POJOKSATU.id — Sindrom Tourette merupakan salah satu gangguan saraf yang hingga kini masih kerap disalahartikan oleh masyarakat.

Tidak sedikit orang yang menganggap kondisi ini hanya sebagai kebiasaan aneh, bahkan ada yang mengaitkannya dengan hal-hal mistis.

Padahal, secara medis, Tourette adalah gangguan neurologis yang nyata dan memiliki penjelasan ilmiah.

Baca Juga: Mau Pasang Behel? Ini Rincian Biaya Lengkap dan Estimasi Total yang Harus Disiapkan

Kondisi ini pertama kali dikenalkan oleh ahli saraf asal Prancis, Georges Gilles de la Tourette.

Ia menjelaskan bahwa sindrom ini ditandai oleh munculnya gerakan serta suara spontan yang berulang dan sulit dikendalikan oleh penderitanya.

Secara umum, ciri utama sindrom Tourette adalah munculnya tics, yaitu gerakan atau suara yang terjadi secara tiba-tiba tanpa disadari.

Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT April 2026 Mulai Cair, Cek Nama Kamu Sekarang!

Tics ini terbagi menjadi dua kategori utama, yakni tics motorik dan tics vokal.

Tics motorik biasanya berupa gerakan seperti berkedip berulang, mengangguk, mengangkat bahu, hingga perubahan ekspresi wajah yang terjadi tanpa kontrol.

Sementara itu, tics vokal dapat berupa suara seperti berdehem, batuk ringan, atau mengulang kata-kata tertentu secara spontan.

Namun demikian, perlu dipahami bahwa tidak semua penderita Tourette mengeluarkan kata-kata kasar.

Baca Juga: 12 PAC PPP Kota Bekasi Tolak SK Plt Ketua DPC, Ancam Mundur Massal

Kondisi tersebut hanya dialami oleh sebagian kecil kasus, sehingga tidak bisa dijadikan gambaran umum bagi seluruh penderita.

Hingga saat ini, penyebab pasti sindrom Tourette belum sepenuhnya diketahui.

Meski begitu, para ahli meyakini bahwa faktor genetik serta ketidakseimbangan zat kimia di otak, khususnya dopamin yang berperan dalam mengatur gerakan dan emosi, turut berkontribusi terhadap munculnya kondisi ini.

Baca Juga: TPP ASN Dipangkas 62 Persen, 3.000 Guru Honorer Kutim Tetap Terima Tunjangan, Ini Penjelasannya

Selain itu, gangguan pada bagian otak tertentu juga diduga memiliki peran dalam memicu gejala Tourette.

Kondisi ini umumnya mulai terlihat pada masa kanak-kanak, sekitar usia 5 hingga 10 tahun, dan lebih sering terjadi pada anak laki-laki.

Seiring waktu, gejala Tourette dapat mengalami perubahan, baik dari segi jenis maupun tingkat keparahannya.

Baca Juga: TPG April 2026 Tak Cair Secepat Maret, Ini Penjelasan Juknis Terbaru dan Strategi Guru Atur Keuangan Agar Tetap Aman Stabil

Pada sebagian penderita, gejala dapat berangsur membaik saat memasuki usia dewasa, meskipun ada juga yang tetap mengalaminya.

Sindrom Tourette juga sering muncul bersamaan dengan gangguan lain, seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder dan Obsessive-Compulsive Disorder.

Kedua kondisi ini dapat memengaruhi konsentrasi, perilaku, serta aktivitas sehari-hari penderitanya.

Dalam proses diagnosis, dokter umumnya akan menilai riwayat gejala yang dialami pasien.

Baca Juga: AS Klaim Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz Bersihkan Ranjau, Jubir Ebrahim Zolfaghari Membantah

Seseorang dapat didiagnosis mengalami Tourette apabila memiliki tics motorik dan vokal selama lebih dari satu tahun, dengan gejala yang muncul sebelum usia 18 tahun.

Meskipun belum ada terapi yang dapat menyembuhkan sepenuhnya, sindrom Tourette tetap dapat dikelola.

Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah terapi perilaku seperti CBIT (Comprehensive Behavioral Intervention for Tics), yang bertujuan membantu penderita mengendalikan tics secara bertahap.

Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat meresepkan obat-obatan untuk meredakan gejala, terutama jika tics sudah cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Selain penanganan medis, peran lingkungan juga sangat penting. Dukungan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat membantu penderita Tourette menjalani kehidupan yang lebih nyaman dan meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Baca Juga: AS Klaim Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz Bersihkan Ranjau, Jubir Ebrahim Zolfaghari Membantah

Berbagai lembaga kesehatan dunia seperti Centers for Disease Control and Prevention, Mayo Clinic, serta National Institute of Neurological Disorders and Stroke menegaskan bahwa Tourette bukanlah gangguan mental, melainkan kondisi neurologis yang dapat dikelola dengan penanganan yang tepat.

Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan masyarakat tidak lagi memberikan stigma negatif terhadap penderita sindrom Tourette.

Sebaliknya, empati dan dukungan menjadi kunci agar mereka dapat menjalani hidup secara optimal.***