POJOKSATU.id - Ramadhan telah menjadi momen yang sangat dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Salah satu fenomena menarik yang kerap muncul adalah berburu takjil sambil menunggu saatnya berbuka puasa.

Takjil, hidangan ringan yang disajikan untuk berbuka puasa, memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Ramadhan di banyak negara.

Dari kolak, es buah, kurma, hingga gorengan tradisional, takjil telah menjadi simbol keberagaman kuliner dan juga kebersamaan saat berbuka puasa. Hidangan itulah yang diburu karena ingin dinikmati saat berbuka puasa.

Menariknya, berburu takjil kini tak hanya dilakukan kaum muslim. Ada tren juga yang dilakukan oleh mereka yang non Muslim, dengan gembira dan fun ikut antri berburu takjil meski mereka tidak berpuasa.

Baca Juga: Doa Hari ke-14 Bulan Ramadhan, Kebodohan Bisa Menjadi Malapetaka dan Bencana Kesesatan

Tren non muslim berburu takjil ini cukup unik, pasalnya, mereka yang tidak menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan itu, justru paling semangat mencari takjil di sore hari.

Beberapa orang dari mereka bahkan sengaja ikut ngabuburit dengan berjalan-jalan santai keluar rumah di sore hari, agar bisa mendapatkan takjil yang enak.

Banyak yang menilai positif fenomena ini, baik umat Islam maupun umat agama lain menganggapnya sesuatu yang fun dan menarik. Sehingga banyak yang memandangnya sebagai fenomena yang mencerminkan toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Belakangan ini fenomena itu memang ramai di media sosial bahkan berbagai ulah kelompok non muslim di medsos, ikut membangun suasana begitu fun dan gembira dan berhasil memeriahkan momen berburu takjil selama bulan suci Ramadan.

Meskipun mereka tidak ikut beribadah puasa apalagi ikut shalat tarawih, mereka tampak begitu senang saat bulan Ramadhan datang, hanya karena bisa berburu takjil menggiurkan dan beragam jenisnya di sepanjang jalan.

Baca Juga: Catat! Ini 7 Resep Es Semangka Segar untuk Berbuka Puasa, Minuman Takjil Sehat Penurun Kolesterol dan Darah Tinggi

Bahkan terdapat sebuah video yang dibuat oleh seorang netizen Non Muslim yang menyatakan bahwa setiap memasuki pukul 15.00 sore hari, dirinya sudah bersiap-siap untuk menelusuri jalan untuk berburu takjil. Mereka seolah pasukan pemburu takjil yang siap bertarung. Lucu dan bikin happy.

Bahkan di Sukabumi, biarawati ikut menjual menu makanan ringan untuk takjil seperti gorengan, lumpia, serta yang manis berupa kolak.

Melihat itu, berburu takjil kini bukan sekadar menjadi tren kuliner, tapi lebih jauh mencerminkan pergeseran budaya yang lebih besar dalam masyarakat kita.

Sebenarnya, tradisi berburu takjil saat Ramadhan telah lama menjadi bagian penting dari budaya Ramadhan di banyak negara.

Baca Juga: Aksi Keren! Komunitas Bogor Melaju Bagi-Bagi Takjil di Wilayah Kampung Mongol

Keberagaman kuliner dan kebersamaan dalam berbagi makanan saat berbuka puasa, juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kemeriahan berburu takjil.

Namun, partisipasi non-Muslim dalam tradisi ini menandai fenomena baru dalam evolusi budaya kita.

Para penikmat takjil non-Muslim bukan hanya menikmati hidangan-hidangan tersebut sebagai bagian dari pengalaman kuliner, tetapi juga sebagai cara untuk memahami lebih dalam tentang budaya dan nilai-nilai Ramadhan.

Pergeseran ini mencerminkan kesadaran yang semakin meningkat akan keberagaman budaya dan nilai-nilai toleransi di masyarakat Indonesia.

Dalam era di mana garis agama dan etnis semakin tak berjarak, partisipasi non-Muslim dalam tradisi Ramadhan menunjukkan ciri indahnya toleransi yang lebih baik, tanpa harus mengganggu jalan ibadah masing-masing.

Baca Juga: Resep Mango Sago, Takjil Kekinian Untuk Buka Puasa Ramadhan!

Fenomena ini merupakan cerminan dari perubahan budaya yang menandai titik persilangan yang mempersatukan masyarakat, mengatasi perbedaan, dan menciptakan pengalaman yang berbeda bagi semua orang.

Memang ada juga kekhawatiran bahwa partisipasi non Muslim dalam takjil Ramadhan mungkin menjadi bentuk apropriasi budaya, di mana elemen-elemen budaya Islam diambil tanpa memahami konteks dan maknanya yang sebenarnya.

Namun demikian, dalam kerumitan ini, satu hal yang pasti: fenomena baru Ramadhan 2024 dengan partisipasi aktif non-Muslim dalam menikmati takjil Ramadhan adalah refleksi dari perubahan budaya yang berkelanjutan dan semakin kompleks dalam masyarakat Indonesia.

Ini menunjukkan bahwa dalam dunia yang terus berkembang, budaya dan tradisi dapat menjadi titik persilangan yang mempersatukan masyarakat dengan lebih baik, mengatasi perbedaan dan menciptakan pengalaman yang inklusif bagi semua orang.

Baca Juga: 30 Napi Rutan Bandung Gelar Khatam Al Quran Dalam Program One Day One Khatam Selama Bulan Suci Ramadhan

Momen ini mengajarkan kita untuk merayakan keberagaman dan membangun jembatan antarbudaya, menjadikan Ramadhan bukan hanya sebagai momen ibadah, tetapi juga sebagai momen untuk mempererat ikatan antarmanusia.

Dengan demikian, partisipasi non-Muslim dalam tradisi berburu takjil Ramadhan tidak hanya menambah dimensi baru pada budaya Ramadhan, tetapi juga mengajarkan kita untuk merayakan keberagaman dan membangun jembatan antarbudaya, menjadikan Ramadhan bukan hanya sebagai momen ibadah, tetapi juga sebagai momen untuk mempererat ikatan antarmanusia.*** Arya Rizqi Muhardillah (Jurusan Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University)