POJOKSATU.id - Nuzulul Quran merupakan peristiwa pertama kali turunnya Alquran kepada Nabi Muhammad SAW.
Peristiwa penting dalam sejarah Islam ini diperingati setiap bulan Ramadan karena menjadi awal turunnya wahyu sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Secara bahasa, Nuzulul Quran berasal dari kata nazzala-yunazzilu-tanzilan yang berarti turun secara berangsur-angsur, serta kata anzala-yunzilu-inzalan yang bermakna menurunkan.
Peristiwa diturunkannya Alquran sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW dijelaskan dalam Surah Al Isra ayat 106. Allah SWT berfirman:
وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا
Wa qur'ānan faraqnāhu litaqra'ahū ‘alan-nāsi ‘alā mukṡiw wa nazzalnāhu tanzīlā(n).
Baca Juga: 27 Sekolah Kedinasan Buka Pendaftaran untuk Lulusan SMK 2026, Kuliah Gratis dan Peluang Jadi CPNS
Artinya: “Alquran Kami turunkan berangsur-angsur agar engkau (Nabi Muhammad) membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan dan Kami benar-benar menurunkannya secara bertahap.”
Menurut tafsir tahlili Kementerian Agama, Allah SWT menjelaskan bahwa Alquran diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur, sebagian demi sebagian.
Hal ini agar Nabi dapat membacakannya kepada umat serta memberikan pemahaman secara perlahan.
Wahyu Pertama di Malam Lailatul Qadar
Ayat Alquran pertama kali diwahyukan pada bulan Ramadan, tepatnya pada malam Lailatul Qadar.
Wahyu pertama tersebut adalah Surah Al Alaq yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril.
Ayat pertama Surah Al Alaq berisi perintah membaca. Menariknya, ayat tersebut tidak secara langsung menyebutkan objek yang harus dibaca.
Lalu, apa makna perintah membaca itu sebenarnya?
Pakar tafsir Alquran sekaligus pendiri Pusat Studi Alquran (PSQ), Prof Muhammad Quraish Shihab, menjelaskan bahwa ayat pertama Surah Al Alaq memiliki arti: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.”
Menurut Prof Quraish, lafaz iqra merupakan kata perintah yang berarti “bacalah”. Kata tersebut berasal dari akar kata qara'a yang secara harfiah berarti membaca.
Baca Juga: Tiga Hari Sebelum Penyiraman Air Keras, Dua OTK Terpantau Awasi Asrama KontraS di Jakpus
Namun, secara makna awal kata qara'a sebenarnya berarti menghimpun.
Jika dipahami lebih dalam, aktivitas membaca pada hakikatnya adalah menghimpun berbagai informasi dalam pikiran. Ketika seseorang membaca sebuah kata, misalnya “saya”, sebenarnya ia sedang menghimpun huruf-huruf yang membentuk kata tersebut di dalam benaknya.
Membaca Tidak Selalu dari Teks
Prof Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa membaca tidak selalu berarti melihat tulisan.
Ia mencontohkan seseorang yang membaca Surah Al Fatihah ketika salat. Walaupun tidak melihat teks tertulis, aktivitas itu tetap disebut membaca karena ayat-ayat tersebut telah terhimpun di dalam ingatan.
Baca Juga: Natalius Pigai Desak Polisi Usut Tuntas Pelaku Penyiraman Air Keras Wakil KontraS
Menurut dia, mengucapkan sesuatu yang telah terhimpun di dalam benak, baik terdengar oleh orang lain maupun hanya oleh diri sendiri, tetap termasuk aktivitas membaca.
Di sisi lain, muncul pertanyaan menarik terkait perintah membaca pada awal Surah Al Alaq. Pasalnya, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang tidak pandai membaca teks.
Lalu, mengapa perintah membaca justru diberikan kepada beliau?
Membaca untuk Membangun Peradaban
Prof Quraish Shihab menjelaskan bahwa membaca dalam ayat tersebut memiliki makna yang jauh lebih luas. Membaca tidak hanya terbatas pada teks tertulis, tetapi juga mencakup membaca kehidupan dan alam semesta.
Baca Juga: BMKG Ingatkan Hujan dan Banjir Rob Saat Lebaran, Sejumlah Jalur Mudik di Jabar Rawan Longsor
Seseorang yang memperhatikan fenomena alam, mempelajarinya, dan menarik kesimpulan darinya, sejatinya sedang membaca alam raya.
“Jadi, tidak harus kata membaca itu dibatasi dalam arti membaca suatu teks. Kalau Anda ingin maju, ingin membangun peradaban, maka bacalah dalam arti pandanglah segala sesuatu, pelajarilah dia, dan tariklah kesimpulan dari apa yang Anda lihat atau apa yang Anda baca,” kata Prof Quraish Shihab dalam kajian tafsir di Sekolah Islam Al-Azhar yang ditayangkan melalui kanal resmi YouTube Quraish Shihab.
Prof Quraish menambahkan, ketika Allah SWT memerintahkan membaca melalui kalimat iqra bismi rabbik, tidak disebutkan objek yang harus dibaca.
Hal ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk membaca apa saja, selama aktivitas tersebut tetap dikaitkan dengan Allah SWT.
Baca Juga: Motif Pembunuhan Rahmadani Siagian Diduga Didasari Pertengkaran Keduanya Saat Nginap di Kamar
Artinya, membaca tidak sekadar mencari pengetahuan, tetapi juga harus dilandasi niat untuk memperoleh bimbingan dan pertolongan Allah.
Dengan begitu, setiap bacaan dan pengetahuan yang dipelajari diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat serta diridai oleh Allah SWT. ***




