POJOKSATU.id- Bulan Ramadhan merupakan momen yang tepat bagi umat Islam untuk merenungkan betapa besar nikmat dan rahmat yang diberikan oleh Allah SWT. Di tengah kesibukan menjalankan ibadah puasa, shalat, dan berbagai amal kebaikan lainnya.

Manusia, pada umumnya, adalah makhluk yang mudah takjub dan heran. Akal pikirannya akan bekerja, bertanya-tanya, dan berusaha memahami suatu peristiwa menakjubkan atau benda aneh di depannya.

Misalnya, ketika kita pertama kali melihat pesawat terbang, kita takjub dan heran, seakan-akan bertanya, bagaimana mungkin benda sebesar dan seberat itu bisa terbang bagaimana caranya siapa yang membuatnya, dan pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya.

Baca Juga: Keistimewaan Bulan Ramadhan, Dimana Umat Muslim Berlomba-lomba Meraih Pahala

Namun, ketika kita sudah sering melihatnya, ketakjuban kita perlahan-lahan memudar, kita tidak lagi menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, bahkan kita tidak lagi mempedulikannya.

Dengan demikian, ketakjuban dan daya kritis manusia bisa memudar dengan mudah tanpa perlu mendapatkan jawaban memuaskan. Selama hal-hal yang ditakjubi dan diherankannya sudah menjadi kebiasaan, dia perlahan-lahan abai akan hal itu.

Begitu pun dengan puasa. Ketika kita berpuasa, apresiasi kita terhadap hal-hal yang sering kita abaikan meningkat, seperti terhadap air putih dan nasi misalnya.

Baca Juga: Profil Pemain Sepak Bola Egi Maulana Vikri, Kontribusinya untuk Timnas Jadi Sumber Inspirasi

Kita yang biasanya melihat itu “sepintas lalu” menjadi sangat berharga. Artinya, makanan dan minuman kembali pada nilai asalnya yang berharga. Karena itu, puasa harus dijadikan titik ulang untuk menyemai kembali rasa syukur kita akan segala sesuatu. Diawali dengan kebutuhan pokok (makanan dan minuman), kemudian berlanjut ke pelbagai hal.

Tapi sebelum itu, kita harus memahami terlebih dahulu, apa itu “syukur”.
Dalam kitab Basha ir Dzawi al-Tamyiz Fi Lathaif al-Kitab al-‘Aziz, Imam Majduddin Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzabadi (w. 817 H) membagi syukur dalam tiga kategori. Dia mengatakan:

والشكر علي ثلاثة أضرب: شكر بالقلب، وهو تصور النعمة. شكر باللسان، وهو الثناء علي المنعم. وشكر بسائر الجوارح، وهو مكافأة النعمة بقدر استحقاقه

Syukur terdiri dari tiga tipe: (1) syukur dengan hati, yaitu pembayangan (atau penggambaran) nikmat (dalam hati), (2) syukur dengan lisan, yaitu pujian kepada pemberi nikmat, dan (3) syukur dengan anggota tubuh lainnya.

Baca Juga: Ini Kata Jokowi dan Prabowo Usai Pemberian Gelar Jenderal Kehormatan TNI di Mabes Cilangkap

Yaitu membalas kenikmatan dengan kadar (atau derajat) yang pantas (didapatkan tubuh)”,(Imam Majduddin Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzabadi, Basha ir Dzawi al-Tamyiz fi Lathaif al-Kitab al-Aziz, Kairo: al-Majlis al-A’la li Syu’un al-Islamiyyah, 1996, juz 3, h. 334).

ada beberapa hal yang dapat menjadi bahan renungan syukur bagi kita semua.

1. Nikmat Puasa dan Kesempatan Taubat

Puasa adalah ibadah yang memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa.

Renungkanlah betapa besar nikmatnya memiliki kesempatan untuk menjalankan puasa di bulan Ramadan ini, serta kesempatan untuk memperoleh ampunan dan berbuat taubat kepada Allah SWT.

Baca Juga: Hukum I'tikaf Bagi Wanita yang Sedang Haid di Akhir Ramadhan

2. Kebaikan dan Kemurahan Allah SWT

Selama bulan Ramadan, Allah SWT membuka pintu-pintu rahmat-Nya yang luas bagi hamba-Nya. Renungkanlah betapa besar kebaikan dan kemurahan Allah SWT yang memberikan kita kesempatan untuk mendapatkan pahala yang berlipat ganda hanya dengan menjalankan ibadah-ibadah sunnah di bulan Ramadan ini.

Setiap tarawih yang kita lakukan, setiap ayat Al-Qur'an yang kita baca, dan setiap sedekah yang kita berikan, semuanya akan dicatat sebagai amal kebaikan yang besar di sisi-Nya.

3. Kesempatan Meningkatkan Kualitas Iman dan Taqwa

Bulan Ramadan juga merupakan kesempatan bagi kita untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita. Renungkanlah betapa besar nikmatnya memiliki kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah dan amal kebaikan di bulan Ramadan ini.

Setiap shalat tarawih, setiap bacaan Al-Qur'an, dan setiap dzikir yang kita lakukan merupakan langkah-langkah menuju peningkatan iman dan taqwa yang lebih baik.

Baca Juga: Bisakah PPPK Naik Pangkat, Jabatan Atau Golongan? AGAK LAEN, Pahami Dulu Peraturan dan Regulasi Ini

4. Kesempatan Bersilaturahmi dan Berbagi Kebahagiaan

Bulan Ramadan juga merupakan momen yang tepat untuk mempererat tali silaturahmi dengan sesama muslim. Renungkanlah betapa besar nikmatnya memiliki kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dan berbuat baik kepada sesama di bulan Ramadan ini.

Setiap kebaikan yang kita berikan kepada orang lain, baik berupa kata-kata, tindakan, maupun materi, merupakan bentuk syukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita.

Nabi Dawud ‘alaihissalam ketika mendengar firman Allah (QS. Saba’: 13): “Bekerjalah, wahai keluarga Daud, untuk bersyukur”, dia berkata:

يا رب، كيف أشكرك، والشكر نعمة منك؟ قال: الآن شكرتني حين علمت أن النعمة مني

“Wahai Tuhan, bagaimana aku bersyukur kepada-Mu, padahal syukur adalah nikmat pemberian- Mu juga?” Allah berfirman: “Sekarang kau telah bersyukur kepada-Ku, karena kau telah tahu bahwa nikmat itu berasal dari-Ku”
(Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim, Kairo: al-Faruq al-Haditshah li al-Thiba’aj wa al-Nasyr, 2000, juz 11, h. 267).

Baca Juga: Bisakah PPPK Naik Pangkat, Jabatan Atau Golongan? AGAK LAEN, Pahami Dulu Peraturan dan Regulasi Ini

Orang yang mengetahui dan menyadari hal ini akan malu jika berhenti, atau akan terus berusaha untuk terhindar dari kelalaian bersyukur kepada-Nya. Karena ia tahu, seberapa sering dan banyak syukurnya, tidak mungkin menyetarai nikmat yang diterimanya. “Ketika Nabi Dawud Bingung Cara Bersyukur kepada Allah.”

Renungkanlah betapa besar nikmat dan rahmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita di bulan Ramadan ini, dan marilah kita menyambut bulan yang penuh berkah ini dengan penuh syukur dan keikhlasan dalam menjalankan segala ibadah dan amal kebaikan.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan dan petunjuk untuk tetap istiqamah dalam menjalankan agama-Nya di setiap waktu dan kesempatan yang diberikan-Nya. Amin.***Nurlaela Sakban