POJOKSATU.id, JAKARTA -- Bayangkan ada semacam pos pertahanan yang tersembunyi di dalam tulang tengkorak, tepat di dekat otak.

Struktur inilah yang kini menjadi perhatian ilmuwan karena diduga mampu membantu tubuh merespons ancaman, termasuk sel kanker.

Penemuan tersebut dilakukan peneliti dari Washington University School of Medicine di St. Louis, Amerika Serikat.

Dalam riset yang dipublikasikan di jurnal Nature, mereka menemukan struktur sistem kekebalan yang sebelumnya belum dikenali di dalam sumsum tulang tengkorak tikus.

Baca Juga: Sukses Kumpulkan 50 Kantong Darah di PP Kahyangan, PMI Jember Pastikan Kesiapan Bantu Korban Gempa NTT

Menariknya, struktur itu memiliki kemiripan dengan germinal center yang biasanya terdapat pada kelenjar getah bening.

Area tersebut menjadi tempat sel-sel kekebalan berkembang dan dipersiapkan untuk mengenali ancaman tertentu.

Posisinya yang sangat dekat dengan otak membuat struktur ini diduga memiliki peran khusus.

Sistem imun bisa mendapatkan akses lebih cepat terhadap sinyal bahaya tanpa harus selalu menunggu sel pertahanan didatangkan dari bagian tubuh lain.

Baca Juga: WhatsApp Tiba-Tiba Diblokir? Kenali Penyebabnya dan Cara Mengajukan Peninjauan

"Studi ini mengungkap bahwa sumsum tulang tengkorak jauh lebih dari sekadar kerangka struktural. Sumsum tersebut memiliki pusat respons imun khusus untuk otak yang sebelumnya belum dikenali," kata Jonathan Kipnis, ahli imunologi otak di WashU sekaligus penulis senior penelitian tersebut.

Penemuan itu berawal dari penelitian sebelumnya mengenai saluran kecil yang menghubungkan otak dengan tulang tengkorak.

Saluran tersebut melewati dura mater, lapisan pelindung yang berada di bagian luar otak.

Dalam riset terbaru, para ilmuwan menggunakan protein pelacak berpendar untuk mengikuti perjalanan molekul dari jaringan saraf hingga menuju sumsum tulang di dalam tengkorak.

Dari pengamatan tersebut, mereka menemukan struktur limfoid yang memiliki karakteristik menyerupai pusat pembentukan dan pematangan respons imun.

Di dalamnya, sel B yang masih belum matang dapat berkembang biak sebelum dipersiapkan untuk menghadapi ancaman tertentu.

"Kami belum pernah melihat struktur seperti ini pada sumsum tulang yang sehat sebelumnya," kata Jang Hyun Park, ahli biologi sel di WashU sekaligus penulis pertama penelitian.

Diuji untuk Melawan Glioma

Untuk mengetahui seberapa penting struktur tersebut, peneliti kemudian mengujinya pada tikus yang mengalami glioma, salah satu kanker otak yang agresif.

Aktivitas struktur limfoid di tengkorak diubah menggunakan hidrogel yang ditempatkan di bawah kulit kepala.

Material tersebut membawa senyawa yang dapat meningkatkan atau menekan aktivitas sistem kekebalan.

Hasilnya menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok. Tikus dengan aktivitas struktur kekebalan yang terganggu mengalami pertumbuhan tumor lebih agresif dan memiliki tingkat kelangsungan hidup lebih rendah.

Sebaliknya, ketika struktur tersebut mendapat kombinasi tiga protein yang dapat memicu aktivitas imun, respons pertahanan terhadap kanker menjadi lebih kuat.

Kondisi itu membantu sistem kekebalan melawan tumor dengan lebih efektif dan meningkatkan peluang hidup tikus.

Temuan tersebut memberi petunjuk bahwa pusat kekebalan di tengkorak bukan sekadar struktur pasif.

Ada kemungkinan bagian ini memang berperan sebagai salah satu jalur pertahanan yang dekat dengan otak.

Namun, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa metode tersebut sudah bisa digunakan untuk pasien kanker otak.

Penelitian sejauh ini baru dilakukan pada tikus sehingga efektivitas dan keamanannya pada manusia masih harus dibuktikan.

Meski begitu, penelitian sebelumnya memberikan alasan bagi ilmuwan untuk terus menyelidikinya.

Sel T folikuler telah ditemukan di dalam sumsum tulang tengkorak manusia. Keberadaan sel tersebut menjadi salah satu petunjuk bahwa mekanisme kekebalan yang mirip mungkin juga ada pada manusia.

Jika struktur yang sama nantinya berhasil dikonfirmasi, pemahaman mengenai hubungan otak dan sistem imun bisa berubah cukup besar.

"Penemuan ini secara mendasar mengubah pemahaman kita mengenai neuroimunologi," ujar Kipnis.

Implikasinya pun tidak hanya berkaitan dengan kanker otak. Pusat kekebalan tersebut berpotensi menjadi sasaran penelitian untuk berbagai gangguan neurologis yang memiliki keterlibatan sistem imun.

Alzheimer, Parkinson, skizofrenia, hingga long Covid termasuk kondisi yang disebut berpotensi mendapat perhatian dari pendekatan tersebut.

Meski demikian, semua kemungkinan itu masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Salah satu gagasan yang menarik adalah penggunaan hidrogel yang diberikan melalui bawah kulit kepala untuk memengaruhi aktivitas pusat kekebalan tersebut.

Secara teori, pendekatan seperti ini dapat menjadi alternatif yang jauh lebih minim invasif dibandingkan tindakan operasi langsung pada otak.

Para ilmuwan juga melihat peluang untuk mengarahkan terapi langsung ke pusat kekebalan di sekitar tengkorak.

Jika nantinya terbukti aman dan efektif, cara tersebut berpotensi membantu mengurangi dampak terapi terhadap jaringan tubuh lainnya.

Temuan ini mengingatkan bahwa tubuh manusia masih menyimpan banyak mekanisme pertahanan yang belum sepenuhnya dipahami.

Di balik tulang tengkorak yang selama ini dianggap sekadar pelindung, ternyata mungkin ada sistem pertahanan khusus yang bekerja begitu dekat dengan otak.

Perjalanan dari temuan pada tikus menuju terapi untuk manusia memang masih panjang, tetapi harapan baru untuk menghadapi kanker otak kini punya satu pintu penelitian yang menarik untuk dibuka.***