POJOKSATU.id — Ketangguhan mental pada anak tidak muncul secara instan, melainkan tumbuh melalui proses panjang yang dipengaruhi pengalaman, lingkungan keluarga, pola asuh, dan kebiasaan yang diterapkan setiap hari.

Anak dengan mental tangguh bukan berarti selalu terlihat kuat atau tidak pernah merasakan kesedihan, ketakutan, kekecewaan, maupun kegagalan.

Ketangguhan justru terlihat dari kemampuan anak untuk memahami perasaannya, menghadapi persoalan sesuai usianya, kemudian mencoba bangkit ketika menemui kesulitan.

Dalam hal ini, orang tua memiliki peran penting.

Baca Juga: Benarkah Oarfish Muncul di Pantai Pink Lombok Jadi Tanda Gempa? Pakar Ungkap Faktanya

Memberikan perlindungan memang diperlukan, tetapi anak juga perlu diberi ruang untuk belajar menghadapi tantangan secara bertahap.

Pendampingan yang tepat dapat membantu anak mengembangkan kemandirian sekaligus rasa percaya terhadap kemampuannya sendiri.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membiasakan anak menyelesaikan masalah sederhana tanpa selalu mendapatkan bantuan langsung dari orang tua.

Ketika anak menghadapi kesulitan, orang tua dapat memberikan arahan dan dukungan tanpa mengambil alih seluruh persoalan.

Baca Juga: Diduga Terlibat Pencurian Saat Aksi, Seseorang Sempat Diarak Massa Sebelum Diamankan

Kesempatan tersebut membuat anak belajar berpikir, mencoba berbagai solusi, dan memahami bahwa masalah dapat dihadapi secara bertahap.

Kebiasaan berikutnya adalah tidak langsung menyalahkan anak ketika mengalami kegagalan.

Kesalahan dan kegagalan merupakan bagian dari proses belajar yang wajar.

Daripada memberikan hukuman atau mempermalukan anak, orang tua dapat mengajaknya membicarakan apa yang terjadi, mencari penyebabnya, kemudian memikirkan hal yang bisa diperbaiki.

Cara tersebut membantu anak melihat kegagalan sebagai pengalaman untuk belajar, bukan sebagai alasan untuk menyerah.

Orang tua juga perlu membantu anak mengenali berbagai emosi yang dirasakan.

Baca Juga: Penutupan Jalan Sekitar DPR-MPR, Ini Daftar Rute Transjakarta yang Terdampak

Perasaan marah, sedih, takut, kecewa, atau khawatir merupakan bagian dari kehidupan.

Anak dapat diajak memahami dan menyebutkan emosinya sehingga perlahan mampu mengungkapkan perasaan dengan cara yang lebih tepat.

Kemampuan mengenali emosi ini dapat menjadi bekal penting ketika anak menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan.

Selain itu, apresiasi sebaiknya tidak hanya diberikan ketika anak memperoleh hasil yang bagus.

Usaha, ketekunan, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus belajar juga patut dihargai.

Baca Juga: Penutupan Jalan Sekitar DPR-MPR, Ini Daftar Rute Transjakarta yang Terdampak

Ketika orang tua memberikan apresiasi terhadap proses, anak dapat memahami bahwa pencapaian tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh usaha yang dilakukan untuk mencapainya.

Kemandirian anak juga dapat dilatih melalui kesempatan mengambil keputusan sederhana.

Orang tua dapat memberikan beberapa pilihan yang sesuai dengan usia anak, misalnya menentukan kegiatan yang ingin dilakukan atau memilih urutan tugas yang akan diselesaikan.

Dari pengalaman tersebut, anak belajar mempertimbangkan pilihan sekaligus memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.

Baca Juga: KA Argo Muria, Sindoro, dan Merbabu Tak Lagi Dipakai, Diganti KA Muria Mulai Oktober

Hal yang tidak kalah penting adalah menghindari kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain.

Setiap anak memiliki kemampuan, minat, dan proses perkembangan yang berbeda.

Perbandingan dengan teman maupun saudara justru dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik.

Sebagai gantinya, orang tua dapat mengajak anak melihat perkembangan dirinya sendiri dan menghargai kemajuan yang telah dicapai.

Baca Juga: Magang DPD RI 2026 Dibuka, Ada Honorarium dan Sertifikat untuk Peserta

Anak juga belajar banyak dari perilaku orang tua di rumah.

Oleh karena itu, cara orang tua menghadapi masalah dapat menjadi contoh langsung bagi anak.

Ketika menghadapi persoalan, orang tua dapat menunjukkan bagaimana tetap tenang, mempertimbangkan pilihan, mencari solusi, dan meminta bantuan apabila diperlukan.

Dari contoh tersebut, anak belajar bahwa menghadapi kesulitan tidak harus dilakukan dengan panik.

Mengajarkan anak untuk berani meminta bantuan juga merupakan bagian dari membangun mental yang sehat dan tangguh.

Baca Juga: Di Tengah Demo 27 Agustus, Warga Pilih Bersihkan Sampah yang Berserakan di Depan Gedung DPR

Ketangguhan tidak berarti anak harus menyelesaikan semua masalah seorang diri.

Anak perlu memahami bahwa meminta bantuan kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya merupakan tindakan yang wajar ketika menghadapi persoalan yang belum mampu diselesaikannya sendiri.

Di sisi lain, penerapan aturan dan batasan yang konsisten dapat membantu anak memahami tanggung jawab.

Baca Juga: The Remarried Empress Segera Tayang November 2026, Ini Jadwal dan Sinopsisnya

Orang tua dapat membuat aturan yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak, kemudian menerapkannya secara konsisten.

Jika memungkinkan, jelaskan alasan di balik aturan tersebut agar anak tidak hanya mematuhinya, tetapi juga memahami tujuan dan konsekuensinya.

Kebiasaan terakhir yang tidak kalah penting adalah membangun komunikasi terbuka di dalam keluarga.

Orang tua dapat membiasakan diri mendengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi atau memarahi.

Baca Juga: SMA Taruna Nusantara Buka Lowongan Guru Tetap untuk Lulusan S1-S2, Cek Syarat dan Jadwalnya

Lingkungan komunikasi yang aman membuat anak lebih nyaman menyampaikan perasaan maupun persoalan yang sedang dihadapinya.

Kebiasaan ini juga dapat membuat anak terbiasa mencari dukungan ketika menghadapi situasi sulit.

Pada akhirnya, membentuk anak bermental tangguh bukan berarti membuat kehidupannya selalu penuh dengan kesulitan.

Anak tetap membutuhkan rasa aman, kasih sayang, dan dukungan dari orang tua.

Baca Juga: Baru Terbit Usai Mencuat di Medsos, Begini Isi Surat Edaran dan Detail Penggunaan Hijab di Unhan

Namun, mereka juga perlu mendapatkan kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, mengambil keputusan, serta belajar menyelesaikan persoalan sesuai dengan tahap perkembangannya.

Melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, orang tua dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, mampu mengelola emosi, berani menghadapi tantangan, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.***