POJOKSATU.id — Kelas menengah kerap dianggap sebagai kelompok yang paling “aman” secara ekonomi.

Penghasilan rutin, pekerjaan tetap, dan gaya hidup yang relatif stabil membuat banyak orang mengira posisi ini sudah cukup nyaman.

Namun dalam praktiknya, tak sedikit dari kelompok kelas menengah justru kesulitan menjadi kaya dan naik kelas ekonomi.

Baca Juga: Guru Honorer Tak Lolos PPPK? PJLP Muncul sebagai Jalur Baru, Begini Cara Kerja dan Dampaknya

Fenomena ini bukan terjadi tanpa sebab.

Meski bekerja keras dan memiliki penghasilan tetap, kelas menengah sering kali terjebak dalam pola hidup yang membuat kekayaan sulit bertumbuh.

Salah satu penyebab utama adalah penghasilan yang habis untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Mau Latihan CPNS Gratis? Ini Link Simulasi CAT Resmi BKN dan Lainnya

Gaji bulanan sering kali langsung terserap untuk cicilan rumah, kendaraan, biaya pendidikan anak, hingga kebutuhan sehari-hari.

Ruang untuk menabung apalagi berinvestasi menjadi sangat terbatas.

Selain itu, kelas menengah juga kerap terjebak tekanan gaya hidup.

Baca Juga: Gen Z Dinilai Belum Siap Masuk Dunia Kerja, Ini Penyebab dan Solusinya

Ada tuntutan sosial untuk terlihat mapan, mulai dari memiliki rumah sendiri, kendaraan pribadi, hingga mengikuti tren konsumsi tertentu.

Ketika penghasilan naik, pengeluaran pun ikut naik. Kondisi ini membuat keuangan jalan di tempat meski gaji bertambah.

Masalah lain yang tak kalah krusial adalah ketergantungan pada satu sumber penghasilan.

Baca Juga: AHM Dukung Pemulihan Bencana Sumatera, Hadirkan Service Motor Gratis hingga Bangun Sarana Air Bersih

Sebagian besar kelas menengah mengandalkan gaji bulanan sebagai sumber utama pemasukan.

Ketika terjadi risiko seperti pemutusan hubungan kerja atau gangguan kesehatan, kondisi finansial bisa langsung terguncang.

Dari sisi waktu dan energi, kelas menengah juga kerap kalah langkah.

Baca Juga: Pendaftaran Unhan 2026 Dibuka Februari, Kuliah Gratis dan Jadi Kadet Bela Negara

Jam kerja yang panjang membuat banyak orang tidak sempat belajar membangun aset produktif, mengembangkan usaha sampingan, atau meningkatkan keterampilan bernilai tinggi.

Akibatnya, penghasilan sulit berkembang di luar gaji tetap.

Kelas menengah juga sering salah kaprah soal rasa aman finansial.

Baca Juga: Heboh! Tanah Amblas di Pondok Balik Makin Melebar, Jalan Vital Aceh Tengah–Bener Meriah Terancam Putus

Memiliki rumah atau gaji besar kerap dianggap sebagai tanda kemapanan, padahal tanpa aset produktif yang menghasilkan arus kas, kekayaan tidak benar-benar bertumbuh.

Tekanan pajak dan biaya hidup turut mempersempit ruang gerak.

Kelas bawah masih mendapatkan berbagai bentuk subsidi, sementara kelas atas memiliki strategi pengelolaan pajak yang lebih fleksibel.

Baca Juga: Registrasi SNPMB 2026 Resmi Dibuka! Ini Tahapan Penting yang Wajib Dipahami Siswa Kelas 12

Di sisi lain, kelas menengah harus menanggung pajak penuh dengan biaya hidup yang terus meningkat.

Tak hanya itu, rasa takut gagal juga menjadi penghambat besar.

Dengan tanggungan keluarga dan cicilan, banyak kelas menengah memilih bermain aman dan enggan mengambil risiko terukur.

Baca Juga: SK PPPK Paruh Waktu Tak Bisa Diunduh di MyASN, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Padahal, mobilitas ekonomi sering kali menuntut keberanian mencoba hal baru dan belajar dari kegagalan.

Pada akhirnya, kelas menengah bukan tidak bekerja keras.

Namun tanpa perubahan pola pikir dari sekadar konsumsi menuju akumulasi aset dan penciptaan nilai, upaya untuk menjadi kaya dan naik kelas ekonomi akan terus menemui jalan terjal.***