POJOKSATU.id — Di era digital seperti sekarang, pelajar dan mahasiswa Indonesia dihadapkan pada tantangan baru: menjaga stabilitas emosi dan kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi yang tidak selalu positif.
Berita tentang demonstrasi, korupsi pejabat, hingga kekerasan di ruang publik yang tersebar di media sosial sering kali membuat banyak anak muda merasa cemas, frustasi, dan kehilangan semangat belajar.
Psikolog Klinis Pamela Andari Priyudha, M.Psi., menjelaskan paparan terus-menerus terhadap berita negatif dapat memicu stres kolektif dan perasaan tidak berdaya yang disebut learned helplessness.
“Ketika seseorang merasa tidak mampu mengubah situasi, meskipun sebenarnya ada peluang, mereka bisa mengalami apatisme dan depresi secara kolektif,” jelas Pamela.
Baca Juga: Edit Foto Melayang Ala Opening Anime dengan Google Gemini AI, Cukup Modal Prompt Ini!
Literasi Digital Jadi Perisai Utama
Pamela menekankan bahwa literasi digital adalah kemampuan penting yang wajib dimiliki pelajar dan mahasiswa masa kini.
Banyak orang, kata dia, terjebak pada kesimpulan salah karena hanya membaca judul berita atau komentar tanpa memahami konteksnya.
“Media sosial punya pengaruh besar terhadap cara kita berpikir. Tapi sayangnya, informasi yang tersebar di sana tidak selalu benar,” ujarnya.
Menurutnya, terlalu sering membaca berita negatif dapat membuat tubuh terus berada dalam mode waspada.
Kondisi ini memicu kecemasan berlebihan yang, jika dibiarkan, bisa berkembang menjadi stres kronis.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Oleh-Oleh Khas Tangerang Selatan yang Oke Banget
Siapa yang Paling Rentan?
Pamela menyebut bahwa remaja dan mahasiswa termasuk kelompok yang paling rentan terkena dampak psikologis dari paparan berita buruk.
Terutama bagi mereka yang:
- terlalu sering membuka media sosial,
- memiliki literasi digital rendah,
- atau jarang mengakses sumber informasi yang kredibel.
Ia menambahkan bahwa kemampuan seseorang untuk mengatur emosi (emotion regulation) sangat menentukan bagaimana ia menghadapi tekanan informasi di dunia digital yang serba cepat ini.
“Institusi pendidikan dan komunitas perlu berperan aktif memberikan edukasi berkelanjutan soal literasi digital dan keterampilan mengelola emosi,” ujarnya.
Baca Juga: Warga Japlor Tuntut Tanggung Jawab dan Transparansi Pemdes Japura Lor Soal Betonisasi DD Tahap 2
Tips Praktis untuk Jaga Mental di Era Informasi
Pamela juga membagikan beberapa strategi sederhana yang bisa diterapkan oleh pelajar dan mahasiswa agar tidak mudah stres saat menghadapi banjir berita negatif:
Batasi waktu konsumsi berita. Hindari membaca berita saat kamu sedang lelah atau emosional.
Cek sumber informasi. Pastikan berita berasal dari media terpercaya, bukan hanya dari unggahan viral.
Hindari topik pemicu stres. Jika isu tertentu membuat kamu gelisah, ambil jarak sejenak.
Konsumsi konten positif. Tonton video edukatif, motivasi, atau hiburan ringan yang menenangkan.
Latih kontrol diri (self-control). Fokus pada hal-hal yang bisa kamu kendalikan, bukan pada hal di luar jangkauanmu.
“Dengan mengenali batas kendali diri, seseorang bisa menjaga semangat dan tetap optimis,” jelas Pamela.
Dukungan Emosional Itu Penting
Dalam lingkungan kampus atau sekolah, dukungan dari teman dan komunitas punya peran besar dalam menjaga kesehatan mental bersama.
Pamela menegaskan bahwa menjadi pendengar yang baik bisa menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti.
“Sadari bahwa kadang seseorang hanya ingin didengarkan tanpa dihakimi,” tuturnya.
Namun, sebelum membantu orang lain, penting juga untuk memahami kondisi mental diri sendiri agar tidak mengalami kelelahan emosional (emotional burnout).
Bila situasi terasa berat, segera hubungi tenaga profesional seperti psikolog, konselor, atau psikiater.
Baca Juga: Xiaomi Pad Mini, Tablet Ringkas Andal untuk Pelajar Digital Masa Kini
Peran Kampus dan Komunitas
Pamela yang juga pengajar di Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM menegaskan bahwa lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membangun ketahanan mental mahasiswa.
Kampus seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar, tumbuh, dan berdialog dengan sehat.
Sementara itu, komunitas pelajar dan mahasiswa juga berperan penting dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat.
Dengan kerja sama kolektif, komunitas bisa membantu memverifikasi informasi, menyebarkan konten positif, dan menumbuhkan empati antarsesama.
“Komunitas dapat membangun ruang publik yang bebas dari misinformasi dan ujaran kebencian, sekaligus menumbuhkan solidaritas sosial,” pungkasnya. ***




