POJOKSATU.id - Pertanyaan tentang hukum sikat gigi saat puasa hampir selalu muncul setiap Ramadan.
Kondisi ini biasanya muncul ketika mulut mulai terasa asam dan bau tidak nyaman, terutama di siang hari saat tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman.
Bau mulut saat puasa sendiri merupakan kondisi yang sangat umum. Penyebab utamanya adalah mulut kering dan berkurangnya produksi air liur, sehingga bakteri lebih mudah berkembang di rongga mulut.
Baca Juga: TPP ASN Cair 100 Persen, Pemkab Gorontalo Pastikan Tanpa Potongan
Di salah satu kunjungan ke Sozo Dental Clinic, seorang pasien bahkan bercerita sering melewatkan sikat gigi di pagi hari saat puasa karena takut puasanya batal.
Akibatnya, gusi menjadi sering berdarah dan bau mulut mulai mengganggu aktivitas kerjanya.
Kondisi seperti ini membuat pembahasan hukum sikat gigi saat puasa menjadi penting, bukan hanya dari sisi fiqih, tetapi juga dari sudut pandang kesehatan.
Pendapat Ulama tentang Sikat Gigi, Siwak, dan Pasta Gigi
Mayoritas ulama sepakat bahwa menjaga kebersihan mulut adalah perbuatan yang baik, termasuk di bulan Ramadan.
Hal ini kerap dikaitkan dengan anjuran bersiwak dalam berbagai hadis yang menekankan kebersihan mulut sebagai bagian dari ibadah.
Perbedaan pendapat biasanya muncul ketika pembahasan masuk pada penggunaan sikat gigi dan pasta gigi saat puasa.
Fokus utamanya berkaitan dengan risiko masuknya zat ke tenggorokan serta waktu pelaksanaannya.
Secara garis besar, pandangan ulama yang sering dijelaskan antara lain menyamakan sikat gigi dengan siwak, sehingga hukumnya pada dasarnya boleh selama tidak ada sesuatu yang sengaja ditelan.
Baca Juga: Manajemen Talenta ASN Diperkuat, Distan Banjar Fokus Coaching dan Validasi Data
Ulama dari mazhab Syafi’iyah umumnya memakruhkan sikat gigi atau siwak setelah matahari tergelincir, bukan mengharamkannya, dengan alasan menjaga keutamaan bau mulut orang berpuasa yang disebut dalam hadis.
Sementara itu, beberapa mazhab lain memandang hukum sikat gigi saat puasa sebagai mubah atau boleh dilakukan sepanjang tidak ada zat yang masuk ke perut.
Dari berbagai penjelasan tersebut, benang merahnya adalah menjaga niat puasa dan mencegah masuknya sesuatu ke tenggorokan selama berpuasa.
Perbedaan Waktu Sikat Gigi saat Puasa
Salah satu hal yang sering membingungkan adalah soal waktu sikat gigi saat puasa. Pemahaman tentang waktu ini penting agar kebiasaan menjaga kebersihan mulut tetap selaras dengan ibadah.
Baca Juga: Cara Mencegah Kanker Payudara Sejak Dini, Kenali Gaya Hidup Sehat dan Pentingnya Deteksi Rutin
Sikat gigi sebelum Subuh atau sebelum waktu puasa dimulai disepakati mayoritas ulama sebagai perbuatan yang boleh, bahkan dianjurkan.
Dari sisi kesehatan, menyikat gigi setelah sahur membantu mengurangi sisa makanan yang bisa memicu bau mulut sepanjang hari.
Sikat gigi setelah Subuh hingga sebelum Zuhur pada dasarnya juga dipandang boleh oleh banyak ulama dan penjelasan fiqih modern, dengan catatan dilakukan sangat hati-hati agar air dan pasta gigi tidak tertelan.
Adapun setelah Zuhur hingga menjelang Magrib, perbedaan pendapat terasa lebih kuat. Sebagian ulama Syafi’iyah memakruhkan sikat gigi di waktu ini untuk menjaga keutamaan bau mulut orang berpuasa.
Baca Juga: Tips Menyusun Program Kerja KKN Mahasiswa agar Tepat Sasaran dan Berdampak Nyata
Namun, ada pula ulama yang tetap membolehkan siwak sepanjang hari selama puasa.
Bagaimana dengan Pasta Gigi saat Puasa?
Pasta gigi menjadi perhatian khusus karena memiliki rasa dan busa yang lebih berisiko tertelan.
Banyak ulama menganjurkan agar penggunaan pasta gigi difokuskan sebelum Subuh dan setelah berbuka.
Jika tetap ingin menggunakan pasta gigi di siang hari, penekanannya adalah menggunakan pasta secukupnya, berkumur seperlunya, dan memastikan tidak ada yang masuk ke tenggorokan.
Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut saat Puasa
Selama puasa, mulut cenderung lebih kering sehingga bakteri lebih mudah berkembang. Jika kebersihan gigi dan gusi kurang terjaga, risiko bau mulut, radang gusi, hingga gigi berlubang bisa meningkat.
Masalah yang sering muncul antara lain bau mulut menyengat, gusi mudah berdarah, serta gigi terasa ngilu saat berbuka.
Dengan perawatan yang tepat, kondisi ini sebenarnya bisa dicegah.
Pola perawatan yang disarankan antara lain menyikat gigi setelah sahur dan setelah berbuka, membersihkan lidah untuk mengurangi bakteri penyebab bau mulut, serta rutin menggunakan benang gigi di malam hari.
Baca Juga: Total 8 Hari! Ini Daftar Cuti Bersama ASN 2026 Berdasarkan Keppres Terbaru
Menjalani Puasa dengan Tenang dan Sehat
Di tengah perbedaan pendapat ulama, sikap bijak menjadi kunci. Menentukan rujukan yang dipercaya dan menjalankannya secara konsisten dapat membantu menjalani puasa dengan hati yang lebih tenang.
Menjaga kebersihan mulut bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga bagian dari menjaga kesehatan agar ibadah puasa bisa dijalani dengan lebih khusyuk.
Dengan keseimbangan antara pemahaman fiqih dan perhatian pada kesehatan, Ramadan pun bisa dilalui tanpa rasa waswas, sekaligus tetap nyaman saat beraktivitas dan berinteraksi dengan orang lain. ***




