POJOKSATU.id — Istilah Lipstick Effect belakangan mulai ramai dibahas di tengah kondisi ekonomi yang dinilai semakin menantang bagi sebagian masyarakat.
Fenomena ini menggambarkan perilaku konsumen yang tetap membeli barang-barang kecil atau terjangkau untuk mendapatkan rasa senang, meskipun kondisi keuangan sedang ketat.
Secara sederhana, Lipstick Effect merupakan kecenderungan masyarakat untuk mengurangi pengeluaran besar, tetapi masih menyisihkan uang untuk membeli produk kecil yang dianggap mampu memberikan kepuasan atau hiburan singkat.
Baca Juga: Jangan Asal Makan! Ini Tips Memilih Makanan agar Gula Darah Tetap Terkontrol
Istilah ini pertama kali populer dalam dunia ekonomi dan bisnis untuk menggambarkan kondisi ketika masyarakat menahan pembelian barang mahal, tetapi tetap membeli produk dengan harga lebih terjangkau, seperti kosmetik, makanan ringan, atau hiburan sederhana.
Meski namanya menggunakan kata “lipstick” atau lipstik, fenomena ini tidak hanya berlaku pada produk kecantikan.
Dalam praktiknya, Lipstick Effect juga mencakup berbagai bentuk konsumsi kecil yang dianggap sebagai bentuk self reward.
Baca Juga: Dirut Bulog Ajak Mahasiswa Tinjau Gudang Beras, Klaim Swasembada Pangan RI Nyata
Di Indonesia, fenomena ini mulai banyak dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat yang tetap membeli kopi kekinian, skincare, makanan viral, parfum lokal, hingga produk diskon di marketplace, meskipun banyak orang mengaku sedang lebih hemat.
Sebagai contoh, seseorang mungkin menunda membeli kendaraan baru, mengganti gadget, atau berlibur ke luar kota demi menghemat pengeluaran.
Namun di sisi lain, mereka masih rela mengeluarkan uang untuk secangkir kopi, jajanan favorit, atau produk perawatan diri dengan harga yang relatif terjangkau.
Baca Juga: Persib Juara Hattrick, Wagub Jabar Larang Sweeping Kendaraan Saat Konvoi Bobotoh
Kondisi tersebut dinilai sebagai salah satu bentuk adaptasi psikologis masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
Produk kecil dengan harga lebih murah dianggap mampu memberikan rasa senang tanpa harus menguras anggaran besar.
Fenomena Lipstick Effect umumnya lebih mudah terlihat ketika kondisi ekonomi sedang melambat, inflasi meningkat, atau masyarakat merasa tidak terlalu yakin dengan kondisi keuangan di masa depan.
Namun demikian, kemunculan Lipstick Effect tidak selalu menjadi tanda ekonomi masyarakat sedang buruk.
Baca Juga: Samsung Rilis Monitor Gaming Odyssey OLED G8 dan G7 di Indonesia, Visual Makin Gahar
Sebagian pengamat menilai pola ini juga menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki daya beli, hanya saja lebih selektif dalam menentukan prioritas belanja.
Pada akhirnya, Lipstick Effect memperlihatkan bahwa pola konsumsi masyarakat dapat berubah mengikuti situasi ekonomi.
Ketika pengeluaran besar mulai ditahan, pembelian kecil yang memberi rasa nyaman justru cenderung tetap bertahan.***




