POJOKSATU.id - Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk makan sahur ketika hendak berpuasa, baik puasa wajib maupun sunnah. 

Tujuannya jelas, untuk menambah stamina dan energi bagi orang yang akan menjalankan ibadah puasa seharian penuh.

Namun pertanyaan yang sering muncul, bagaimana jika seseorang lupa sahur? Apakah puasanya tetap sah?

Waktu Sahur Terbaik Menurut Ulama

Sahur merupakan aktivitas makan sebelum memulai puasa di bulan Ramadhan. Waktu sahur terbaik adalah sepertiga terakhir malam, yaitu menjelang subuh. 

Waktu tersebut merupakan waktu yang dianjurkan Rasulullah SAW.

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta dalam tulisan berjudul Sebaik-baik Sahur di Akhir Waktu yang dimuat NU Online, menjelaskan keutamaan mengakhirkan sahur.

"Jadi makan sahur yang dipepetkan waktunya dengan saat adzan subuh itu semakin baik sebab batas akhir waktu sahur adalah saat masuk waktu shalat tersebut," kata Muhammad Ishom.

Ia menyebutkan bahwa mengakhirkan sahur saat puasa Ramadhan memiliki banyak hikmah.

1. Menjaga Kesehatan Fisik

Dalam konteks Ramadhan, mengakhirkan sahur bukan hanya tuntutan rohaniah, tetapi juga menjaga kesehatan fisik.

"Agar kita cukup kuat menahan lapar dari saat awal berpuasa (waktu subuh) hingga akhir berpuasa (waktu maghrib) pada hari itu," jelasnya.

Menurutnya, memahami keutamaan dan manfaat kesehatan dari mengakhirkan sahur akan membuat ibadah puasa lebih bermakna sekaligus menjaga kondisi tubuh tetap prima.

"Bandingkan dengan jika kita sahur setelah shalat tarawih. Taruhlah jam 9 malam. Bisa jadi pada saat dzuhur kita sudah merasa sangat lapar. Ini bisa mengganggu puasa," ucapnya.

2. Menyegerakan Shalat Subuh

Hikmah kedua adalah agar jarak antara waktu makan sahur dengan saat shalat subuh tidak terlalu jauh.

"Ini memungkinkan kita untuk bersegera melakukan shalat subuh di awal waktu," terangnya.

3. Tidak Kesiangan Shalat Subuh

Muhammad Ishom juga menyinggung kebiasaan sebagian orang yang tidur kembali setelah sahur karena merasa waktu subuh masih lama.

"Sudah banyak bukti banyak orang tidur kembali setelah makan sahur, misalnya karena waktu subuh dirasa masih lama, maka shalat shubuhnya menjadi kesiangan karena terlambat bangun. Ini adalah kerugian besar," ucapnya.

Karena itu, sahur di akhir atau penghujung waktu dinilai sebagai waktu sahur yang paling utama.

Lupa Sahur, Apakah Puasa Sah?

Pengajar di Pondok Pesantren Darussalam Bermi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Ustadz Abdul Kadir Jailani menjelaskan bahwa sahur merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW.

Namun jika seseorang tidak sahur karena lupa, hal itu tidak mempengaruhi keabsahan puasa.

"Berpuasa tanpa makan sahur tidak berpengaruh pada keabsahan puasanya, hanya saja tidak mendapatkan pahala atau keutamaan sahur yang disunnahkan," jelas Ustadz Kadir dalam artikel berjudul Puasa Tanpa Makan Sahur, Apakah Sah? yang dimuat NU Online.

Meski tidak mempengaruhi sah atau tidaknya puasa, Rasulullah SAW tetap menganggap penting sahur dan memerintahkannya, meskipun tidak sampai derajat wajib.

"Makan sahurlah kamu, sesungguhnya pada makan sahur terdapat keberkahan," terang Ustadz Kadir mengutip hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.

Tak hanya keberkahan, sahur juga mengandung banyak hikmah, salah satunya menjaga kesehatan fisik selama berpuasa. 

Hal ini dijelaskan dalam Kitab Hasyiah At-Tarmasi jilid V halaman 673.

"Hikmah disunnahkan makan sahur adalah untuk menguatkan fisik bagi orang yang hendak menjalankan puasa dan untuk menyelisihi ahlul kitab bagi orang yang tidak bertujuan menguatkan fisiknya," terang Ustadz Kadir.

Adapun waktu sahur yang dianjurkan Rasulullah dimulai dari pertengahan malam hingga waktu fajar. 

Mengakhirkan sahur hukumnya sunnah, tetapi tetap perlu diperhatikan agar tidak terlalu mepet dengan waktu subuh untuk menghindari keraguan apakah waktunya masih ada atau sudah berakhir.

"Jika dihitung dengan satuan menit, maka makan sahur sebaiknya sudah selesai kurang lebih 15 menit sebelum fajar," kutip Ustadz Kadir dari Kitab Taqrirat As-Sadidat halaman 444.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa lupa sahur tidak membatalkan puasa. Namun tentu saja, ada keberkahan dan keutamaan yang terlewat. ***