POJOKSATU.id - Setiap kali bulan Dzulhijjah tiba, suasana mulai terasa berbeda. Gema takbir mulai terdengar, jalanan dipenuhi pedagang hewan kurban, dan banyak keluarga mulai menyiapkan ibadah terbaik yang akan dipersembahkan kepada Allah SWT.
Namun sesungguhnya, kurban bukan sekadar tentang menyembelih hewan.
Di balik seekor kambing atau sapi yang dikurbankan, ada makna tentang cinta yang diuji melalui keikhlasan, pengorbanan yang melahirkan kepedulian, hingga kebahagiaan yang hadir di meja makan orang-orang yang hidup dalam keterbatasan.
Ada anak-anak yang menunggu Idul Adha karena hanya pada hari itu mereka bisa menikmati daging bersama keluarga.
Baca Juga: Hewan Kurban yang Sah Menurut Syariat, Ini Ciri Layak dan Tidak Layak untuk Idul Adha
Ada ibu yang memasak dengan mata berkaca-kaca karena akhirnya mampu menyajikan hidangan terbaik untuk anak-anaknya.
Bahkan di pelosok negeri, distribusi daging kurban sering menjadi bentuk perhatian yang sangat dinanti setiap tahunnya.
Karena itulah, memahami ibadah kurban tidak cukup hanya mengetahui tata cara penyembelihannya.
Kurban juga memiliki makna mendalam, adab yang perlu dijaga, hingga sunnah-sunnah yang dianjurkan sejak awal bulan Dzulhijjah.
Baca Juga: Rekomendasi 10 SMK Negeri Terbaik di Bali untuk SPMB 2026, Ada Jurusan AI, Pariwisata hingga Teknik
Apa Itu Kurban?
Kurban atau udhiyah merupakan ibadah menyembelih hewan ternak tertentu pada Hari Raya Idul Adha dan hari tasyrik sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Ibadah ini berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS yang dengan penuh ketundukan bersedia melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.
Namun karena keikhlasan dan ketaatan mereka, Allah SWT menggantikannya dengan seekor hewan sembelihan.
Dari kisah itulah umat Islam belajar bahwa kurban bukan sekadar ritual tahunan.
Baca Juga: Sidang Cerai Dikabulkan, Ibu Fatimah Azzahra: Anak Saya Sudah Dikembalikan Sejak Awal Tahun
Kurban adalah simbol bagaimana manusia belajar menundukkan ego, melepaskan kecintaan duniawi, dan lebih mengutamakan ketaatan kepada Allah SWT.
Hari ini, makna kurban juga terasa sangat dekat dengan nilai kemanusiaan.
Sebab setiap hewan yang dikurbankan dapat menghadirkan kebahagiaan bagi banyak orang yang membutuhkan.
Kapan Mulai Tidak Boleh Potong Kuku dan Rambut?
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul menjelang Idul Adha adalah tentang larangan memotong kuku dan rambut bagi orang yang hendak berkurban.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun hingga ia berkurban.”
Baca Juga: 5 Laptop Terbaik 2026 untuk Pelajar dan Mahasiswa, Mulai Rp6 Jutaan hingga Spek AI Modern
Larangan tersebut dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih.
Karena itu, banyak ulama menganjurkan seseorang memotong kuku, rambut, atau kumis sebelum memasuki awal Dzulhijjah apabila sudah berniat berkurban.
Meski demikian, mayoritas ulama menjelaskan bahwa larangan ini bersifat sunnah, bukan haram mutlak.
Artinya, jika seseorang terlanjur memotong kuku atau rambut, kurbannya tetap sah.
Di balik sunnah tersebut, tersimpan pelajaran tentang kesiapan hati dalam menyambut ibadah kurban.
Waktu Penyembelihan Hewan Kurban
Penyembelihan hewan kurban dimulai setelah pelaksanaan salat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah dan berlangsung hingga akhir hari tasyrik pada 13 Dzulhijjah sebelum matahari terbenam.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa siapa yang menyembelih sebelum salat Idul Adha, maka sembelihannya belum termasuk ibadah kurban.
Karena itu, waktu penyembelihan menjadi bagian penting agar pelaksanaan kurban sesuai tuntunan syariat.
Di banyak daerah Indonesia, momen penyembelihan juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat.
Warga saling bergotong royong membantu proses penyembelihan hingga pembagian daging kepada penerima manfaat.
Baca Juga: 29 Sekolah Kedinasan Tanpa Syarat Nilai UTBK 2026, Lulus Bisa Berpeluang Jadi CPNS
Syarat Hewan Kurban yang Sah
Islam mengajarkan bahwa hewan kurban harus berasal dari hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, atau unta dengan kondisi sehat dan cukup umur.
Hewan tersebut tidak boleh cacat berat, sakit, kurus parah, atau pincang.
Seekor kambing biasanya diperuntukkan bagi satu orang, sedangkan sapi dapat diniatkan untuk tujuh orang.
Lebih dari sekadar memenuhi syarat fisik, memilih hewan kurban terbaik juga menjadi bentuk kesungguhan dalam beribadah.
Baca Juga: Tes Manajer Koperasi Merah Putih 2026 Tak Bisa Asal Lulus, Ini Kriteria dan Sistem Penilaiannya
Niat dan Doa Saat Menyembelih Kurban
Dalam ibadah kurban, niat menjadi bagian penting karena setiap amal bergantung pada niatnya.
Doa yang dianjurkan saat menyembelih hewan kurban adalah:
اللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ
Allahumma hadza minka wa laka.
“Ya Allah, ini berasal dari-Mu dan untuk-Mu.”
Doa sederhana tersebut mengingatkan bahwa seluruh rezeki sejatinya berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya.
Baca Juga: Kabar Gembira ASN, Gaji Ke-13 PNS hingga PPPK Siap Dicairkan Juni 2026
Kurban yang Menghadirkan Kebahagiaan
Di sebagian tempat, daging kurban mungkin terasa biasa. Namun bagi masyarakat dhuafa, daerah pelosok, hingga keluarga yang hidup dalam keterbatasan, kurban sering menjadi sesuatu yang sangat istimewa.
Ada anak-anak yang berlari kecil membawa kantong daging dengan wajah berbinar. Ada lansia yang berkali-kali mengucap syukur karena akhirnya bisa memasak makanan bergizi untuk keluarganya.
Bahkan ada wilayah yang hanya bisa menikmati daging setahun sekali saat Idul Adha tiba.
Karena itu, kurban sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan.
Kurban adalah tentang menghadirkan rasa peduli dan kebahagiaan bagi sesama. ***




