POJOKSATU.id - Liburan akhir tahun selalu menghadirkan suasana berbeda di rumah. Jam sekolah berhenti sejenak, agenda keluarga lebih longgar, dan anak-anak menikmati hari tanpa seragam.

Di momen liburan akhir tahun yang berdekatan dengan Tahun Baru ini, banyak orang tua mulai bertanya-tanya: apakah liburan berarti anak benar-benar berhenti belajar?

Sejumlah penelitian pendidikan menunjukkan, jeda belajar yang terlalu panjang dapat membuat anak kehilangan sebagian kemampuan akademiknya, terutama dalam membaca dan berhitung.

Fenomena ini dikenal sebagai learning loss. Namun, solusi dari persoalan ini bukanlah menjejali anak dengan tugas, melainkan mengubah cara belajar menjadi lebih ringan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: TPG 100 Persen Mengalir ke Rekening Guru, Ini Daerah yang Sudah Cair

Belajar di masa liburan idealnya tidak terasa seperti belajar. Tidak ada tekanan nilai, tidak ada target kurikulum.

Yang dibutuhkan adalah stimulasi ringan agar otak anak tetap aktif, tanpa mengganggu rasa senang menikmati liburan.

Para ahli pendidikan menyebut, durasi belajar singkat namun konsisten jauh lebih efektif dibandingkan belajar lama tapi penuh paksaan.

Cukup 15 hingga 30 menit per hari sudah cukup untuk menjaga ritme belajar anak, asalkan dilakukan dengan suasana santai dan menyenangkan.

Baca Juga: Istilah KPD di Cek Bansos Sering Muncul, Ini Arti dan Fungsinya

Berikut beberapa cara belajar ringan yang bisa diterapkan selama liburan sekolah;

- Membaca santai tanpa beban tugas

Luangkan sekitar 20 menit sehari untuk membaca bersama anak.

Biarkan anak memilih bacaan sesuai minatnya, mulai dari cerita bergambar, komik edukatif, hingga buku pengetahuan ringan.

Tidak perlu rangkuman atau laporan tertulis. Cukup ajak anak bercerita kembali dengan bahasanya sendiri agar kemampuan literasi tetap terjaga.

Baca Juga: TPG Masuk Skema Single Salary, Penghasilan Guru PNS dan PPPK Diproyeksi Naik Tajam

- Belajar berhitung lewat aktivitas harian

Saat memasak, ajak anak menghitung takaran bahan atau waktu memasak.

Ketika bermain permainan papan, anak belajar angka, strategi, dan logika tanpa sadar.

Aktivitas ini membuat matematika terasa dekat dengan kehidupan nyata, bukan sekadar angka di buku.

- Proyek mini selama liburan

Buat proyek sederhana yang dikerjakan 1–2 minggu, seperti jurnal liburan, menanam tanaman kecil, atau eksperimen sains di rumah.

Anak belajar menulis, mengamati, dan menyimpulkan dengan cara alami.

Proyek mini juga melatih tanggung jawab tanpa terasa seperti tugas sekolah.

Baca Juga: KPD Muncul tapi Bertanda Negatif? Ini Arti Exclude dan Cara Ajukan Appeal ke Dinsos

- Belajar dari aktivitas luar ruang

Kunjungan ke taman, museum, kebun, atau pasar bisa menjadi pengalaman belajar kontekstual.

Anak belajar tentang lingkungan, sejarah, dan interaksi sosial secara langsung.

Diskusi singkat setelah kegiatan justru menjadi momen refleksi yang bermakna.

- Mengelola waktu layar dengan bijak

Liburan sering membuat waktu layar meningkat, dan ini wajar.

Orang tua bisa mengarahkan anak ke konten edukatif yang sesuai usia.

Dampingi anak dan ajak berbincang singkat setelahnya, agar aktivitas digital tetap memberi nilai belajar.

Baca Juga: Sekolah Kedinasan Tanpa UTBK-SNBT, Dari Kemenhub hingga Kemenkeu, Ini Daftar Lengkapnya

- Memberi ruang bermain bebas

Free-play penting untuk melatih kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah.

Orang tua cukup memberi tantangan kecil, misalnya membuat permainan sendiri atau membangun sesuatu dari barang bekas.

Dari sini, anak belajar berpikir kritis tanpa tekanan.

Agar semua kegiatan terasa ringan, orang tua perlu menetapkan target yang realistis.

Tidak perlu jadwal ketat. Cukup tema mingguan, checklist sederhana, atau bentuk apresiasi kecil yang membuat anak merasa dihargai, bukan dinilai.

Baca Juga: Manajemen PSMS Evaluasi Besar-besaran, Nasih Pemain dan Pelatih Bakal Ditentukan usai Lawan SFC dan Persikad

Di sisi lain, kebijakan pendidikan terkini juga mendorong agar libur Natal dan Tahun Baru tidak dibebani tugas akademik berat.

Liburan dipandang sebagai waktu pemulihan sekaligus penguatan karakter dan kebiasaan baik di rumah.

Jika anak menunjukkan penolakan, sebaiknya orang tua tidak memaksakan. Kurangi durasi, ganti aktivitas, atau beri jeda. Suasana liburan yang hangat jauh lebih penting daripada target belajar yang kaku.

Pada akhirnya, liburan sekolah bukanlah jeda total dari proses belajar, melainkan kesempatan menggeser cara belajar. Dari yang formal menjadi alami, dari yang kaku menjadi menyenangkan.

Saat Tahun Baru tiba, kebiasaan kecil yang tumbuh selama liburan bisa menjadi bekal berharga ketika anak kembali ke sekolah. ***