POJOKSATU.id — Menyambut Hari Kartini yang diperingati setiap Selasa, 21 April 2026, berbagai karya sastra tentang perempuan kembali menarik perhatian.
Salah satu yang relevan untuk dibahas adalah novel Entrok karya Okky Madasari.
Novel yang terbit pada 2010 ini menjadi karya debut Okky Madasari yang langsung mencuri perhatian karena kekuatan realisme sosialnya.
Entrok mengangkat dinamika kehidupan perempuan dalam bayang-bayang Orde Baru, dengan sentuhan kritik sosial dan nuansa feminisme yang tidak menggurui, melainkan mengalir melalui pengalaman hidup tokohnya.
Baca Juga: Gaji ke-13 ASN Cair Juni 2026, Ini Jadwal, Besaran, dan Daftar Penerimanya
Feminisme dalam novel ini hadir secara subtil, tidak dikemas dalam teori atau jargon, melainkan melalui perjuangan sehari-hari tokoh utama seperti Marni dan Rahayu.
Salah satu bentuk feminisme yang paling menonjol adalah perlawanan terhadap keterbatasan perempuan.
Marni digambarkan sebagai sosok yang lahir dari kondisi serba terbatas, dalam lingkungan yang memandang perempuan hanya sebagai pelengkap.
Namun ia menolak tunduk pada kondisi tersebut.
Ia bekerja keras dari nol, membangun kemandirian ekonomi, dan tidak menggantungkan hidup pada laki-laki.
Dari sini terlihat bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk menentukan arah hidupnya sendiri, meski berasal dari latar belakang yang tidak menguntungkan.
Simbolisme juga menjadi kekuatan penting dalam novel ini.
Keinginan Marni untuk memiliki “entrok” atau bra tidak sekadar soal kebutuhan pakaian.
Lebih dari itu, entrok menjadi simbol kesadaran tubuh perempuan dan keinginan untuk dihargai sebagai manusia.
Hal ini mencerminkan isu klasik dalam feminisme, yakni hak perempuan atas tubuhnya sendiri dan kebebasan untuk menentukan identitasnya.
Selain itu, Entrok juga menyajikan kritik tajam terhadap sistem patriarki dan kekuasaan.
Dalam cerita, perempuan tidak hanya mengalami penindasan dari budaya yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kuasa, tetapi juga dari negara melalui aparat rezim Orde Baru.
Marni, misalnya, kerap menjadi korban pemerasan dan tidak memiliki ruang untuk melawan.
Situasi ini menunjukkan bahwa penindasan terhadap perempuan bersifat kompleks, melibatkan struktur sosial sekaligus kekuasaan politik.
Menariknya, novel ini juga menampilkan konflik antara dua generasi perempuan melalui hubungan Marni dan Rahayu.
Marni merepresentasikan feminisme berbasis pengalaman hidup—bertahan, bekerja keras, dan mandiri.
Sementara Rahayu mencerminkan feminisme yang lebih dipengaruhi oleh pendidikan dan nilai-nilai agama.
Baca Juga: Gempa Kuat Magnitudo 7,5 Guncang Pesisir Timur Honsu Jepang, BMKG Prediksi Tsunami 3 Meter
Perbedaan ini menegaskan bahwa tidak ada satu bentuk feminisme yang mutlak.
Setiap perempuan memiliki cara dan perspektifnya sendiri dalam memperjuangkan kebebasan.
Sepanjang cerita, perempuan digambarkan sebagai pihak yang sering dibungkam, tidak didengar, dan dipaksa untuk diam.
Namun melalui narasi yang dibangun, suara-suara tersebut akhirnya muncul ke permukaan.
Hal ini menjadi bentuk reklamasi suara perempuan—dari yang semula objek menjadi subjek utama dalam cerita.
Feminisme dalam Entrok pada akhirnya bukan sekadar wacana, melainkan realitas yang hidup.
Perjuangan perempuan dalam novel ini tidak selalu tampak heroik, tetapi justru terasa kuat karena berlangsung dalam diam, di tengah tekanan sosial dan politik yang kompleks.
Novel ini mengingatkan bahwa perjuangan perempuan sering kali tidak terlihat mencolok, tetapi memiliki daya tahan dan kekuatan yang luar biasa.***




