanya lupa untuk makan
• Kondisi yang dapat meningkatkan metabolisme dan kebutuhan energi, seperti penyakit kronis, kecelakaan, luka bakar berat, atau hipertiroidisme
• Malabsorbsi atau sindrom malabsorpsi
Gejala Malnutrisi Energi Protein
• Berat badan di bawah normal dengan indeks massa tubuh (IMT) kurang dari 18,5 kg/m2
• Kelelahan atau kelemasan yang berkelanjutan
• Mudah mengalami kedinginan
• Hilangnya nafsu makan
• Penurunan massa otot atau atrofi otot dan lemak tubuh
• Perubahan dalam sikap dan emosi, seperti apatis (tidak peduli terhadap lingkungan), gelisah, mudah marah, kesulitan berkonsentrasi, atau kesedihan yang berkepanjangan
• Kulit yang kering dan tampak pucat
Baca Juga: Mengenal dan Mengatasi Stunting pada Anak, Orang Tua Harus Tahu!
• Rentan terhadap penyakit, sering sakit, dan luka yang sembuh lebih lambat
• Kerontokan rambut hingga kebotakan
• Sensasi mati rasa atau kesemutan
• Diare kronis
Pada anak-anak, gejala malnutrisi energi protein seperti:
• Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan dibandingkan dengan anak-anak sebaya
• Tidak aktif dan mudah lelah
• Rewel
• Rentan terkena penyakit, termasuk infeksi
Ini dia informasi mengenai malnutrisi energi protein. Sobat harus tetap waspada.***



