POJOKSATU.id — Tidak sedikit masyarakat yang masih beranggapan bahwa hewan yang terinfeksi rabies pasti menunjukkan perilaku ganas dengan mulut berbusa.
Faktanya, tanda-tanda rabies pada hewan tidak selalu mudah dikenali seperti anggapan umum tersebut.
Dalam sejumlah kondisi, hewan yang terpapar virus rabies justru terlihat lemas, mengalami perubahan perilaku, hingga menunjukkan gangguan pada sistem saraf yang sering kali luput dari perhatian.
Baca Juga: Cara Naik Bus Atap Terbuka Keliling Jakarta 2026, Gratis atau Bayar? Ini Rute dan Tipsnya
Rabies merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan menyerang sistem saraf pusat pada mamalia.
Virus ini dapat menginfeksi berbagai jenis hewan seperti anjing, kucing, monyet, hingga kelelawar, bahkan berpotensi menular kepada manusia.
Penularannya umumnya terjadi melalui gigitan, cakaran, atau paparan air liur dari hewan yang telah terinfeksi.
Baca Juga: Tak Bantah Punya Kekasih Baru, Ayu Ting Ting: Emang Gue Enggak Boleh Buka Hati?
Mengingat dampaknya yang bisa berakibat fatal apabila tidak segera ditangani, masyarakat perlu memahami tanda-tanda hewan yang diduga terkena rabies.
Mengenali gejala sejak dini menjadi langkah penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko penularan dapat diminimalkan.
Salah satu gejala awal yang kerap muncul pada hewan rabies adalah perubahan perilaku secara tiba-tiba.
Baca Juga: Jakarta Masih Jadi Ibu Kota, Lalu Bagaimana Nasib IKN? Ini Penjelasannya
Hewan yang sebelumnya jinak dapat berubah menjadi lebih agresif, mudah marah, atau menyerang tanpa pemicu yang jelas.
Namun, kondisi sebaliknya juga bisa terjadi. Hewan yang biasanya aktif dan lincah justru mendadak menjadi pendiam, menghindari interaksi, dan cenderung menyendiri.
Perilaku agresif yang disertai kebiasaan menggigit secara tiba-tiba juga patut diwaspadai.
Hewan yang terinfeksi rabies dapat menyerang manusia, hewan lain, bahkan benda-benda di sekitarnya tanpa alasan jelas.
Baca Juga: Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran Memukau Warga, Ekonomi UMKM Sumedang Kian Menggeliat
Pada fase ini, hewan biasanya tampak gelisah dan sulit dikendalikan.
Selain itu, produksi air liur yang berlebihan hingga membuat mulut tampak berbusa juga menjadi salah satu tanda umum rabies.
Kondisi ini terjadi karena virus menyebabkan gangguan pada kemampuan menelan, sehingga air liur menumpuk dan keluar lebih banyak dari biasanya.
Ketika infeksi semakin berkembang dan mulai menyerang saraf, hewan dapat mengalami gangguan koordinasi tubuh.
Mereka terlihat berjalan sempoyongan, kehilangan keseimbangan, hingga mengalami kelumpuhan, terutama pada bagian kaki atau rahang.
Perubahan suara juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
Pada anjing atau kucing, suara gonggongan maupun mengeong bisa terdengar lebih serak, berbeda, atau tidak seperti biasanya.
Di sisi lain, perubahan pola makan juga sering ditemukan pada hewan yang terpapar rabies.
Baca Juga: Kapolres Madina Datangi Kantor SMSI, Ajak Bentengi Masyarakat dari Berita Hoaks
Sebagian hewan kehilangan nafsu makan, sementara lainnya justru menunjukkan perilaku tidak biasa dengan menggigit atau mengunyah benda-benda yang tidak lazim.
Gejala lain yang tak kalah penting adalah perubahan respons terhadap lingkungan sekitar.
Hewan bisa terlihat linglung, berjalan mondar-mandir tanpa arah, tampak ketakutan terhadap cahaya atau suara, serta menunjukkan perilaku yang tidak biasa.
Meski demikian, masyarakat perlu memahami bahwa rabies tidak selalu membuat hewan menjadi ganas.
Baca Juga: IRRI Puji Swasembada Pangan Indonesia, Sebut Fondasi Pertanian Modern Mulai Terbangun
Dalam beberapa kasus, hewan justru terlihat lemah, lumpuh, dan lebih banyak diam. Kondisi inilah yang sering membuat rabies terlambat disadari.
Apabila seseorang mengalami gigitan atau cakaran dari hewan yang dicurigai terinfeksi rabies, langkah pertama yang disarankan adalah segera mencuci area luka menggunakan sabun di bawah air mengalir selama kurang lebih 15 menit.
Setelah itu, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan perlu segera dilakukan untuk mendapatkan penanganan medis yang sesuai.
Baca Juga: Rafael Situmorang Soroti Ancaman Media Sosial, DPRD Jabar Dorong Penguatan Penyiaran
Rabies termasuk penyakit berbahaya yang dapat mengancam nyawa.
Namun, risiko fatalnya bisa ditekan apabila penanganan dilakukan dengan cepat dan tepat.
Oleh sebab itu, perubahan perilaku pada hewan peliharaan maupun hewan liar di sekitar lingkungan sebaiknya tidak dianggap sepele.***




