POJOKSATU.id — Strict Parents, ketahui ciri-ciri dan dampaknya bagi anak.

Pola asuh orang tua memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan tumbuh kembang anak.

Salah satu pola yang kerap menjadi sorotan adalah pola asuh otoriter atau dikenal juga dengan sebutan strict parenting.

Di Indonesia, fenomena ini masih kerap terjadi, bahkan tak jarang disalah artikan sebagai bentuk kasih sayang yang penuh aturan.

Strict parents adalah orang tua yang menerapkan disiplin tinggi dan aturan ketat kepada anaknya.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Jadi Program Sosial, Ternyata Bukan Bagian dari Sistem Pendidikan Nasional?

Tujuannya agar anak tumbuh menjadi pribadi yang patuh dan berprestasi.

Namun, dibalik niat baik tersebut, pola asuh ini menyimpan sejumlah risiko serius bagi kesehatan mental dan perkembangan sosial anak.

Ciri-Ciri Strict Parents

Pola asuh strict parenting biasanya ditandai dengan minimnya komunikasi dua arah dan dominasi orang tua terhadap keputusan anak.

Beberapa ciri umumnya meliputi:

Baca Juga: Anak-anak Susah Konsentrasi saat Belajar? Ini 7 Tips Ampuh Menghadapi Anak Malas

  • Anak wajib patuh pada semua aturan orang tua.
  • Tidak ada toleransi untuk kesalahan atau kegagalan anak.
  • Anak menerima hukuman keras jika melanggar aturan.
  • Orang tua sering mendikte, seperti: "Duduk tegak!" atau "Jangan seret kaki!"
  • Anak tidak diberi ruang untuk berekspresi, memilih hobi, atau bersosialisasi
  • Kurangnya apresiasi terhadap proses; hanya fokus pada hasil.
  • Komunikasi satu arah dan minim empati dari orang tua.
  • Ciri-ciri tersebut umumnya berasal dari pengalaman masa kecil orang tua sendiri, yang kemudian mereka wariskan tanpa disadari.

Dampak Strict Parenting bagi Anak

Meskipun strict parenting dapat membentuk anak menjadi ambisius, namun dampak negatifnya lebih dominan, antara lain:

1. Kesulitan Membuat Keputusan


Anak terbiasa diarahkan dan tidak memiliki ruang untuk berpikir mandiri, sehingga ia akan kebingungan ketika harus memilih sendiri.

Baca Juga: 75 Ribu Buruh Siap Kepung Istana 15—25 Agustus! Tuntut Penghapusan Outsourcing dan Tolak PHK Massal

2. Prestasi Akademik Menurun

Tekanan dari orang tua membuat anak belajar bukan karena motivasi internal, melainkan paksaan, yang bisa menurunkan semangat belajar.

3. Mudah Marah dan Agresif

Anak yang terus ditekan dan dikekang rentan mengalami ledakan emosi.

Ia bisa menjadi kasar, sulit bersosialisasi, atau bahkan memberontak.

Baca Juga: KAI Daop 3 Cirebon Salurkan Bantuan untuk Perpenka melalui Program TJSL

4. Kehilangan Kepercayaan Diri

Tanpa kesempatan untuk mencoba dan gagal, anak akan tumbuh dengan rasa takut salah dan rendah diri.

Saatnya Berubah: Dari Strict ke Supportive

Kesadaran akan pola asuh sangat penting bagi setiap orang tua di Indonesia.

Pola otoriter yang terlalu ketat justru dapat menghambat potensi anak.

Daripada terus menerus menuntut dan mengontrol, alangkah lebih baik membangun komunikasi terbuka dan memberikan kepercayaan agar anak belajar mandiri.

Jika anak menunjukkan gejala-gejala seperti mudah marah, tidak percaya diri, atau sulit mengambil keputusan, orang tua sebaiknya segera berkonsultasi ke psikolog.

Ini bukan hanya demi masa depan anak, tetapi juga membantu orang tua menjadi lebih bijak dalam membimbing anak.***

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.promedia.pojoksatu

versid iOS: https://apps.apple.com/app/pojok-satu/id6670306141

Channel Whatsapp: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaizUTRDjiOXHsJCgQ2E

Fanpage edugov: https://www.facebook.com/profile.php?id=61575904868212