POJOKSATU.id — Fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) akan kembali menghiasi langit pada 2027.

Peristiwa astronomi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 2 Agustus 2027 dan menjadi salah satu gerhana yang cukup menarik untuk diamati.

Pada saat gerhana total terjadi, Bulan akan berada di antara Matahari dan Bumi sehingga piringan Matahari tertutup sepenuhnya dari pandangan pengamat yang berada di jalur totalitas.

GMT 2027 juga menarik perhatian karena fase totalitasnya dapat berlangsung selama beberapa menit.

Baca Juga: Kartu Ujian PKN STAN 2026 Sudah Bisa Diunduh? Ini Cara Cek di SSCASN

Di lokasi tertentu, durasi totalitas maksimum diperkirakan mencapai sekitar 6 menit 23 detik.

Jalur totalitas gerhana akan membentang cukup panjang, mulai dari wilayah Eropa Selatan, Afrika Utara, hingga kawasan Timur Tengah dan Afrika Timur.

Sejumlah negara yang berada di jalur totalitas di antaranya Spanyol bagian selatan, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Arab Saudi, Yaman, dan Somalia.

Meski demikian, tidak seluruh wilayah negara tersebut akan mengalami gerhana total.

Baca Juga: Tajemtra 2026 Digelar, Dinkes Jember Siagakan Penuh Puluhan Armada Homecare dan Nakes di 51 Titik

Hanya daerah yang dilewati jalur bayangan inti Bulan yang dapat menyaksikan Matahari tertutup sepenuhnya.

Sementara itu, wilayah di luar jalur totalitas masih berkesempatan melihat Gerhana Matahari Sebagian.

Cakupan gerhana sebagian jauh lebih luas dan dapat meliputi sejumlah wilayah di Eropa, Afrika, Timur Tengah, serta sebagian kawasan Asia.

Indonesia sendiri tidak termasuk dalam jalur totalitas Gerhana Matahari 2 Agustus 2027.

Dengan demikian, masyarakat di Indonesia tidak dapat menyaksikan fase Matahari tertutup sepenuhnya oleh Bulan dari wilayah Tanah Air.

Fenomena gerhana Matahari total memang tidak terjadi di satu tempat secara rutin setiap beberapa tahun.

Baca Juga: Tukin TNI 2026 Tertinggi Rp48,6 Juta, Cek Daftar Lengkap Berdasarkan Jabatan

Meskipun secara global gerhana Matahari dapat terjadi beberapa kali dalam setahun, jalur totalitasnya sangat sempit sehingga lokasi tertentu dapat menunggu waktu yang sangat lama untuk kembali mengalami gerhana total.

Dalam astronomi dikenal istilah Saros, yakni siklus sekitar 18 tahun 11 hari 8 jam yang membuat konfigurasi gerhana kembali hampir serupa.

Namun, siklus tersebut tidak berarti lokasi yang sama akan mengalami gerhana Matahari total setiap 18 tahun.

Jalur gerhana akan bergeser akibat tambahan sekitar delapan jam dalam satu siklus Saros.

Baca Juga: Luruskan Isu Defisit P-APBD 2026, Bupati Gus Fawait Tegaskan Jember Tak Kekurangan Uang: Itu Strategi Politik Anggaran!

Karena Bumi telah berotasi sekitar sepertiga putaran selama periode tersebut, gerhana berikutnya akan terlihat di wilayah yang berbeda.

Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2027 sendiri merupakan bagian dari Saros 136.

Gerhana dari seri Saros yang sama sebelumnya terjadi pada 11 Juli 1991, sementara gerhana berikutnya akan kembali memiliki pola serupa dengan jalur yang bergeser.

Oleh karena itu, kesempatan menyaksikan gerhana Matahari total dari satu lokasi tertentu terbilang langka.

Baca Juga: Iring-Iringan Ribuan Warga Warnai Pendaftaran Teh Alya, Sinyal Kuat Menuju Pilkades Bengle

Kemunculan GMT di lokasi yang sama dapat memiliki jeda puluhan hingga ratusan tahun, tergantung posisi geografis dan pola jalur gerhana.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah jalur totalitas, GMT 2027 dapat menjadi kesempatan langka untuk menyaksikan salah satu fenomena astronomi paling spektakuler.

Namun, pengamatan gerhana Matahari tetap harus dilakukan dengan aman.

Pengamat tidak dianjurkan melihat langsung ke arah Matahari tanpa perlindungan mata khusus yang dirancang untuk mengamati gerhana.***