PojokSatu.id - Di tengah maraknya tren kuliner modern yang serba cepat dan instan, banyak makanan tradisional Jawa Tengah perlahan mulai tersisih.

Beberapa di antaranya jarang lagi ditemukan di pasaran, sementara sebagian lainnya hanya bertahan di desa-desa tertentu yang masih menjaga tradisi turun-temurun.

Padahal, setiap hidangan membawa sejarah panjang serta cerita tentang kehidupan masyarakat Jawa di masa lampau.

Baca Juga: Internet Rakyat vs Layanan WiFi Lokal, Siapa Menang di Segmen Internet Murah?

Kuliner khas Jawa Tengah tidak hanya menggambarkan rasa, tetapi juga mencerminkan filosofi hidup orang Jawa yang sederhana, penuh makna, dan dekat dengan alam.

Namun, perubahan gaya hidup, modernisasi, serta melemahnya regenerasi penjual membuat sejumlah kuliner tradisional terancam punah.

Banyak anak muda bahkan tidak mengenal lagi makanan-makanan yang dulu sangat mudah dijumpai di pasar tradisional.

Baca Juga: Cakupan Internet Rakyat di Maluku dan Papua, Antara Kemajuan dan Ketimpangan di Kawasan 3T

Dalam liputan ini, PojokSatu mengangkat kuliner Jawa Tengah yang mulai langka, sebagai pengingat bahwa warisan rasa ini butuh dijaga.

Daftar berikut disusun berdasarkan penelusuran lapangan, arsip pemberitaan dari berbagai media kuliner kredibel, serta referensi budaya yang mencerminkan kekayaan gastronomi Jawa.


1. Grontol Jagung 

Grontol jagung dulu sangat populer sebagai jajanan pasar.

Baca Juga: 10 Kuliner Jawa Tengah Paling Wajib Dicoba! Legendaris, Murah, dan Selalu Bikin Rindu

Terbuat dari jagung pipil yang direbus hingga teksturnya empuk, grontol kemudian dicampur dengan parutan kelapa dan sedikit gula.

Kesederhanaan bahannya justru membuatnya memiliki rasa yang sangat khas.

Kini, jajanan ini sulit ditemukan di kota-kota besar.

Bahkan di beberapa pasar tradisional Jawa Tengah, hanya segelintir pedagang tua yang masih menjualnya. Minimnya minat generasi muda untuk melanjutkan usaha grontol membuat makanan ini nyaris hilang dari peredaran.


2. Growol Kulon Progo 

Growol merupakan makanan tradisional yang berasal dari wilayah Kulon Progo dan sebagian Purworejo.

Baca Juga: Heboh Intel Kodim Walk Out dari Polres Kubar, Ada Apa dengan Kasus Sabu 17,61 Gram?

Terbuat dari singkong yang difermentasi, growol dulu menjadi makanan pokok masyarakat pedesaan saat musim paceklik.

Rasanya gurih asam dengan tekstur lembut, biasanya disantap bersama ikan asin atau sambal.

Namun kini, growol semakin langka.

Banyak generasi muda tidak lagi mengenal proses pembuatannya yang membutuhkan waktu panjang mulai dari merendam singkong, fermentasi, hingga pengolahan akhir.

Baca Juga: Warning BKN! Perpanjangan PPPK Bergantung Anggaran, Kinerja, dan Kebutuhan Jabatan, Kok Bisa? Ini Penjelasannya

Hanya beberapa dusun yang masih mempertahankan tradisi ini sebagai identitas budaya lokal.


3. Nasi Grombyang Pemalang 

Nasi grombyang merupakan kuliner khas Pemalang yang penyajiannya sangat khas nasi disiram kuah daging berlimpah hingga terlihat “bergoyang” atau “grombyang”.

Hidangan ini memiliki rasa gurih dengan rempah ringan.

Beberapa warung legendaris di Pemalang masih bertahan, tetapi penjual baru mulai jarang bermunculan.

Perubahan gaya makan masyarakat menjadi salah satu penyebabnya.

Jika tidak segera dilestarikan, kuliner unik ini akan menjadi sekadar cerita.


4. Sego Abang Lombok Ijo 

Sego abang lombok ijo adalah makanan khas pedesaan Jawa Tengah yang identik dengan nasi merah, sambal ijo, tempe garit goreng, dan lalapan.

Baca Juga: Warning BKN! Perpanjangan PPPK Bergantung Anggaran, Kinerja, dan Kebutuhan Jabatan, Kok Bisa? Ini Penjelasannya

Penyajian yang sederhana ternyata menyimpan filosofi tentang kesederhanaan dan kecukupan.

Kini makanan ini mulai tenggelam oleh menu modern.

Banyak warung makan yang dulunya menyajikan sego abang sudah menutup usahanya.

Baca Juga: Namanya Terseret 2 kali, Bobby Nasution Tak Kunjung Diperiksa KPK

Jika Anda ingin mencicipinya, harus menuju desa-desa di Blora atau Grobogan yang masih mempertahankan menu ini.


5. Kue Mendut 

Kue mendut dulunya hampir selalu ada dalam setiap pasar tradisional.

Ciri khasnya adalah tepung ketan berisi unti kelapa, dibungkus daun pisang, dan disajikan dengan kuah santan kental.

Aromanya lembut dan rasanya manis gurih.

Tetapi seiring waktu, kue mendut mulai jarang ditemukan.

Banyak pedagang jajanan pasar beralih ke kue modern yang prosesnya lebih cepat dan lebih disukai pembeli muda.

Meski masih ada di beberapa acara adat, keberadaannya dalam keseharian mulai memudar.


6. Jenang Kudus Tradisional 

Jenang Kudus memang masih banyak dijual sebagai oleh-oleh.

Baca Juga: Namanya Terseret 2 kali, Bobby Nasution Tak Kunjung Diperiksa KPK

Tetapi varian jenang tradisional dengan teknik masak manual dan rasa khas rumahan semakin berkurang.

Banyak produsen kecil gulung tikar karena kalah bersaing dengan pabrikan besar.

Hanya beberapa keluarga tua di Kudus yang masih mempertahankan teknik asli, seperti memasak jenang di atas tungku kayu selama berjam-jam hingga mencapai tekstur yang sempurna.

Baca Juga: Heboh Intel Kodim Walk Out dari Polres Kubar, Ada Apa dengan Kasus Sabu 17,61 Gram?

Tanpa dukungan generasi penerus, jenang tradisional versi autentik ini bisa hilang dalam beberapa dekade ke depan.

 

7. Ampyang Jahe 

Ampyang jahe, campuran kacang tanah dengan gula merah dan jahe, dulunya sangat populer sebagai camilan penghangat tubuh.

Rasanya manis pedas dengan aroma jahe yang kuat.

Namun kini produksi ampyang semakin berkurang.

Generasi muda lebih memilih snack modern, membuat banyak produsen rumahan berhenti produksi.

Hanya sedikit daerah di Magelang dan Temanggung yang masih memproduksinya secara tradisional.


Mengapa Banyak Kuliner Jawa Tengah Mulai Menghilang?

Setidaknya ada empat faktor utama yang membuat kuliner tradisional Jawa Tengah semakin langka:

  1. Regenerasi Terhenti:
    Banyak penjual adalah generasi tua yang tidak memiliki penerus.

  2. Waktu Produksi Lama:
    Banyak makanan tradisional membutuhkan proses masak yang panjang

  3. Perubahan Selera Pasar:
    Generasi muda cenderung memilih kuliner modern, instan, dan visual.

  4. Persaingan dengan Produk Pabrikan:
    Produk kemasan lebih mudah dipasarkan dibandingkan jajanan tradisional.

Tanpa upaya pelestarian, kuliner-kuliner ini hanya akan tersisa di arsip budaya.

Baca Juga: Warning BKN! Perpanjangan PPPK Bergantung Anggaran, Kinerja, dan Kebutuhan Jabatan, Kok Bisa? Ini Penjelasannya

Beberapa komunitas kuliner dan pemerintah daerah telah mencoba melakukan pengenalan ulang melalui festival kuliner, workshop memasak tradisional, hingga digitalisasi resep.

Namun langkah ini baru permulaan. Peran masyarakat, khususnya generasi muda, sangat penting agar kuliner Jawa Tengah tidak berhenti di satu generasi saja.***