POJOKSATU.id — Banyak kebiasaan-kebiasaan yang tampaknya "sepele" namun ternyata berdampak buruk terhadap kesehatan mental.
Kebiasaan toxic ini sering berjalan tanpa disadari, hingga kondisi mental ternyata sudah mulai goyah dari dalam.
Berikut merupakan kebiasaan-kebiasaan yang kita anggap biasa tapi ternyata dapat merusak mental kita.
1. Kebiasaan Menahan Emosi (Emotional Suppression)
Kebiasaan menahan atau menolak perasaan yang muncul, baik itu sedih, marah, kecewa, takut, atau bahkan bahagia perlahan dapat menggerus ketenangan batin dan kesehatan fisik.
Biasanya, seseorang menahan emosi tersebut karena merasa tidak pantas, tidak aman, atau tidak nyaman ketika mengekspresikan emosi.
Alih-alih mengungkapkan perasaan secara sehat, orang yang terbiasa menahan emosi cenderung memilih diam, mengalihkan perhatian, atau berpura-pura "baik-baik saja".
Kebiasaan ini lama-kelamaan akan berujung pada gangguan, antara lain kesehatan mental yang menurun, hubungan sosial yang memburuk, ledakan emosi secara tiba-tiba, bahkan gangguan psikometrik.
Untuk mengatasi kebiasaan ini, kita harus mengenali perasaan, mengekspresikan atau menuliskan perasaan dengan media lain, mencari tempat aman untuk berbagi, dan belajar mindfulness dan self compassion.
2. Gaya Hidup yang Tidak Sehat
Gaya hidup tidak sehat adalah pola perilaku yang secara terus-menerus mengganggu keseimbangan fisik, mental, dan emosional seseorang.
Contohnya seperti pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik, tidur yang tidak teratur, penyalahgunaan zat, dan pola kerja yang tidak seimbang.
Gaya hidup yang buruk dapat menurunkan fungsi otak, mengacaukan hormon, hingga menurunkan kadar kebahagiaan alami dalam tubuh.
Tanda-tanda seseorang mulai terjebak dalam gaya hidup tidak sehat antara lain ketika bangun tidur masih merasa lelah dan tidak bersemangat
Mengandalkan kopi atau gula supaya bisa fokus, sering sakit kepala, maag, atau pegal tanpa sebab medis yang jelas.
Baca Juga: Pecinta Buku Bisa Jadi Bookfluencer, Manfaatkan Era Digital dan Tingkatkan Literasi Generasi Muda
Mudah marah atau emosional tanpa alasan spesifik, sulit tidur karena pikiran terus berputar
Bahkan sering merasa "kosong" saat pekerjaan atau aktivitas sedang berjalan.
Jika kamu mengalami gejala-gejala tersebut, tandanya tubuh dan pikiranmu sedang protes terhadap gaya hidup yang dijalani.
Langkah untuk memperbaikinya, antara lain atur pola makan dengan baik, gerakkan tubuh, atur waktu tidur, berhenti melakukan aktivitas berlebihan, dan beri ruang untuk diri sendiri.
3. Biasa dengan Hubungan yang Tidak Sehat
Kebiasaan dengan hubungan tidak sehat atau toxic relationship adalah hubungan yang secara emosional dan fisik menguras energi, menurunkan harga diri, dan membuat seseorang kehilangan jati diri.
Baca Juga: Alumni Musthafawiyah Pesantren Tertua Sumut Bentuk Kepengurusan Baru di Kota Padangsidimpuan
Toxic relationship tidak melulu dengan hubungan yang penuh pertengkaran datau kekerasan.
Bisa jadi, hubungan yang terlihat "baik-baik saja", tetapi menyimpan pola yang secara perlahan mengikis rasa aman dan percaya diri.
Ciri utama dari hubungan ini adalah selalu merasa bersalah, takut mengekspresikan diri, tidak pernah merasa cukup, sering dimanipulasi, dan siklus pertengkaran dan damai yang berulang tanpa solusi.
Seseorang yang bertahan pada toxic relationship biasanya ketergantungan secara emosional, trauma masa lalu, kesalahan pola asuh, gaslighting dan manipulasi halus, dan harapan akan berubah.
Akibatnya, hubungan ini menyebabkan penurunan harga diri, stres dan kecemasan kronis, kelelahan emosional, dan trauma emosional serta kesulitan untuk membuka diri.
Ada langkah yang perlu diambil ketika terjebak dalam siklus hubungan tidak sehat supaya kondisi mental tetap terjaga
Harus menyadari bahwa cinta tidak selalu berarti sehat, cinta yang membuat kehilangan diri sendiri itu adalah sebuah keterikatan.
Berani dalam mengakui perasaan tak nyaman jika merasa takut, lelah, atau cemas dalam hubungan.
Membangun batas atau boundaries untuk ruang pribadi, kebebasan, dan saling menghormati.
Berbicara dengan orang terdekat dan terppercaya untuk membantu melihat situasi hubungan dari sudut pandang yang lebih objektif.
Pulihkan diri dengan fokus pada diri sendiri, seperti menekuni hobi, journaling, olahraga, dan belajar mengenal diri tanpa cermin dari orang lain.
4. Terlalu Berlebihan Mengonsumsi Media Sosial & Perbandingan Sosial
Ketika seseorang terlalu berlebihan mengonsumsi media sosial, otak akan mengalami kondisi yang mirip dengan dopamine loop.
Dopamine loop ini adalah siklus kenikmatan sementara yang dapat dari notifikasi, likes, dan komentar di media sosial.
Dampak dari kebiasaan ini, antara lain overstimulasi mental, kelelahan digital, Fear of Missing Out (FOMO), serta gangguan fokus dan tidur.
Penelitian dari American Psychological Association (APA, 2023) menemukan bahwa penggunaan media sosial lebih dari 3 jam per hari dapat meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.
Salah satu dampak yang paling berbahaya dari konsumsi media sosial berlebihan adalah membandingkan hidup diri sendiri dengan kehidupan orang lain.
Kondisi ini memicu rasa rendah diri, kecemburuan sosial, dan distorsi realita yang berarti kesalahan persepsi bahwa hidup orang lain lebih baik daripada hidup kita.
Untuk Menghentikan kebiasaan ini, diperlukannya langkah bijak untuk mengelola media sosial.
Harus mengatur waktu untuk online, ingatkan diri bahwa dunia digital bukan realita penuh, dan gunakan media sosial untuk berkembang bukan membandingkan diri.
Baca Juga: Bus PO Haryanto Kecelakaan Tunggal di Tol Semarang-Batang, Ini Identitas 3 Penumpang yang Tewas
5. Kebiasaan Menunda dan Tingkatkan Stres
Kebiasaan menunda ternyata bukan sekadar malas atau tidak disiplin, bisa jadi adalah strategi otak untuk menghindari dari emosi negatif.
Strategi ini tanpa sadar untuk menghindari perasaan tak nyaman seperti cemas, takut gagal, atau tertekan.
Setiap seseorang menunda hal penting hal penting, maka tubuh dan pikiran akan masuk ke mode siaga karena sadar ada sesuatu yang belum terselesaikan.
Akibatnya, otak melepaskan hormon kortisol (hormon stres) lebih banyak.
Dampak jangka pendek yang terjadi adalah perasaan cemas yang meningkat, sulit fokus, dan sulit tidur karena otak terus mengingat hal yang tertunda.
Dampak jangka panjangnya, seseorang dapat mengalami penurunan produktivitas dan rasa percaya diri, gangguan tidur kronis dan kelelahan mental, serta perasaan bersama dan self-blame.
Kebiasaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain perfeksionisme, rasa cemas dan takut dinilai, dan kurangnya manajemen waktu.
Langkah yang perlu diambil untuk mengatasi permasalahan ini, yakni jangan tunggu motivasi datang dan paksa diri untuk tidak menunda.
Menggunakan teknik "Eat The Frog", dengan mengerjakan hal yang paling sulit terlebih dahulu sebelum mental menurun.
Tentukan batas waktu yang realistis dengan memecah pekerjaan jadi beberapa bagian kecil dengan tenggat waktu yang ringan.
Baca Juga: Arti Video UKIN Hilang dari Sistem, Ternyata Bukan Pertanda Bapak Ibu Guru Lulus UKPPPG!
Kenali pemicu emosional diri yang menyebabkan menunda pekerjaan.
Batasi gangguan digital dengan menjauhkan ponsel dan atur lingkungan kerja supaya minim distraksi.
Kebiasaan-kebiasaan toxic yang muncul secara perlahan sampai kita tidak menyadari dampaknya sudah terasa pada mental kita.
Dengan mengenali kebiasaan yang rusak, kita bisa memilih langkah kecil untuk membebaskannya. ***




