POJOKSATU.id - Menjelang Hari Raya Iduladha, aktivitas jual beli hewan kurban mulai ramai di berbagai daerah. Banyak masyarakat tergoda memilih hewan berbadan besar atau berharga mahal karena dianggap lebih baik untuk kurban.

Padahal, ukuran tubuh bukan satu-satunya penentu. Kondisi kesehatan hewan justru menjadi faktor paling penting agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi.

Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang, Lili Zalizar mengingatkan masyarakat agar lebih teliti saat memilih hewan kurban.

Baca Juga: TNI dan Warga Kompak Bangun Desa, Kodim 0604 Karawang Gelar Karya Bakti di Mulya Sejati

Mengutip laman resmi UMM, Lili membagikan sejumlah panduan sederhana untuk mendeteksi kondisi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik.

Perhatikan Cara Berdiri dan Kondisi Mata
Menurut Lili, langkah pertama yang bisa dilakukan calon pembeli adalah mengamati postur tubuh dan cara berdiri hewan secara menyeluruh.

Pastikan hewan dapat berdiri tegak dan tidak mengalami pincang.

Baca Juga: MG Jadikan Medan Benchmark Mobil Listrik Sumatera, MGS5 EV Resmi Mengaspal

Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat Islam.

Selain postur tubuh, kondisi mata juga perlu diperhatikan. Hewan kurban tidak boleh mengalami gangguan penglihatan atau kebutaan.

“Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh,” jelasnya.

Waspadai Penyakit PMK dan Antraks
Lili juga meminta masyarakat memperhatikan kebersihan kulit hewan. Kulit yang sehat umumnya bersih dan tidak mengalami penyakit seperti kudis atau skabies.

Baca Juga: Kapan Penyembelihan Hewan Kurban Iduladha 2026? Ini Jadwal Lengkap Menurut Pemerintah dan Muhammadiyah

Tak kalah penting, masyarakat diminta mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya seperti Penyakit Mulut dan Kuku dan Antraks.

Hewan yang terindikasi PMK biasanya menunjukkan gejala berupa:

Lendir berlebihan dari mulut

Luka pada gusi dan lidah

Radang kemerahan di sela kuku kaki

Baca Juga: Rupiah Melemah Tembus Rp17.500 per USD, Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat? Ini Langkah yang Bisa Dicoba

Sementara itu, hewan yang terkena Antraks umumnya mengalami kejang-kejang dan pendarahan dari hidung atau anus.

“Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” katanya.

Pilih Hewan yang Aktif dan Nafsu Makannya Baik
Kesehatan hewan juga dapat dilihat dari perilaku sehari-harinya.

Hewan yang sehat biasanya aktif makan, terlihat bugar, dan tidak lemas.

Baca Juga: Masih Sering Diminta Fotokopi e-KTP? Dukcapil Sebut Bisa Langgar UU Perlindungan Data Pribadi

Agar hasil daging lebih maksimal, Lili menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk namun tetap sehat.

Selain kondisi fisik, usia hewan juga wajib memenuhi syariat, yakni:

Sapi minimal berusia 2 tahun

Kambing atau domba minimal 1 tahun

Hewan Perlu Diistirahatkan Sebelum Disembelih

Baca Juga: Menkeu Purbaya Beri Waktu 6 Bulan WNI Pulangkan Harta dari Luar Negeri
Di akhir penjelasannya, Lili menyoroti hal yang sering diabaikan masyarakat, yakni masa istirahat hewan sebelum penyembelihan.

Hewan yang baru menempuh perjalanan jauh sebaiknya diistirahatkan terlebih dahulu agar tidak mengalami stres berlebihan.

Kondisi kelelahan dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD), yaitu kondisi yang menyebabkan kualitas daging menurun drastis karena teksturnya menjadi gelap, keras, dan kering.

Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan bisa lebih cermat memilih hewan kurban, bukan hanya berdasarkan ukuran atau harga semata. ***