POJOKSATU.id — Asap akibat pembakaran hutan dan lahan dapat membuat kualitas udara menurun serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai, terutama ketika konsentrasi partikel halus seperti PM2.5 di udara meningkat.
Paparan asap dalam waktu tertentu dapat mengganggu sistem pernapasan dan memicu berbagai keluhan kesehatan.
Oleh larena itu, masyarakat perlu melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi paparan ketika udara di lingkungan sekitar mulai dipenuhi asap.
Baca Juga: Ide Hobi untuk Introvert yang Menyenangkan dan Bisa Dilakukan Sendiri
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membatasi aktivitas di luar ruangan.
Ketika asap terlihat pekat atau kualitas udara berada dalam kondisi buruk, sebaiknya masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah dan memantau perkembangan kualitas udara melalui informasi dari sumber resmi.
Jika terpaksa harus beraktivitas di luar, penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus dapat membantu mengurangi paparan asap.
Baca Juga: Potongan Video KDM Kena Marah Ibu-ibu Viral Lagi, Niat Mau Bantu Lansia Marah Diusir Menantunya
Masker seperti N95 atau FFP2 yang digunakan dengan posisi tepat dapat menjadi pilihan ketika kondisi udara dipenuhi asap.
Perlindungan juga perlu dilakukan ketika berada di dalam rumah.
Pintu dan jendela sebaiknya ditutup saat udara di luar sedang tercemar agar asap tidak mudah masuk ke dalam ruangan.
Baca Juga: Megan KATSEYE Bicara Soal Kesehatan Mental, Ungkap Pentingnya Terapi dan Dukungan Member
Ventilasi yang langsung mengambil udara dari luar juga sebaiknya diminimalkan ketika konsentrasi asap sedang tinggi.
Selain itu, masyarakat perlu menghindari aktivitas yang dapat menambah polusi udara di dalam rumah.
Merokok, membakar sesuatu, maupun kegiatan lain yang menghasilkan banyak asap sebaiknya tidak dilakukan ketika kualitas udara sedang buruk.
Kondisi tubuh juga perlu diperhatikan selama terjadi paparan asap.
Baca Juga: Beasiswa Maung Depok Tahap 2 2026, Ada Bantuan UKT hingga Rp3,85 Juta, Ini Syaratnya
Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain iritasi pada mata dan tenggorokan, batuk, sakit kepala, mengi, hingga kesulitan bernapas.
Apabila keluhan terasa berat atau kondisi kesehatan semakin memburuk, sebaiknya segera mendapatkan pertolongan medis.
Perhatian lebih juga perlu diberikan kepada kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki gangguan pada sistem pernapasan atau kardiovaskular.
Baca Juga: Beasiswa Maung Depok Tahap 2 2026, Ada Bantuan UKT hingga Rp3,85 Juta, Ini Syaratnya
Dengan demikian, mengurangi paparan menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan ketika udara tercemar asap pembakaran hutan.
Masyarakat sebaiknya tetap berada di lingkungan dengan kualitas udara yang lebih baik dan mengikuti arahan dari pemerintah maupun petugas terkait selama kondisi udara belum membaik.***




