POJOKSATU.id - Anggapan bahwa pengemudi tidak boleh langsung menyetir setelah berbuka puasa ternyata bukan sekadar mitos. 

Kondisi ini berkaitan erat dengan proses adaptasi tubuh setelah seharian menahan lapar dan haus yang dapat memengaruhi fokus saat berkendara.

Banyak orang memilih berbuka puasa di tengah perjalanan, terutama saat musim mudik atau perjalanan jauh. Namun, setelah makanan masuk ke dalam tubuh, sistem pencernaan mulai bekerja dan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Tubuh Butuh Waktu Beradaptasi Setelah Berbuka

Training Director The Real Driving Center, Marcell Kurniawan, menjelaskan bahwa tubuh memerlukan waktu untuk mencerna makanan setelah berbuka puasa.

“Setelah makan itu kan pasti ada butuh waktu untuk menyerap segala nutrisi, makanya orang dulu bilang jangan langsung jalan atau bekerja,” ujar Marcell.

Ia menjelaskan, kondisi ini biasanya lebih terasa setelah berpuasa seharian. Perut yang sebelumnya kosong kemudian diisi makanan dalam jumlah tertentu, sehingga dapat menimbulkan rasa penuh atau kembung.

Rasa tidak nyaman tersebut bisa menjadi distraksi ketika seseorang mengemudi, terutama jika perjalanan dilakukan dalam kondisi lalu lintas yang padat atau jarak tempuh yang jauh.

Distraksi Bisa Meningkatkan Risiko Kecelakaan

Gangguan kecil pada tubuh sering kali dianggap sepele. Padahal, ketika berada di balik kemudi, konsentrasi penuh sangat dibutuhkan.

Jika pengemudi memaksakan diri langsung melanjutkan perjalanan setelah makan, perhatian bisa terpecah antara kondisi tubuh yang belum nyaman dan situasi di jalan. 

Dalam kondisi tertentu, hal ini berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan.

Karena itu, Marcell menyarankan pengendara untuk memberi waktu sejenak bagi tubuh sebelum kembali menyetir.

“Usahakan berbuka puasa itu sambil berhenti, di rest area, restoran, atau parkir kendaraan dengan aman, lalu jangan langsung bergerak. Kasih waktu sekitar 10–15 menit supaya makanan mulai tercerna,” ucapnya.

Perhatikan Respons Tubuh Saat Berbuka

Dari sisi kesehatan, dr. Annisa Nurul Kirana, M.Gizi, SpGK, menjelaskan bahwa respons tubuh setiap orang setelah makan tidak selalu sama.

Sebagian orang sudah terbiasa langsung mengonsumsi makanan utama ketika berbuka. 

Namun bagi sebagian lainnya, terutama yang memiliki masalah lambung, makanan ringan lebih disarankan sebagai pembuka.

“Kalau misalnya sudah terbiasa makan berat, tidak ada masalah pencernaan, tidak apa-apa. Tapi, kalau misalnya yang maag, karena sudah berpuasa lama, sebaiknya yang ringan dulu,” ujar Annisa.

Ia menekankan pentingnya memahami kondisi tubuh masing-masing sebelum menentukan menu berbuka puasa.

Lambung yang kosong selama berjam-jam membutuhkan penyesuaian. Karena itu, makanan awal sebaiknya tidak langsung memberatkan sistem pencernaan.

“Tapi, jangan yang tinggi kalori. Bisa dengan buah-buahan dulu, seperti kurma atau kacang rebus, lalu minum teh tawar hangat. Jangan yang takjilnya semuanya gula,” kata Annisa.

Pada akhirnya, memberi jeda sejenak setelah berbuka puasa bukan hanya soal kenyamanan tubuh, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keselamatan di jalan. 

Sedikit waktu untuk beristirahat bisa membuat perjalanan kembali lebih tenang dan tetap aman hingga sampai tujuan. ***