POJOKSATU.id — Keberadaan ikan sapu-sapu di sungai kerap memicu keresahan masyarakat.
Bentuknya yang tidak lazim dan populasinya yang melimpah sering dianggap sebagai penyebab rusaknya ekosistem perairan.
Padahal, secara ilmiah, ikan sapu-sapu justru menjadi indikator alami bahwa sungai telah tercemar.
Ikan sapu-sapu dikenal memiliki kemampuan bertahan hidup di lingkungan ekstrem.
Berbeda dengan ikan lokal lain yang sensitif terhadap perubahan kualitas air, ikan ini tetap mampu hidup di sungai dengan kadar oksigen rendah, air keruh, hingga tercemar limbah organik.
Kondisi tersebut biasanya tidak lagi layak bagi sebagian besar biota air.
Salah satu faktor utama yang membuat ikan sapu-sapu unggul adalah kemampuannya bernapas langsung dari udara.
Selain menggunakan insang, ikan ini dapat mengambil oksigen dari udara bebas dengan muncul ke permukaan air.
Kemampuan ini membuatnya bertahan di sungai yang mengalami penurunan kualitas oksigen akibat tumpukan limbah dan sampah.
Baca Juga: LOWONGAN KERJA Kemenpora Deputi Pengembangan Industri Olahraga, Dibuka hingga 17 Februari 2026
Dari sisi pola makan, ikan sapu-sapu justru diuntungkan oleh kondisi sungai tercemar.
Limbah rumah tangga dan organik memicu pertumbuhan alga, lumut, serta endapan di dasar sungai.
Material inilah yang menjadi sumber makanan utama ikan sapu-sapu sehingga populasinya bisa meningkat pesat dalam waktu singkat.
Baca Juga: Data Belum Valid di Januari 2026, Begini Cara Kerja Rapel TPG agar Hak Guru Tidak Hilang
Dominasi ikan sapu-sapu juga menandakan ketidakseimbangan ekosistem sungai.
Dalam kondisi perairan yang sehat, berbagai jenis ikan hidup berdampingan dengan rantai makanan yang seimbang.
Namun, saat pencemaran terjadi, ikan-ikan yang sensitif akan mati atau berpindah, sementara ikan sapu-sapu justru berkembang tanpa kendali.
Baca Juga: LOWONGAN KERJA KemenPU Januari 2026 Dibuka, Sekretariat Dewan SDA Cari 4 Posisi
Perlu diketahui, ikan sapu-sapu bukanlah ikan asli perairan Indonesia.
Ikan ini awalnya dipelihara sebagai ikan akuarium dan kemudian dilepas ke alam bebas.
Tanpa predator alami dan dengan daya adaptasi tinggi, ikan sapu-sapu mudah menjadi spesies invasif, terutama di sungai yang sudah lebih dulu rusak.
Karena sering ditemukan di sungai perkotaan, kawasan padat penduduk, dan aliran air penerima limbah, ikan sapu-sapu kemudian dijadikan penanda biologis kualitas air.
Kehadirannya dalam jumlah besar menunjukkan bahwa sungai tersebut telah mengalami pencemaran serius dan kehilangan keseimbangan ekologisnya.
Dengan demikian, ikan sapu-sapu bukan penyebab utama kerusakan sungai.
Baca Juga: Diminta Mengaku Dalang Indonesia Gelap, Marcella Santoso Ungkap Cerita di Balik Tekanan Penyidikan
Sebaliknya, ia adalah cermin dari kondisi sungai yang telah tercemar akibat aktivitas manusia.
Upaya pemulihan sungai seharusnya difokuskan pada pengendalian limbah dan perbaikan kualitas lingkungan, bukan semata-mata memberantas ikan sapu-sapu. ***




