POJOKSATU.id - Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) menjadi salah satu masalah pencernaan yang umum terjadi.
Gejala paling khas adalah rasa terbakar di dada atau heartburn. Lalu, bagaimana dampaknya saat bulan puasa?
GERD atau penyakit refluks gastroesofagus adalah kondisi ketika asam lambung naik ke esofagus atau kerongkongan sehingga menyebabkan iritasi pada dindingnya.
Baca Juga: H-1 Batas Akhir Pemanggilan PPG Guru Tertentu Tahap 1 Tahun 2026: Segera Cek Akun SIMPKB Anda!
Kondisi ini terjadi karena katup antara lambung dan kerongkongan, yang disebut sfingter esofagus bagian bawah, tidak berfungsi dengan baik.
Akibatnya, asam lambung yang seharusnya tetap berada di lambung justru naik dan memicu berbagai keluhan.
Tanda dan Gejala yang Perlu Diwaspadai
Selain heartburn, gejala lain yang sering muncul adalah regurgitasi, yakni keluarnya makanan atau cairan dari perut ke mulut, serta kesulitan menelan.
Baca Juga: Panduan Lengkap Tata Cara dan Persyaratan Lapor Diri PPG Tahap 1 2026
Segera konsultasi ke dokter jika muncul gejala seperti:
- Mual dan muntah, terutama setelah makan
- Sesak napas akibat refluks memengaruhi saluran napas
- Suara serak atau radang tenggorokan
- Kesulitan menelan karena iritasi kerongkongan
Gejala yang berulang dan tidak ditangani dapat mengganggu kualitas hidup, termasuk saat menjalankan ibadah puasa.
Faktor Penyebab GERD
Salah satu penyebab utama GERD adalah disfungsi sfingter esofagus bagian bawah. Ketika katup ini tidak menutup dengan baik, asam lambung mudah naik.
Baca Juga: Heboh! Truk Susu Terguling di Ponorogo, Warga Malah Ramai-ramai Menjarah Muatan yang Berserakan
Faktor lain yang turut memicu antara lain:
- Obesitas, karena lemak perut meningkatkan tekanan pada lambung
- Konsumsi makanan berlemak, pedas, asam, tinggi kafein, dan beralkohol
- Stres dan kebiasaan merokok yang memengaruhi produksi asam lambung
Pada seseorang dengan riwayat GERD, kebiasaan sehari-hari sangat berpengaruh terhadap kambuh tidaknya gejala.
Dampak GERD Saat Puasa
Bagi pengidap GERD, puasa bisa menjadi tantangan tersendiri. Perubahan pola makan dan jam tidur dapat memicu kambuhnya gejala jika tidak dikelola dengan baik.
Baca Juga: Wajib Tahu! 9 Aspek di Sekolah yang Ternyata Berpengaruh Besar pada Masa Depan Murid di Sulingjar
Berikut beberapa dampak yang dapat terjadi selama puasa:
1. Meningkatnya Risiko Refluks Asam
Saat puasa, lambung kosong dalam waktu lama. Ketika berbuka, banyak orang makan dalam porsi besar dan cepat.
Kondisi ini meningkatkan tekanan pada lambung dan memicu refluks asam. Apalagi jika makanan yang dikonsumsi berat, berminyak, atau berlemak tinggi.
2. Perubahan Pola Makan
Selama Ramadan, sebagian orang cenderung mengonsumsi makanan pedas, asam, atau tinggi lemak saat berbuka dan sahur.
Kebiasaan ini dapat memperburuk kondisi GERD dan memicu gejala kambuh.
3. Dehidrasi
Tubuh membutuhkan cairan cukup agar sistem pencernaan bekerja optimal. Dehidrasi dapat mengurangi kemampuan tubuh menetralkan asam lambung yang naik ke kerongkongan.
Akibatnya, gejala terasa lebih intens.
4. Gangguan Tidur
Gejala GERD sering kali memburuk saat berbaring. Setelah berbuka, sebagian orang langsung rebahan atau tidur lebih cepat.
Posisi berbaring dalam waktu lama meningkatkan risiko asam lambung naik, sehingga tidur menjadi tidak nyaman.
Penyebab Asam Lambung Naik Saat Puasa
Naiknya asam lambung saat puasa bukan tanpa alasan. Beberapa faktor yang sering terjadi antara lain:
Baca Juga: Mengenal Sekolah Terintegrasi, Pilar Baru Pemerataan Kualitas Pendidikan oleh Kemendikdasmen
1. Makan berlebihan saat berbuka atau sahur. Perut memang elastis, tetapi memiliki batas. Jika terlalu penuh, produksi asam lambung meningkat dan menumpuk.
2. Konsumsi makanan pemicu seperti gorengan, santan, makanan pedas, asam, kopi, cokelat, teh, mint, makanan cepat saji, atau makanan berkeju.
3. Tidur setelah makan. Kebiasaan langsung rebahan setelah sahur atau berbuka dapat memicu refluks asam.
Baca Juga: Guru Besar UGM Usul Penerbitan SIM dan STNK Dari Polri Dialihkan ke Pemda
Perut yang kosong lebih dari 12 jam juga dapat meningkatkan produksi asam lambung. Ditambah perubahan jam tidur dan pola makan yang kurang sehat, risiko sakit maag pun meningkat.
Apakah Penderita GERD Boleh Puasa?
Penderita GERD tetap diperbolehkan berpuasa. Bahkan, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Acta Medica Indonesiana - The Indonesian Journal of Internal Medicine menyebut bahwa puasa dapat membantu meredakan gejala asam lambung naik.
Hal ini terjadi karena selama puasa, banyak orang mengurangi kebiasaan merokok, lebih teratur makan, dan berusaha mengelola stres. Perubahan gaya hidup ini justru berdampak positif bagi penderita GERD.
Baca Juga: Memahami Perbedaan PrEP dan ARV: Pencegahan vs Pengobatan HIV
Tips Mengelola GERD Selama Puasa
Agar puasa tetap nyaman, berikut langkah yang bisa dilakukan:
Makan dalam porsi kecil saat berbuka untuk mencegah lambung terlalu penuh. Hindari makanan berlemak, gorengan, pedas, asam, dan minuman berkafein.
Makanlah secara perlahan dan kunyah dengan baik agar proses pencernaan optimal.
Baca Juga: Buntut Tewasnya Anak MTsN Tual Maluku, Pengawas Polisi Desak Brimob Tak Dihadapkan dengan Sipil
Minum cukup air putih di antara waktu berbuka dan sahur untuk mencegah dehidrasi. Minumlah sedikit demi sedikit sepanjang malam.
Jika gejala muncul saat hendak tidur, posisikan kepala lebih tinggi dengan tambahan bantal untuk mencegah asam naik.
Baca Juga: Parpol Berebut Kursi Cawapres 2029, Prabowo Hampir Bisa Dipastikan Menang Mudah
Atur menu sahur dengan memilih makanan ringan, seperti nasi merah, sayuran, dan protein rendah lemak. Pilih makanan yang mudah dicerna dan kaya serat.
Beberapa cara mencegah asam lambung naik selama puasa antara lain:
- Hindari makan berlebihan saat berbuka dan sahur
- Konsumsi makanan tinggi serat dan karbohidrat kompleks
- Hindari makanan pedas, tinggi lemak, dan asam
- Konsumsi probiotik seperti yoghurt
- Awali berbuka dengan makanan ringan yang sehat
- Beri jeda sebelum makan besar setelah shalat
- Hindari tidur minimal dua jam setelah makan
- Atur posisi tidur setengah duduk
- Kendalikan stres dan emosi
- Hindari merokok dan minuman berkafein atau beralkohol
- Hindari aktivitas fisik berlebihan
- Rutin konsumsi obat GERD sesuai resep dokter
Baca Juga: Menghidupkan Ramadan 1447 H, Ini 5 Amalan Setelah Salat Subuh, Lengkap Bacaan Zikir dan Doanya
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penyebab asam lambung naik saat puasa umumnya berasal dari pola makan yang tidak tepat dan kebiasaan setelah makan.
Padahal, puasa sendiri memiliki manfaat bagi penderita GERD jika dijalani dengan pola hidup yang lebih sehat dan teratur.
Baca Juga: Pertunjukan Darurat
Puasa bukan musuh bagi pengidap GERD. Justru dengan pengelolaan yang bijak, Ramadan bisa menjadi momentum memperbaiki gaya hidup dan menekan risiko kambuhnya asam lambung. ***




