POJOKSATU.id — Pernah nggak sih, niat mau belajar malah kebablasan scroll FYP di TikTok. Padahal niat awalnya cuma lima menit. Eh, tahu-tahu sudah satu jam lebih.

Tiba-tiba sadar otak terasa penat, lemot kayak laptop jadul. Belajar akhirnya gak jadi.

Nah, untuk mengatasi itu semua, ada jurus ampuh yang bisa digunakan oleh pelajar. Namanya monthly curriculum alias kurikulum bulanan.

Singkatnya, ini cara keren buat bikin rencana belajar setiap bulan. Nggak usah serius-serius banget, pokoknya tujuannya biar otak tetap hidup, nggak cuma jadi korban endless scrolling.

Baca Juga: Catatan Anti Lemot! Cara Seru Mencatat dengan Teknik Cornell untuk Pelajar SMA

Apa Itu Brain Rot?

Sebelum membahas tips pelajar tentang monthly curriculum, kita pahami dulu apa itu Brain Rot. Istilah ini mungkin sering lewat di timeline ya.

Brain rot bukan penyakit resmi, tapi dipakai buat menggambarkan kondisi otak yang “lemot” karena kebanyakan konsumsi konten instan.

Jadi seperti HP penuh cache yang gampang panas dan gampang nge-lag.

Paul Wright dari Nuvance Health Neuroscience Institute menjelaskan fenomena Brain rot ini.

“Meski bukan diagnosis medis, terlalu lama menatap layar bisa mengganggu fokus, mood, bahkan bikin kualitas tidur berantakan.

Kalau kita ganti scrolling dengan baca atau aktivitas lain, otak jadi lebih sehat dan tajam,” jelas Paul Wright.

Baca Juga: Mengapa Mahasiswa Wajib Punya LINKEDIN? Bukan Mau Cari Jodoh, Ini Peluang UNJUK SKILL yang Bisa Dibangun

Bagaimana Monthly Curriculum Bekerja?

Tren ini pertama kali dipopulerkan oleh Elizabeth Jean, kreator TikTok yang hobinya bikin kurikulum pribadi tiap bulan.

Dalam monthly curriculum sudah pasti kamu tidak akan menemukan guru yang killer, ujian mendadak atau nilai rapor merah.

Baca Juga: Kenalan dengan TEKNIK BELAJAR FEYNMAN, Siapa Tahu Jadian, Membuat yang Rumit Jadi Sederhana dan Mudah Dipahami

Pokoknya, belajarnya sesuai selera pribadi. Tapi tiap bulan kamu memilih topik tertentu.

Jadi caranya, bulan ini Elizabeth baca memoar, bulan berikutnya belajar masak, lalu pindah ke biografi tokoh.

Semua berjalan sesuai mood. Kalau lagi seru, ya dikejar terus. Kalau bosan, tinggal ganti.

Inspirasi ini nular ke banyak orang. Salah satunya Gianna Jackson, yang bikin silabus bulanan isinya interior design, astrologi, sampai “manifestation and neuroscience.”

Bahkan, ia rajin baca Just Kids karya Patti Smith, biar tetap ada unsur seni dalam belajarnya.

Monthly Curriculum vs Scroll FYP

Jadi, prinsipnya kita mengkategorikan pengetahuan tanpa random. Coba bayangin perbedaannya:

  • Scroll FYP: Dapet info random kayak resep es kepal Milo, gosip artis, atau teori konspirasi kucing alien.

  • Monthly Curriculum: Kamu pilih topik sesuai minat, misalnya belajar sejarah kopi, cara bikin sourdough, atau biografi tokoh inspiratif.

Efeknya, kalau scroll FYP hasilnya sering lupa dalam lima menit. Karena pengetahuan itu loncat-loncat. Sedangkan kalau ikut kurikulum bulanan, otakmu dapet “asupan gizi” jangka panjang.

Baca Juga: 8 Aplikasi Catatan Keuangan Gratis, Biar Anak Kost Nggak Bokek di Tengah Bulan

Monthly Curriculum Ala Netizen

Kalau kamu kepikiran coba tren ini, bisa mulai dengan langkah sederhana:

  1. Ikuti Minat Pribadi
    Mulai dari hal-hal yang bikin kamu penasaran. Mau belajar astrologi, desain rumah, atau bahkan sejarah sandal jepit, sah-sah aja. Semakin seru buatmu, semakin mudah konsisten.

  2. Sertakan Ragam Materi
    Jangan bayangin harus baca buku setebal kamus. Artikel pendek, video dokumenter, podcast, bahkan eksperimen di dapur juga bisa masuk kurikulum.

  3. Main ke Perpustakaan
    Biar nggak melulu ketergantungan sama Google. Kadang lihat-lihat buku fisik bisa bikin inspirasi nongol mendadak.

    Baca Juga: Bukan Pakai Google Maps, Begini Cara Belajar Anti Nyasar dengan MIND MAP, Peta Konsep untuk Pelajar, GPS Otak Meringkas Pembelajaran
  4. Gunakan Waktu Singkat
    Nggak perlu nunggu weekend panjang. Manfaatkan momen kecil—kayak saat makan tanpa HP atau sebelum tidur. Kata Wright, konsistensi itu jauh lebih penting daripada durasi.

  5. Dokumentasikan Prosesnya
    Bisa lewat jurnal, catatan kecil, atau posting di medsos. Selain jadi pengingat, siapa tahu kamu bisa jadi inspirasi orang lain.

So, Worth It Nggak?

Kalau biasanya tiap bulan kita sibuk bikin wishlist belanja, kenapa nggak sekali-kali bikin wishlist pengetahuan?

Monthly curriculum bisa jadi cara simpel buat bikin otak tetap “segar bugar.”

Dan siapa tahu, suatu hari kamu malah jadi ahli mendadak di bidang yang nggak pernah kamu sangka.***

Baca Juga: Lenovo Resmi Luncurkan Legion Tab di Indonesia, Tablet Gaming Perkasa untuk Anak Muda, Tetap Tangguh untuk Pelajar

Semoga informasi ini bermanfaat.

Silahkan berikan tanggapan di kolom komentar dan bantu share info ini ya.

Akses artikel tanpa iklan bisa dibaca melalui apps kami: