POJOKSATU.id - Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan sekaligus kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia.
Di balik deretan gedung tinggi dan pusat perbelanjaan modern, kota ini juga menyimpan banyak destinasi wisata sejarah dan budaya yang masih terjaga hingga sekarang.
Tempat-tempat ini cocok dikunjungi saat libur Hari Raya Idul Fitri 2026. Selain menikmati suasana kota, para pelancong juga bisa belajar tentang perjalanan sejarah bangsa dan keberagaman budaya yang ada di Surabaya.
Baca Juga: Revitalisasi Sekolah Terdampak Bencana di Aceh Dikebut, Mendikdasmen Tinjau Langsung di Pidie Jaya
Berikut beberapa destinasi wisata sejarah dan budaya yang bisa menjadi pilihan saat berlibur di Surabaya.
Tugu Pahlawan dan Museum 10 November
Monumen Tugu Pahlawan dibangun untuk mengenang perjuangan para pahlawan dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Bentuk monumen ini menyerupai paku terbalik dengan tinggi sekitar 40,50 meter.
Lokasinya berada di Jalan Pahlawan, Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya.
Baca Juga: 8 Rekomendasi Brand Pashmina Viscose untuk Lebaran 2026, Nyaman, Adem, dan Stylish Dipakai Seharian
Di kawasan ini juga terdapat Museum 10 November yang menyimpan berbagai koleksi bersejarah seperti foto perjuangan, senjata rampasan, artefak peninggalan perang, hingga diorama elektronik dan diorama statis yang menggambarkan peristiwa heroik di Surabaya.
Kota Lama Surabaya
Kota Lama Surabaya dikenal sebagai kawasan multikultural yang dahulu dihuni berbagai etnik dari berbagai belahan dunia.
Wilayah ini juga menjadi latar penting dalam sejarah pertempuran 10 November 1945.
Berlokasi di Jalan Rajawali, Kecamatan Krembangan, kawasan ini menyuguhkan deretan bangunan bergaya kolonial yang masih berdiri hingga kini.
Banyak wisatawan datang untuk berjalan santai sambil menikmati suasana kota tua dan berburu foto dengan latar bangunan bersejarah.
Masjid Cheng Ho
Masjid Cheng Ho menjadi salah satu simbol kerukunan budaya di Surabaya.
Masjid ini memiliki arsitektur unik yang memadukan unsur budaya Tionghoa dengan nuansa Islam.
Baca Juga: Dishub Kota Bekasi Berangkatkan 27 Bus Mudik Gratis untuk 1.458 Warga
Lokasinya berada di Jalan Gading, Ketabang, Kecamatan Genteng, sekitar satu kilometer di utara Gedung Balai Kota Surabaya.
Warna merah yang dominan dan desain bangunan khas Tiongkok membuat masjid ini menjadi salah satu destinasi religi sekaligus wisata budaya yang menarik.
Klenteng Sanggar Agung
Klenteng Sanggar Agung atau yang juga dikenal dengan nama Klenteng Hong San Tang didirikan pada tahun 1999 dan digunakan sebagai tempat ibadah umat Tri Dharma.
Klenteng ini terletak di Jalan Sukolilo No.100, kawasan Pantai Kenjeran, Surabaya.
Salah satu daya tarik utamanya adalah patung Dewi Kwan Im setinggi sekitar 20 meter yang berdiri di tepi laut. Pemandangan tersebut sering menjadi spot foto favorit para pengunjung.
Hotel Majapahit
Hotel Majapahit merupakan bangunan bersejarah yang dibangun pada 1 Juni 1910 di Jalan Tunjungan Surabaya oleh Lucas Martin Sarkies bersaudara.
Arsitektur bangunan bergaya Barat ini dahulu menjadi simbol kemewahan kaum kolonial pada masanya.
Baca Juga: Hampers Lebaran 2026 yang Unik dan Modern, Penuh Makna untuk Menjaga Silaturahmi
Hotel ini juga dikenal sebagai saksi bisu peristiwa perobekan bendera Belanda yang menjadi salah satu momen penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Rumah Lahir Bung Karno
Rumah sederhana di Pandean Gang IV Nomor 40 Surabaya menjadi tempat kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Ia lahir pada 6 Juni 1901 dengan nama Koesno sebelum kemudian dikenal sebagai Soekarno.
Di rumah kelahiran Bung Karno ini, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi perjalanan hidup keluarga R. Soekeni dan Nyoman Rai Srimben.
Teknologi video mapping dan augmented reality juga dihadirkan untuk memberikan pengalaman yang lebih menarik bagi para pengunjung.
Surabaya memang bukan sekadar kota besar dengan geliat ekonomi yang pesat. Kota ini juga menyimpan jejak sejarah perjuangan bangsa yang begitu kuat.
Mengunjungi tempat-tempat bersejarah saat libur Lebaran bisa menjadi cara sederhana untuk mengenang perjuangan para pendahulu sekaligus memperkaya pengalaman perjalanan. ***




