POJOKSATU.id — Ipik Supikah, perempuan berusia 57 tahun merupakan penjual maupun penyewa tikar di area Kebun Raya Cibodas selama 35 tahun.

Setiap harinya, Ipik Supikah berjalan sejauh 5 KM dari rumah menuju Kebun Raya Cibodas untuk mulai berjualan dan menjemput rezeki.

Ipik Supikah memulai profesi ini sejak usianya masih belasan tahun dan belum menikah, meskipun sempat vakum selama 2 tahun ketika pandemi covid-19 tiba.

Ibu dua anak ini tinggal di daerah Kemangjurang, Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur.

Awal mula menggeluti profesi tersebut, ia hanya mengikuti tetangganya yang mendaftarkan diri kepada pihak Kebun Raya Cibodas menjadi penjual atau menyewakan tikar untuk alas duduk pengunjung.

Baca Juga: Disebut Mutiara Tersembunyi, Leuweung Larangan Hutan Konservasi Dijaga dengan Tradisi, Lokasi Masih di Bogor

Ipik mengaku, saat itu sedang terhambat ekonomi hingga bertahun-tahun merasa nyaman dengan profesi yang ditekuninya.

Nah, kira-kira kisah inspirasi apa sih yang membedakan Ipik Supikah dengan penjual tikar di Kebun Raya pada umumnya.

1. Pandai berbahasa arab dan sesekali jadi Tour Guide

Meskipun hanya berprofesi sebagai penjual atau penyewa tikar yang ia tawarkan kepada pengunjung Kebun Raya Cibodas, profesi tersebut lah yang mengantarkan Ipik Supikah mahir berbahasa arab secara otodidak meskipun hanya lulusan Sekolah Dasar (SD).

Kepiawaiannya dalam berbahasa arab itu, dimulai dari kebiasaannya memperhatikan pengunjung Timur Tengah (Arab) ini ketika berkomunikasi.

Hingga ia mencoba berkomunikasi dengan pengunjung asal Timur tengah dan lama-lama menjadi terbiaa berkomunikasi menggunakan Bahasa Arab.

Bahkan, ia beberapa kali diminta pengunjung asal Timur Tengah untuk mengantarnya menunjukkan beberapa tempat menarik di Kebun Raya Cibodas yang tidak mereka ketahui.

“Biasanya dia yang nanya duluan. Misalnya dia pengen ke area air Terjun tapi gatau, yaudah ibu kasih tau mulai dari jarak, perkiraan berapa lama kesana, sampai terjadi kesepakatan kalo dia mau dianter dan memberi upah kepada Ibu,” ucap Ipik Supikah.

Dia mengungkap, aktivitasnya menjadi tour guide itu terus berlangsung. Apalagi jika hari raya atau libur akhir pekan, sesekali pasti ia diminta menjadi tour guide oleh pengunjung Arab.

Baca Juga: 5 Kekayaan Wisata Religi di Padang, Cocok untuk Generasi Masa Kini

2. Memiliki semangat tinggi meskipun sudah berusia senja

Setiap harinya, Ipik memulai pekerjaan tersebut dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore.

Tak banyak barang yang dijajakan, hanya terdapat 8 tikar tipis yang dibandrol dengan harga 20 ribu rupiah untuk harga sewa, sedangkan 30 ribu rupiah untuk harga jual.

Setiap harinya pula, ia hanya membawa pulang uang dari hasil jualan atau sewaannya, sebesar 60 ribu hingga 70 ribu rupiah saja.

Hal itu lantaran harga tikar yang ia patok, banyak ditawar oleh pengunjung. Dengan kerendahan hati ingin membuat pengunjung nyaman, ia mempersilakan pengunjung dengan menyewa tikarnya sesuai kemampuan harganya.

“Misalnya, ibu nawarin segini, tapi ditawar segitu. Yaudah gapapa, daripada si adek engga pake alas duduk karena uangnya engga cukup jadi ibu kasih harga semampu dia aja, misal 10 ribu,” ungkapnya.

Tak hanya menjual dan menyewakan tikar kepada pengunjung, di tengah waktu luang sembari menunggu tikar terjual atau tersewa habis, Ipik memunguti sampah yang terdapat di area wisata sesuai dengan peraturan yang diluncurkan pihak Kebun Raya Cibodas agar kebersihan ditangguh sepenuhnya oleh penjual tikar tanpa dibayar satu peser pun.

Bahkan, ketika tikar yang ia jajakan tak laris satu pun, ia hanya pasrah dan sadar bahwa rezeki sudah tertakar dan tak akan tertukar.

“Pernah sampai engga laku, engga ada yang beli atau sewa, yaudah ibu pasrah aja mungkin belum ada rezekinya buat ibu. Kadang tunggu dulu sebentar, abis itu pulang.” tegasnya.

Baca Juga: Buka Kesempatan Karier Anda, Lowongan Kerja Ticketing Officer di PT. KAI Wisata

3. Lapang dada menekuni suka duka profesi yang digelutinya

Meskipun banyak lika-liku selama 35 tahun menekuni profesi ini, Ipik mengaku dirinya senang karena mengenal banyak orang terutama sesama penjual tikar yang sehari-harinya sama-sama berjuang untuk meraup rupiah yang nilainya tidak seberapa dan mengenal pengunjung yang berbaik hati menawarkan makanan untuknya.

Sebanding dengan perasaan senang yang dialaminya, tentu saja terdapat pengalaman yang tidak menyenangkan seperti bertemu pengunjung yang tidak membayar tikarnya usai disewa dan malah membawa pulang tikarnya sebelum dibayar.

Bahkan tidak asing lagi menghadapi emosional pengunjung asal Timur Tengah yang salah paham terhadap tikar yang ia jual.

Bersaing secara sehat selalu menjadi prinsipnya. Tak jarang ia mendapatkan sindiran dari sesama penjual tikar yang iri karena banyak pengunjung yang tertarik dan lebih memilih menyewa dan membeli tikar darinya.

Padahal, penjual lain telah menyodorkan lebih dulu kepada pengunjung tersebut.

Baca Juga: Inilah 12 Rekomendasi Wisata Religi Paling Populer di Indonesia

Ia hanya bisa menanggapi dengan lapang dada dan menawarkan keuntungan yang didapat agar dibagi dua.

“Kadang temen Ibu suka bilang gini, tadi padahal udah ditawarin sama saya ke pengunjung itu, tapi orangnya bilang tidak mau, sekarang malah nyewa ke ibu. Yaudah ibu ngalah aja, uangnya Ibu bagi dua kalo dia mau, tapi malah tidak mau,” ujarnya.

Tujuannya yang ingin membuat pengunjung selalu merasa nyaman, membuatnya lapang hati dalam menerima setiap hal apapun yang terjadi.

Bahkan terkadang, perlakuan yang kurang baik dari teman sesama penjual karena rebutan pelanggan, tak pernah dipermasalahkan.

“Ibu disini mencari kenyamanan, jadi jarang nyodorin barang ke pengunjung dengan cara sedikit memaksa. Kadang mereka yang nyamperin ibu buat beli atau sewa tikar,” pungkasnya.***