POJOKSATU.id - Keutamaan istri yang memasak untuk berbuka puasa bukan sekadar soal rutinitas dapur atau kewajiban rumah tangga.

Di balik aktivitas sederhana itu, tersimpan pahala besar yang sering kali luput dari perhatian.

Seorang perempuan yang telah menikah memikul tanggung jawab besar terhadap suami dan keluarganya.

Ia bukan hanya pendamping hidup, tetapi juga pengatur ritme rumah tangga. Ketika bulan Ramadan tiba, perannya terasa semakin nyata.

Baca Juga: Hati Hati, Kebiasaan Langsung Tidur Setelah Sahur Bisa Tingkatkan Risiko Gerd Hingga Stroke

Ia bangun lebih awal untuk sahur, lalu kembali ke dapur menjelang maghrib demi menyiapkan hidangan berbuka.

Di saat orang lain mungkin menunggu adzan dengan beristirahat, ada tangan-tangan yang sibuk mengiris, menumis, merebus, dan menata hidangan.

Jika semua itu dilakukan dengan ikhlas karena Allah, maka setiap tetes keringatnya bernilai ibadah.

Pahala Menyediakan Makanan Berbuka

Dalam HR Al-Baihaqi dan Ibn Khuzaimah, Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda, “Siapa yang menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, baginya pahala seumpama pahala bagi orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya (orang yang berpuasa itu)."

Baca Juga: Megah dan Sarat Sejarah, Inilah Pesona Masjid Cordoba di Jantung Eropa Barat

Hadis ini menunjukkan betapa besar ganjaran bagi siapa pun yang menyediakan makanan berbuka.

Para ulama menjelaskan, keutamaan ini juga berlaku dalam lingkup keluarga.

Seorang suami yang menafkahi kebutuhan berbuka puasa bagi istri dan anak-anaknya akan mendapatkan pahala. Begitu pula istri yang memasak dan menyiapkan makanan tersebut.

Syekh Shaleh Al Munajjid menjelaskan, “Bahkan jika seorang suami membelanjakan hal itu dengan hartanya dan seorang istri yang memasak makanannya dan menyiapkannya bagi orang-orang yang berpuasa, maka suami tadi akan mendapatkan pahala membelanjakan hartanya dan berusaha untuk memberikan buka puasa kepada mereka yang sedang berpuasa dan bagi si istri juga diharapkan juga akan mendapatkan pahala tersebut karena tenaga dan keletihannya dan memberikan makanan dengan hasil karya tangannya.”

Baca Juga: Trailer “Toy Story 5” Resmi Dirilis, Angkat Isu Anak dan Ketergantungan Gadget

Artinya, pahala itu tidak saling mengurangi. Suami mendapatkan pahala karena hartanya, istri mendapatkan pahala karena tenaganya. Bisa dibayangkan, jika satu keluarga terdiri dari beberapa anggota, maka setiap piring yang tersaji menjadi ladang pahala yang terus bertambah.

Bahkan ketika seorang istri sedang berhalangan dan tidak berpuasa, ia tetap berpeluang meraih pahala besar jika menyediakan hidangan berbuka bagi keluarganya.

Allah Subhanahu wa ta'ala tidak menilai semata dari siapa yang menahan lapar, tetapi juga siapa yang memudahkan orang lain dalam beribadah.

Memberi Makan Orang Berpuasa, Amalan yang Dicintai Allah

Menurut Ahmad Syaikhu dalam buku Ramadhan di Tengah Wabah: Panduan Puasa & Kultum (2020), memberi makan orang yang berpuasa termasuk amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Amalan ini bukan hanya bentuk kedermawanan, tetapi juga wujud kepedulian sosial.

Baca Juga: Amalan Sunnah Sahur Sesuai Sunnah Rasulullah SAW, Jangan Sekadar Makan dan Minum

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun” (HR Ahmad dan An-Nasai).

Hairul Hudaya dalam buku Fiqh Puasa, Lailatul Qadar dan Zakat Fitrah (2022) menjelaskan bahwa sabda Rasulullah ini mengajarkan lebih dari sekadar empati.

Puasa memang melatih kita merasakan lapar dan dahaga seperti yang dirasakan orang miskin. Namun Islam tidak berhenti pada rasa, melainkan mendorong aksi nyata, yaitu memberi makan mereka.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan.

Ibnu Abbas meriwayatkan, "Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril" (HR Bukhari).

Baca Juga: Keutamaan Sahur di Bulan Ramadan, Ini Doa dan Landasan Syar’inya

Kedermawanan beliau bahkan digambarkan lebih cepat daripada angin yang berhembus.

Beliau juga bersabda, "Sedekah yang paling utama adalah pada bulan Ramadhan" (HR At-Tirmidzi). Ini menegaskan bahwa memberi makanan berbuka termasuk sedekah yang sangat mulia.

Dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Zubair, Rasulullah SAW pernah berbuka di rumah Sa'ad bin Mu'adz dan bersabda, "Orang-orang berpuasa telah berbuka di rumahmu, makanan kalian dikonsumsi oleh orang-orang baik, dan malaikat mendoakan Rahmat bagimu."

Betapa indahnya doa itu. Rumah yang menyediakan makanan berbuka bukan hanya dipenuhi aroma masakan, tetapi juga doa malaikat.

Kisah Aisyah RA tentang Sedekah Makanan

Ada kisah menyentuh dari Aisyah RA. Suatu ketika ia menyajikan paha domba kesukaan Rasulullah SAW.

Baca Juga: Doa Setelah Sahur Lengkap dengan Latin dan Artinya, Amalan Mustajab Waktu Terbaik di Sepertiga Malam

Rasulullah bertanya, "Apakah engkau sudah memberikan makanan ini kepada Abu Hurairah dan tetangga kita?" Aisyah menjawab, "Sudah, ya Rasulullah."

Beliau terus bertanya tentang tetangga-tetangga lainnya hingga Aisyah merasa penat menjawab. Aisyah lalu berkata, “Sudah habis ku berikan, Ya Rasulullah, yang tinggal hanya apa yang ada di depan kita saat ini.”

Rasulullah tersenyum dan bersabda, ”Engkau salah Aisyah, yang habis adalah apa yang kita makan ini dan yang kekal adalah apa yang kita sedekahkan.”

Pelajaran dari kisah ini begitu dalam. Apa yang kita santap akan habis. Namun apa yang kita berikan di jalan Allah akan kekal sebagai amal jariyah.

Manfaat Sosial Berbagi Makanan Berbuka

Berbagi makanan berbuka puasa tidak hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga sosial. Momen berbuka bersama keluarga, tetangga, atau sahabat mempererat silaturahmi dan menguatkan ukhuwah Islamiyah.

Baca Juga: Idol K-Pop Pria Ternama Dikabarkan Miliki Anak di Luar Nikah, Netizen Heboh Menebak Sosok Tersebut

Memberi makan orang yang berpuasa menumbuhkan empati dan kepedulian. Kita diajak melihat kebutuhan orang lain, terutama yang kurang mampu.

Dari dapur rumah, nilai kedermawanan itu tumbuh dan menyebar.

Dengan cara sederhana seperti menyediakan hidangan berbuka puasa untuk keluarga, membagikan takjil, atau mengirim makanan kepada tetangga, seorang istri telah berkontribusi besar dalam membangun kebaikan sosial. ***