POJOKSATU.id - Pernah tiba-tiba sulit tidur karena kepikiran seseorang?
Atau mendadak kehilangan selera makan gara-gara terlalu merindukan keluarga, pasangan, teman, bahkan kampung halaman?
Ternyata, rasa kangen tidak selalu berhenti sebagai urusan hati.
Ketika berlangsung cukup kuat dan lama, kerinduan dapat memengaruhi kondisi psikologis sekaligus memunculkan sejumlah reaksi pada tubuh.
Dalam psikologi, rasa kangen berkaitan erat dengan kebutuhan manusia untuk terhubung dengan orang atau lingkungan yang memberikan rasa aman, nyaman, dan kasih sayang.
Itulah sebabnya, ketika sosok yang dianggap penting tiba-tiba jauh atau tidak lagi hadir, muncul rasa kehilangan yang bisa terasa cukup berat.
Kenapa Rasa Kangen Bisa Terasa Begitu Menyiksa?
Ketika seseorang berinteraksi dengan orang yang disayangi, berbagai proses kimiawi terjadi di dalam otak.
Sistem penghargaan dan ikatan sosial ikut bekerja sehingga seseorang dapat merasa nyaman dan bahagia.
Ketika hubungan atau interaksi itu mendadak terputus, perubahan kondisi emosional tersebut dapat memicu respons stres.
Akibatnya, rasa rindu bisa datang bersama kegelisahan, suasana hati yang menurun, sulit berkonsentrasi, bahkan tubuh terasa tidak nyaman.
Jadi, kalau seseorang merasa dadanya berdebar atau pikirannya terus tertuju kepada orang yang dirindukan, bukan berarti ia sekadar “baper”.
Respons emosional memang dapat terasa sampai secara fisik.
Kangen Berat Bisa Mengganggu Waktu Tidur
Salah satu dampak yang cukup sering muncul ketika seseorang mengalami tekanan emosional adalah perubahan pola tidur.
Pikiran yang terus aktif memikirkan seseorang dapat membuat tubuh sulit memasuki kondisi rileks.
Akibatnya, seseorang bisa lebih susah tidur, tidur tidak nyenyak, atau terbangun berkali-kali pada malam hari.
Kalau kondisi seperti ini berlangsung terus, tubuh tentu ikut kelelahan.
Nafsu Makan Juga Bisa Berubah
Rasa rindu yang dibarengi stres emosional juga dapat memengaruhi pola makan.
Ada orang yang justru kehilangan selera makan ketika sedang menghadapi perpisahan, patah hati, atau homesickness.
Sebaliknya, sebagian orang bisa mengalami perubahan pola makan karena menggunakan makanan sebagai cara untuk menghadapi tekanan emosional.
Stres juga dapat memengaruhi sistem pencernaan sehingga muncul keluhan seperti mual atau perut terasa tidak nyaman.
Karena itu, meskipun sedang galau atau kangen berat, kebutuhan makan dan minum tetap jangan sampai diabaikan.
Jangan Anggap Remeh Stres yang Berlangsung Lama
Rasa kangen pada dasarnya merupakan emosi yang normal.
Namun, ketika perasaan tersebut berubah menjadi stres berkepanjangan dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisinya perlu diperhatikan.
Stres kronis dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk kualitas tidur, energi, konsentrasi, serta kemampuan tubuh menghadapi tekanan.
Seseorang yang terus-menerus merasa sedih, cemas, kehilangan minat melakukan aktivitas, atau kesulitan menjalani rutinitas sebaiknya tidak memendam semuanya sendirian.
Ada Pula yang Disebut Sindrom Patah Hati
Dalam kondisi emosional yang sangat berat, terutama setelah kehilangan atau peristiwa yang mengejutkan, terdapat kondisi medis yang dikenal sebagai Takotsubo cardiomyopathy atau sindrom patah hati.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan gejala seperti nyeri dada dan sesak napas yang menyerupai serangan jantung.
Salah satu pemicunya dapat berupa lonjakan stres yang sangat kuat.
Namun, gejala nyeri dada atau sesak napas tidak boleh langsung dianggap hanya akibat kangen atau stres.
Kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan medis karena bisa juga berkaitan dengan masalah jantung yang serius.
Lalu, Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Kangen?
Kangen bukan sesuatu yang harus dilawan atau dianggap sebagai kelemahan. Perasaan tersebut justru perlu diakui terlebih dahulu.
Kalau masih memungkinkan, berkomunikasi dengan orang yang dirindukan bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk mengurangi rasa kehilangan.
Telepon, bertukar pesan, atau melakukan video call dapat membantu menjaga rasa terhubung.
Namun, tidak semua orang yang dirindukan bisa dihubungi.
Dalam kondisi seperti perpisahan atau kehilangan orang terdekat, pendekatannya tentu berbeda.
Cobalah tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, melakukan hobi, berolahraga ringan, dan menjaga hubungan dengan orang-orang yang masih berada di sekitar.
Bercerita kepada teman atau keluarga juga bisa membantu. Jangan buru-buru mengurung diri hanya karena sedang merasakan kehilangan.
Menulis perasaan melalui jurnal pun dapat menjadi salah satu cara untuk mengenali apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Jika rasa sedih, cemas, atau rindu sudah sangat berat hingga mengganggu tidur, makan, pekerjaan, maupun aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional juga merupakan pilihan yang wajar.
Meminta bantuan bukan berarti seseorang lemah.
Justru itu bisa menjadi langkah untuk memahami perasaan dan mendapatkan cara penanganan yang lebih tepat.***




