POJOKSATU.id, SETIAP anak adalah anugerah yang tak ternilai, dan sebagai orang tua, mendampingi mereka dalam proses tumbuh dan belajar adalah tugas yang luar biasa.

Tapi, pernahkah Bapak Ibu terpikir, bahwa mendampingi anak bukan hanya soal ketika mereka berhasil, tapi juga saat mereka gagal?

Ustadzah Hj Zulin Nurchayati, seorang ulama dari Madiun, menjelaskan, bahwa salah satu tugas paling mulia orang tua adalah hadir sebagai pendamping emosional bagi anak ketika menghadapi kegagalan.

Baca Juga: BLT Dana Desa Rp900 Ribu Cair hingga September 2025, Ini Daftar Kriteria yang Berhak sebagai Penerima

Dalam program Mutiara Pagi yang disiarkan oleh KBRN Madiun, Ustadzah Zulin menyampaikan bahwa orang tua harus berhenti menjadi sekadar “pengoreksi” bagi anak-anaknya.

Sebaliknya, mereka justru harus menjadi penenang dan penyemangat saat anak sedang kecewa.

“Dalam penyampaian kegagalan, perlu nada yang lembut, humor, dan jangan terlalu tegang. Supaya anak-anak tidak menganggap bahwa orang tua menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi,” ungkapnya.

“Karena kalau dia merasa tidak memenuhi ekspektasi orang tua, hal itu bisa membuat mereka minder," sambungnya.

Baca Juga: Dari FIPHAL UNIDA, Sejumlah Ini Mahasiswa Bawa 'Cahaya' ke SMK Amanah

Ini jadi pengingat penting ya, bahwa ekspektasi yang terlalu tinggi justru bisa bikin anak merasa tidak cukup baik.
Padahal, bisa jadi anak kita sedang berjuang sekeras mungkin.

Ustadzah Zulin juga mengingatkan agar orang tua selalu memvalidasi perasaan anak saat mereka sedang menghadapi kegagalan.

“Kesal, kecewa, marah, itu wajar banget, lho. Bukan berarti mereka lemah. Mereka sedang belajar menerima kenyataan dan bangkit kembali,” jelasnya.

Baca Juga: Anak Terlihat Hiperaktif dan Susah Tatap Mata? Jangan Diabaikan, Bisa Jadi Tanda Gangguan Pada Perkembangan

Tidak hanya itu, orang tua juga diajak untuk belajar bersikap adil—terutama dalam hal menerima kekalahan.
Artinya, jangan terburu-buru menyalahkan anak atas hasil yang kurang baik. Bisa jadi itu bagian dari proses belajar yang berharga.

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

Jadi, yuk kita renungkan, apakah kita sudah menjadi pendamping yang bijak bagi anak-anak kita saat mereka gagal? Atau justru tanpa sadar kita malah menekan mereka dengan kata-kata “seharusnya kamu bisa”?

Anak tidak butuh orang tua yang sempurna. Mereka hanya butuh orang tua yang hadir, yang mau memahami, dan yang siap menjadi pelindung ketika semangat mereka mulai redup. ***